Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Penyabar, Dan Gila!


__ADS_3

Di keheningan malam pada keesokan harinya, sekitar jam setengah empat, aku terbangun karena rasa kepingin pipis yang menggangguku, membangunkan aku dari tidurku yang lelap. Hari itu adalah hari ke empatku sebagai pengantin baru yang biasanya terbangun dan mendapati suamiku ada di sisi. Namun kali ini, aku mendapati diriku tengah sendirian di dalam kamar. Dengan malas, aku pun beringsut bangun dan turun dari ranjang.


"Mas, kamu di dalam, ya?" tanyaku seraya mengetuk pintu kamar mandi. Namun, tak ada sahutan. Mas Ilham tidak ada di dalam, pikirku. Aku pun langsung membuka pintu kamar mandi itu dan lekas masuk, menuntaskan hajat.


Setelah lega, aku pun keluar dari kamar mandi dan masih mendapati kamarku yang lengang.


"Kemana, sih? Lagi ngapain juga sampai harus keluar dari kamar segala?"


Dengan rasa kantuk yang masih menguasai diri, aku berjalan ke arah pintu, mengambil jubahku dan mengenakannya, lalu aku pun keluar dari kamar. Sambil berpegangan, aku menuruni anak tangga setapak demi setapak. Rasanya aneh, aku belum pernah keluar dari kamar pada jam begini, apalagi mesti menyusuri ruangan demi ruangan yang gelap di rumah baru ini, sendirian pula. Aku bergidik ngeri.


"Mas... kamu di mana?" seruku.


Suara Mas Ilham pun terdengar dari arah dapur. "Aku di sini, Sayang. Aku di dapur...," sahutnya, dengan sebuah ponsel dalam genggaman tangan yang barusan menempel di telinga, berikut jawaban salam yang diucapkan Mas Ilham sebelum ia menaruh ponsel itu ke atas counter dapur. Dan, aku sempat melihatnya, karena cahaya lampu di ruang dapur itu terang benderang, tidak seperti di ruangan lain yang lampunya tidak dinyalakan.


"Kamu lagi apa?" tanyaku. "Teleponan? Dengan siapa?" Aku berdiri kaku di dekat meja makan.


Mas Ilham menyahut santai, "Umi," katanya.


"Umi?"


"Iya... Umi, Sayang...."


"Serius, jam segini teleponan sama Umi?"


"Iya, serius."


"Kamu tidak...?"


"Mau bukti? Hmm?"


Mas Ilham kembali mengambil ponselnya. Dengan menyunggingkan sedikit senyuman, ia menghampiriku dan menunjukkan daftar panggilan dari ponselnya.


"Ini, lihat baik-baik," katanya. "Namanya, fotonya, nomor ponselnya, dan waktu panggilan masuk: jam tiga lewat empat puluh menit. Kalau masih mau bukti, kamu telepon, suara Umi atau bukan?"


Praktis aku menggeleng cepat-cepat. "Tidak perlu begitu juga, Mas," tolakku. "Masa aku mesti sampai menelepon Umi? Nanti dikiranya kalau aku ini...."

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Biar kamu percaya seratus persen kepadaku. Hmm?"


"Em, aku... aku percaya, kok. Tapi memangnya ada apa, kalau aku boleh tahu?"


"Bukan apa-apa," sahutnya lagi, lalu ia menaruh ponselnya ke atas meja kemudian berjalan ke arah lemari es. "Umi hanya mengingatkan aku untuk puasa senin. Jangan menghilangkan kebiasaan katanya. Jangan mentang-mentang...." Mas Ilham tertawa kecil dan berpaling ke arahku. "Kamu mengerti, kan? Jangan mentang-mentang sudah mencicipi kenikmatan itu, aku jadi melupakan kebiasaanku."


Huffft... tidak bisa kupungkiri, ada suatu kelegaan besar yang kurasakan, seolah tadi itu aku berpikiran bahwa Mas Ilham sudah melakukan hal yang tidak-tidak di belakangku. Yeah, meski aku tidak berniat begitu, dan tidak berniat berpikiran atau memiliki pikiran seperti itu. Semuanya terjadi secara alami hanya karena suamiku tidak berada di dalam kamar saat aku terbangun. Dan, justru dia malah berada di lantai bawah, di ruangan paling belakang itu, pula. Plus sedang menelepon -- yang seolah langsung diputuskan ketika aku berada di sana.


"Oh," *esahku akhirnya. "Jadi kamu... mau puasa?"


Alamat salah tingkah, sebab aku jadi tidak enak hati dikarenakan -- sadar atau tidak -- aku telah berburuk sangka meski tidak kucetuskan. Untungnya Mas Ilham tipe lelaki penyabar yang pandai mengontrol diri. Jika tidak, atau jika ia bertabiat seperti lelaki pada umumnya, pastilah ia akan tersinggung, dan mungkin saja langsung marah-marah ketika mendengar kalimat pertanyaanku yang merujuk ke arah negatif -- curiga tanpa alasan yang jelas.


"Iya. Dan aku mau sahur." Dia mengambil tiga butir telur berikut sebatang kecil wortel plus daun bawang dari dalam kulkas, lalu menunjukkannya kepadaku. "Mau masak telur dadar."


Praktis aku tersadar bahwa kami tidak punya lauk sisa makan malam untuk ia bersantap sahur. "Biar aku saja, Mas. Aku saja yang masak," kataku.


Uh, akhirnya kakiku tergerak juga dari keterpakuan.


Sambil menyambut telur, wortel, dan daun bawang dari tangan Mas Ilham, lalu membawa dan mencucinya di wastafel, aku pun menyampaikan permintaan maafku kepada Mas Ilham atas ketidaktahuanku pada kebiasaan puasa sunahnya. "Kalau aku tahu kamu mau puasa sunah, aku akan memasakkan lauk sebelum aku tidur tadi. Maaf, ya?"


"Ya, tapi aku tidak enak, Mas. Seolah aku tidak mengurus Mas Ilham dengan baik. Apalagi sampai membiarkan Mas masak dan sahur sendiri. Aku kan istri."


Aaaaah... aku benar-benar merasa tidak enak. Hiks!


"Tidak apa-apa, Sayang. Santai. Kocoknya pelan-pelan saja."


Eh?


Praktis aku menoleh. "Kamu ih...! Aku lagi serius begini...," rengekku.


"Lo? Kenapa? Ada yang salah?" Dia pun terkikik. "Pikiranmu itu, lo, Sayang, yang salah. Aku kan cuma bilang kocoknya yang pelan."


Argh!


"Konotasinya berbeda, Mas...! Lagipula aku belum ngocok...!"

__ADS_1


"Belum, ya?" Dia menghampiriku, lalu berbisik, "Mau ngocok sekarang?"


"Ya Allah...," tak hentinya aku merengek manja karena memiliki suami super edan seperti Mas Ilham.


Yap, pria dewasa itu benar-benar tak kehabisan cara menunjukkan kegilaannya. Aku baru saja hendak menambahkan garam ke dalam mangkuk adonan telur dadarku ketika Mas Ilham menarik turun jubahku hingga terlepas. "Lakukan sekarang, Sayang," katanya bicara pelan di telingaku. Lalu, Mas Ilham malah meraih tanganku dan... mengarahkannya ke sana. Ke balik jubahnya.


Euw! Auto pingin nyemplungin garam satu bungkus ke dalam adonan telur dadar. Sebaaaaal... mau masak diganggu begini.


"Aku mau masak ini dulu...," protesku.


"Yakin?" Dia memutarku menghadapnya.


"Em, kamu kan mau sahur."


"Aku ingin sahur dengan tubuh istriku. Milikku yang paling nikmat dan yang paling manis."


Dan, ukh!


Mas Ilham menyentakku ke dalam pelukannya, dengan sorot matanya yang dalam dan menatap lekat kepadaku, ia berkata, "Aku tidak suka dibantah, dan aku tidak suka kamu menolakku. Ingat itu baik-baik, Zahra."


Hmm....


"Iya, maaf. Aku salah. Aku tidak menolak."


"Bagus. Jadi...? Please...?"


"Iya, Mas...." Kuaktifkan tanganku untuknya.


"Terima kasih, Sayang. Kamu... istri pengertian."


Dan... dia terbuai. *rangan halus pun terdengar dari tenggorokannya sebelum akhirnya dia kembali memutarku membelakanginya, mencondongkan tubuhku dan menguasaiku di bawah himpitan tubuhnya yang berat dan kekar.


Aku pasrah. Benar-benar, ya. Tempat masak pun ia jadikan tempat bercinta. Tapi... yeah, tetap saja, kegilaannya itu menjadikan pagi yang masih gelap ini mendadak hangat karena cintanya yang luar biasa.


Oh, suamiku. Dia sungguh gila!

__ADS_1


__ADS_2