Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Ikhlas


__ADS_3

Kubuka kembali mataku perlahan.


Cahaya putih memenuhi mataku. Perlahan-lahan, benda-benda mulai terlihat jelas dan cahaya putih mulai surut. Sekarang merah jambu kejingga-jinggaan. Kugerakkan mataku ke sana kemari. Aku berada di rumah sakit. Ada televisi menggantung tinggi di dinding. Layarnya gelap, yang berarti benda itu tak menyala.


Di sampingku, Mas Ilham masih terduduk diam, namun air matanya masih terus mengalir seakan tak mau berhenti. Dia masih menggengggam tanganku yang ia tempelkan di dahinya, di antara kedua matanya yang terpejam.


"Mas," aku memanggilnya. Aku merasa seolah sudah lama sekali tidak berbicara, dan kukira suaraku akan serak. Tapi ternyata tidak. Suaraku bening, mengalir keluar seperti madu. Seakan-akan tidak ada yang terjadi.


Tentu saja, ini keadaan yang nyaris berbeda sepenuhnya dengan kecelakaan yang kualami sebelumnya. Waktu itu aku terluka sendiri, tidak seperti sekarang. Aku kehilangan nyawa di rahimku. Rasanya seakan lebih sakit daripada aku mesti kehilangan nyawaku sendiri. Dan tentu saja, selain aku yang terbaring lemah, yang sama adalah: ketika aku membuka mataku, baik waktu itu ataupun sekarang: ada dia, Ilham-ku, tepat berada di sampingku. Meski waktu itu ia tidak menangis, tidak seperti saat ini. Pasti dokter mengatakan kepadanya bahwa harapan hidupku hanya sedikit, sebab pasiennya sendiri yang tidak ingin berjuang untuk hidup. Seperti yang sering dipertontonkan di dalam senetron, bukan?


"Zahra, kamu sadar. Alhamdulillah." Dia tersenyum, namun senyum itu segera memudar, berganti sorot mata dengan tatapan cemas. Dia memandangiku dengan khawatir.


Aku tahu. Aku tahu apa yang akan kuhadapi. Kenyataan ini, kenyataan yang....

__ADS_1


"Bagaimana perasaanmu? Maksudku... apa yang kamu rasakan? Emm... haus? Mau minum?"


Aku menggeleng. Air mataku menetes. Tidak akan mungkin merasa lebih baik. Tidak akan pernah karena aku tahu pasti bahwa aku sudah kehilangan janinku.


"Jangan menangis, Sayang. Kamu tahu, kan, aku tidak suka melihatmu menangis? Aku tidak ingin melihat air matamu."


Tapi aku tidak mungkin tidak menangis. Aku kehilangan anakku. Malaikat kecil yang bahkan belum pernah kudengar detak jantungnya. Tanganku bergerak, memegangi perut -- dengan kepedihan.


"Zahra, kamu... emm... kamu...." Dia meneguk ludah dengan susah payah, sementara alis tebalnya yang berantakan mengerut hingga menyembunyikan matanya yang seperti kaca. "Kita... kita kehilangan...."


Yeah, suara Mas Ilham parau ketika kembali bicara. "Belum rizki kita. Kita harus sabar. Harus ikhlas. Inshaallah, nanti Allah menggantinya."


Bibir bawahku masih bergetar dan tanganku otomatis mencengkeram selimut yang menutupi perut. Kupandangi Mas Ilham penuh harap, betapa menyadari bahwa aku masih berharap, betapa aku menginginkan bahwa kejadian mengerikan ini hanyalah mimpi buruk semata.

__ADS_1


Mas Ilham menggeleng dengan sedih. Bibirku semakin bergetar sekarang, naik-turun dan tidak bisa kuhentikan. Tubuhku berguncang hebat dan tidak bisa kuhentikan juga. Air mata menggenang, namun kuhentikan gulirnya. Kalau kumulai sekarang, mungkin aku tidak akan pernah berhenti.


Aku mengeluarkan bunyi-bunyian. Bebunyian tak biasa yang belum pernah kudengar. Mengeran*. Menggerung. Kombinasi keduanya. Mas Ilham meraih tanganku dan menggenggamnya erat-erat. Rasa kulitnya membawaku kembali ke kesadaran. Kali ini ia tidak mengucapkan apa-apa. Apa yang dapat dikatakan? Aku bahkan tidak tahu. Dia hanya memelukku: pelukan yang begitu erat.


Aku tahu bagaimana perasaanmu, pelukan erat itu berkata, aku tahu bagaimana perasaanmu.


Maafkan aku. Maafkan aku, pelukanku membalasnya: menjawab kalimat yang tak terucap.


Beberapa menit -- yang cukup lama, Mas Ilham melepaskan pelukannya. Dia mencium keningku, dengan bibirnya yang juga terasa gemetar. Setelahnya, dia memandangiku dengan begitu dalam.


Semuanya akan baik-baik saja, matanya berkata, dan genggaman tangannya berusaha meyakinkan. Dan aku hanya mengangguk. Mengangguk paham, juga berusaha meyakini.


"Ikhlas, Sayang."

__ADS_1


Aku kembali mengangguk. Dan dalam hati aku berkata: Ya, aku ikhlas. Semuanya pasti akan baik-baik saja....


__ADS_2