
Sebenarnya aku tidak pernah tahu kenapa bagi kaum lelaki diutamakan untuk salat berjamaah di masjid, sedangkan bagi kaum perempuan diutamakan untuk salat di rumah. Dan, persoalan yang selama ini tidak pernah menjadi pikiran bagi otakku, kini aku memikirkannya. Sebab, saat ini -- ini subuh pertamaku berjamaah dengan Mas Ilham, dia mengatakan kepadaku bahwa: besok-besok dia akan salat subuh, magrib, dan isya di masjid, termasuk salah zuhur. Kecuali, di hari libur di mana kami berdua sama-sama tidak ada jam mengajar, maka dia akan salat zuhur di rumah. Tapi, dia menjanjikan kepadaku bahwa dia akan selalu mengusahakan salat asar bersamaku, dan menjadi imam salatku. Namun, ada kalanya, dia juga akan mengimami salat subuh dan magribku sesekali.
"Inshaallah, sebisa mungkin aku akan selalu bersikap adil kepadamu."
Eh?
"Apa itu maksudnya, Mas? Aku sensi lo kalau kamu bahas-bahas tentang keadilan."
Mas Ilham terkikik. "Ya ampun, Sayang...." Dia mencubit gemas kedua pipi tembamku. "Maksudku... adil dalam hal ibadah. Keseimbangan antara fitrahku sebagai seorang muslim dan fitrahku sebagai seorang suami dan kepala rumah tangga. Bukan soal itu yang kamu takutkan."
Aku tetap merengut. "Awas saja," kataku.
Dan, pada detik itu Mas Ilham menyambarku hingga kami berdua terguling dan bertindihan di lantai. Dasar edan. "Jangan meragukanku," katanya, ucapannya nyaris seperti ancaman dan bukan permohonan.
"Ih... bangun...," rengekku.
"Bilang iya dulu," paksanya.
"Iya apa?"
"Jangan meragukan aku, Zahra."
"Iya, Mas...."
"Iya apa?"
"Iya... aku tidak akan meragukan kesetiaanmu, oke?"
"Bagus. Perlu diingat dan dicamkan. Jangan meragukan kesetiaanku. Paham?"
Ih, dasar. Dia membuatku geli bercampur ngeri. Aku pun mengangguk. "Iya, Mas Ilham... aku paham," kataku.
Tapi dia tak kunjung beranjak, justru sebaliknya, Mas Ilham menindihku sungguhan. Maksudku, benar-benar menumpangkan keseluruhan bobot tubuhnya di atas tubuhku. Berat? Jangan ditanya.
__ADS_1
Ya ampun... Mas Ilham menciumku, dan telapak tangannya menangkup saharaku, dengan ringan mengelusnya, menimbulkan getaran yang perlahan-lahan merasuki jiwaku. Aku membuka mulutku untuk bernapas, dan Mas Ilham menciumku lagi -- dengan lidahnya, menyeruak masuk, menyelidiki bagian dalam mulutku. Dia memenuhiku dalam segala cara, seakan bermaksud agar tubuh kami -- bukan, jiwa kami -- meleleh menjadi satu.
"Mas... kamu apa-apaan, sih...?" pekikku.
Dia cengar-cengir. "Memangnya kenapa? Ada yang salah?"
"Bukan... bukan salah."
"Lah, terus?"
"Ya... bukankah ini tidak sopan? Kita masih di atas sajadah, lo. Aku juga masih memakai mukena."
Sambil tetap cengar-cengir, Mas Ilham mengangguk-angguk. "Oke," sahutnya. Lalu dia kembali duduk tegak. Dan...
Ih... dia membuatku panik. Tangan Mas Ilham langsung menyelinap ke bawah punggung dan pahaku, dia menggendongku ke atas ranjang dan membuka mukenaku.
"Nah, kita sudah tidak di atas sajadah, dan kamu sudah tidak memakai mukena."
"Aku mau...." Wajahnya semakin mendekat. "Kamu. Hanya kamu. Zahra. Aku mau kamu."
Dasar gilaaaaa...!
Adegan tindih-tindihan kembali berlangsung. Dengan cepat, baju terusanku tersingkap dan terlepas dari tubuhku.
"Ya ampun, Mas. Apa kamu tidak capek?"
Dia pura-pura tuli, dan langsung melepas pakaiannya. "Diam saja dan menurut padaku," perintahnya.
Ya sudahlah, aku pasrah saja. Dengan waktu singkat, Mas Ilham sudah membuat diri kami berdua kembali polos. Lalu, dia merangkak ke atas tubuhku.
"Zahra, please... ikhlas, ya, Sayang?"
Iyuuuh...! Dasar Mas Ilham...! Pipiku jadi panas dan senyumku tak terhindar. Sampai pada akhirnya, aku mampu meredam senyum dan menguasai diriku kembali.
__ADS_1
"Iya, Mas... aku ikhlas. Apa pun untukmu."
Persis di saat itu Mas Ilham kembali menciumku. Mencicip dan merasai rasaku lagi. Lidahnya semakin ahli bermain-main di dalam kerongkonganku dan menyapu liar lidahku, bahkan ia menarik lidahku ke dalam mulutnya.
Setelah berhasil membuatku engap, dia menyusurkan bibir manisnya ke sisi pipi kiriku dan berhenti di tengkuk leherku. Lagi dan lagi, dia membenamkan giginya di sana. *engisapku lagi dengan kuatnya. Napasku jadi sesak, Mas Ilham tak sekadar singgah di leherku, tapi juga melampiaskan rasa gemasnya terhadapku melalui kedua tangannya yang aktif.
Kemudian, dengan cengiran lebarnya, Mas Ilham kembali turun hingga ia berada di antara kedua tungkai kakiku. Seperti yang ia lakukan semalam dan tadi, suamiku yang gagah itu merasai kembali kelembutanku, mencicipi dan menghirup aroma manisku. Dan kali ini dengan maksimal. Aku memekik karenanya.
Ya Tuhan, aku tidak kuat, seakan-akan, Mas Ilham menyedot seluruh jiwaku ke dalam jiwanya. Meluluhlantahkan setiap sel dan syarafku. Dan sungguh, dia membuatku tenggelam dalam kenikmatan yang tiada tara. Tanpa malu, suaraku menggema memenuhi seluruh ruang kamar. Tumitku menekan kuat ke ranjang, mengangkat tubuhku lebih tinggi ke atas. Namun, lengan kokoh Mas Ilham menahanku kuat di sana.
Setelahnya, Mas Ilham kembali merangkak ke atas tubuhku. Lagi-lagi nyengir lebar kepadaku yang sudah mabuk kepayang. "Kamu gilaaaaa...!" lengkingku terengah-engah. Napasku terasa sangat sesak.
"Biar saja," sahutnya. "Aku memang gila. Aku sakit jiwa, dan itu karenamu. Kamu yang membuatku tergila-gila, Zahra."
Kusadari, kedua kakiku bertahta di atas pahanya yang kuat. Lalu, dengan sebelah tangan memosikan diri, Mas Ilham kembali ke singgasana miliknya -- dengan amat perlahan. Hingga, rasa nikmat itu terasa jelas merasuki jiwaku.
"Jujur saja," kata Mas Ilham, "aku sudah kelelahan. Dan aku juga tahu kamu lelah."
Alisku terangkat sempurna. "Lalu?" tanyaku. "Kenapa dipaksakan?"
"Tidak," ujarnya. "Aku tidak ingin memaksakan." Dia menjatuhkan dirinya di atasku, menempel rapat seolah-olah kulit kami membaur menjadi satu tanpa bisa terlepas. Bahkan, dadaku tersembunyi dalam himpitan dada bidangnya yang lebar. "Aku hanya ingin menyatu denganmu, Zahra. Di sini. Di jiwamu," ujarnya, bicara pelan di telingaku. "Aku ingin berada di dalam kehangatanmu. Kehangatan yang nikmat, kehangatan yang menyenangkan."
Hmm... seperti ucapannya, dia tidak banyak bergerak. Hanya bergerak sedikit-sedikit dan pelan. Selebihnya, ia bagaikan hanya ingin bersemedi di dalam kehangatan tubuhku. Menyatu dengan jiwa dan ragaku. Gerakannya yang perlahan itu mungkin hanya sekadar untuk memastikan supaya hasratnya tak padam. Seperti listrik yang tetap mengalir meski baterai ponselnya sudah terisi sampai penuh.
Sungguh, kelakuan Mas Ilham ini konyol, lucu, sekaligus menggelikan. Tapi aku menghormatinya. Dalam benakku, pria ini pasti sudah lama merindukan kehangatan dan kemesraan seorang istri. Di usia yang sudah hampir kepala tiga, jarang para lelaki mempertahankan keperjakaannya untuk menunggu hubungan yang halal. Namun, tanpa harus bertanya, aku yakin sepenuhnya kalau Mas Ilham adalah salah satu lelaki langkah yang menjaga betul fitrahnya sebagai lelaki yang wajib menjaga diri dari maksiat.
"Omong-omong," kataku. "Seberapa lama kita akan seperti ini? Kalau tidak... tidak digas, pasti...."
Mas Ilham cekikikan. "Nanti, Sayang. Sampai cahaya mentari pagi datang menyambut. Kita mesti cari sarapan di luar. Di rumah ini belum ada bahan makanan apa pun. Jadi sementara... aku makan kamu saja dulu."
Oh, astaga... sepertinya aku menikah dengan seorang pria gila. Haha! Pengakuan jujurnya membuatku tertawa. Dasar... Mas Ilham. Hmm... ada-ada saja kelakuannya.
Tapi aku cinta. Sangat-sangat cinta.
__ADS_1