
Sibuk dengan pemikiran diriku sendiri, tak terasa kami pun sampai di Lovell Avenue. Itu nama jalan tempat temannya Mas Ilham tinggal.
Sebuah rumah mungil tampak di sana. Yap, mungil, namun bertingkat, berbentuk seperti huruf A, dan dicat warna putih, plus, lengkap dengan pekarangan depan dan belakang yang cukup luas dengan taman hijau dan bunga berwarna-warni, nampak indah dan asri, nyaman sekali. Juga dilengkapi dengan gerbang di pekarangan depan bertuliskan nama si pemilik rumah. Mr. Milano Alexander & Mrs. Nur Fitria Darussalam Alexander.
Baru saja aku terfokus pada kedua nama itu, si pemilik rumah keluar dari dalam. Mas Ilham lekas mengucapkan salam dan proses interaksi berkenalan pun berlangsung sebagaimana mestinya.
Milano Alexander tidak mengganti namanya seperti kebanyakan muallaf lainnya. Sedangkan sang istri, itu nama aslinya, sudah barang tentu dia seorang muslimah sejak lahir. Darussalam adalah nama ayahnya yang tak ia tanggalkan dari namanya, dan menambahkan nama suaminya di belakang namanya. Seorang perempuan bertubuh mungil dan lebih tua dua tahun di atasku. Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke lima, sekaligus dalam rangka sunatan anak sulung mereka yang berusia empat tahun dan aqiqah anak keduanya, bayi perempuan mungil yang baru berusia satu setengah bulan.
Melihatnya... aku jadi refleks mengelus perutku. Teringat nyawa yang pernah bernaung di rahimku. Tidak tahu kenapa, aku ingin berlama-lama dengan bayi cantik itu dan fokus kepadanya hingga pikiranku tidak fokus pada acara yang berlangsung.
__ADS_1
Tidak banyak tamu yang diundang. Kata Mbak Fitria, begitu aku memanggilnya, mereka hanya mengundang tetangga sekitar rumah yang bersedia hidup dengan sikap toleransi meski mereka berbeda keyakinan. Dan beberapa keluarga Milano -- dia tak ingin kupanggil Mister, Mas, apalagi Kang -- panggil nama saja katanya. Sedangkan dari pihak Mbak Fitria sendiri semuanya di Indonesia. Dia hanya memiliki satu orang kakak laki-laki yang sudah berkeluarga, dan seorang ibu yang tidak berani naik pesawat. Ketakutan yang akut. Jadi, pertemuan di antara Mbak Fitria dan keluarganya hanya akan terjadi di saat Mbak Fitria dan keluarganya pulang kampung.
Yap, hanya acara sederhana. Syukuran yang didominasi dengan kumpul keluarga dan acara makan-makan, untuk pengajiannya sendiri itu seakan hanya diselipkan, untuk doa dan memanjatkan rasa syukur, dan wujud identitas diri mereka sebagai keluarga muslim. Tentu saja, tidak mungkin mesti dengan susunan acara keagamaan yang lengkap seperti yang kita dapati di Indonesia mengingat ruang lingkup keluarga mereka yang mayoritasnya adalah non muslim. Tapi itulah yang membuatku kagum kepada mereka. Mereka tetap istiqomah sebagai seorang muslim dengan keimanan yang sempurna meski hidup dalam lingkungan non muslim.
"Mbak, boleh aku gendong Baby Zifa?" tanyaku selepas acara itu.
Mbak Fitria tersenyum, lalu menyerahkan bayinya ke dalam gendonganku. Awalnya aku canggung, tapi lama-kelamaan bayi mungil itu terasa pas dalam gendongan tanganku. Mas Ilham hanya tersenyum dari kejauhan melihatku seperti itu. Lalu, beberapa menit berikutnya ketika ia menghampiriku, Mas Ilham berkata, "Kalau Allah memberikan anugerah berupa anak kepada kita, aku ingin lebih dari dua," katanya.
"Tiga, atau empat."
__ADS_1
Aku mengangguk. "Berapa pun aku jabani, asal cuma aku satu-satunya istrimu dan satu-satunya ibu bagi anak-anakmu."
"Pasti. Yuk, kita pinjam kamar, langsung bikin."
Ckckck! Dasar. Memangnya bikin pakai adonan?
"Bercanda kamu, Mas...."
Tapi sesungguhnya di dalam hati aku berharap bahwa aku akan langsung hamil, dan berharap keterlambatan menstruasiku pada bulan ini -- menstruasi pertamaku setelah kecelakaan kemarin -- ini akan berbuah manis. Namun aku belum berani mengeceknya dengan testpack. Aku takut kecewa. Bahkan, aku masih merahasiakan hal ini dari Mas Ilham. Sejujurnya aku merasa sedikit pesimis. Sebabnya, pertama kali kami bercinta setelah keguguran itu, itu bukan pada masa suburku. Melainkan sudah lebih dari dua minggu, bahkan menjelang tiga minggu pasca aku keguguran.
__ADS_1
Tapi harapan itu jelas ada. Di sini, di dalam hatiku yang terdalam.
Mungkinkah?