Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Renungan


__ADS_3

Setelah salat, Umi dan Mbak Indah tersenyum lalu merangkulku. Dimulai dari Umi, kemudian Mbak Indah. Wajah mereka begitu tenang, berbeda denganku yang begitu tegang dan masih memendam amarah yang dipicu oleh whatsapp dari Mas Imam. Kurasa bahkan salatku tadi saja tidak khusuk.


"Makan, yuk?" ajak Umi.


"Duluan saja, Umi. Bila--"


"Mbakmu sedang hamil, dia butuh suplai makanan untuk kandungannya. Nanti dia sungkan kalau kamu ndak ikut makan."


Hmm... bagaimana aku bisa makan kalau suamiku belum ada kabarnya? Tapi menolak Umi juga tidak mungkin. Mbak Indah juga nampaknya mendukung perkataan Umi, meski aku tahu itu bukan karena dia memikirkan dirinya sendiri dan kandungannya, melainkan dia memikirkan aku, si adik ipar yang masih terbelenggu oleh beban pikiranku sendiri.


"Ayo, Nduk?"


Tak enak hati, aku pun mengangguk. "Ya, Umi," kataku. Kulepas mukenaku, menggantungnya kembali ke tempatnya, lalu aku menyusul ke dapur.


Dan akhirnya, di meja makan itu, yang terjadi seolah hanya untuk mengisi waktu sembari menunggu kabar dari Mas Ilham dan menunggu kepulangannya. Lagipula, setenang-tenangnya kami, siapa yang bisa makan dengan nyaman sementara dua lelaki anggota keluarga sedang berkutat dengan masalah di kantor polisi dan mereka juga belum makan? Rencana makan bersama yang tadi kami rencanakan, berakhir kacau balau. Kami masing-masing hanya memaksakan diri untuk mengunyah dan menelan. Walau hanya beberapa sendok nasi di piring kami, kurasa lama sekali bagi kami untuk menghabiskannya. Yap, kembali lagi, itu seakan hanya untuk mengisi waktu sembari menunggu.


Setelah makan dan membereskan perabot kotor di dapur, kami hanya menunggu dalam diam di ruang tamu. Aku sudah berusaha untuk menuruti perintah Mas Ilham untuk menunggu saja di rumah, tapi aku tidak tahan. Namun aneh, si Salsabila Azzahra yang sekarang ini kok jadi seganan? Aku seperti tak punya nyali untuk menyambar kunci motor dan lari dari tempat yang sekarang seakan sedang mengurungku. Kusadari dan aku tahu, sebenarnya satu-satunya yang membuatku menahan diri adalah keberadaan ibu mertuaku yang menghalangiku untuk pergi. Kata-katanya yang memintaku untuk menunggu dan jangan ke mana-mana -- seperti rantai yang mengikatku di tempat. Kalau aku tidak menurut, apa penilaiannya terhadapku nanti? Apalagi penilain Mas Ilham, dia jelas-jelas sudah memintaku untuk menjadi menantu yang baik dan hormat kepada kedua orang tuanya.


Tapi berdiam diri menunggu tanpa kepastian membuatku greget, aku tidak bisa berhenti gelisah dan menoleh ke arah pintu.


"Umi, Umi kenapa bisa setenang itu?" akhirnya aku bertanya pada Umi yang bergelut dengan buku bacaannya. Al-Qur'an dan Hadits. Sementara Mbak Indah menyibukkan diri dengan ponselnya. Ikram sedang ke halaman belakang memantau perkebunan sang kakak.


Umi tersenyum. "Karena Umi yakin semuanya akan baik-baik saja. Kita punya Gusti Allah, bukan?"


Ah, jawaban itu, itu sama sekali tidak menenangkan bagiku yang beriman tipis ini.


Dan kurasa, Umi menyadari pergolakan di dalam hatiku yang tak bereaksi mendengar jawabannya. "Gusti Allah ndak akan berpihak pada yang batil, Nduk. Percayalah, kalau Ilham tidak bersalah, dia tidak akan ditahan."


Lama aku termenung. Aku bukannya tidak memercayai Allah. Tetapi, aku tidak percaya kepada manusianya. Kepada mereka yang katanya penegak hukum. Apa mereka benar-benar bisa menegakkan keadilan? Lantas bila demikian, kenapa Bulik Sulastri ditahan polisi? Dia sudah bersumpah demi Allah sang penciptanya bahwa dia tidak berniat mencuri barang belanjaan Bu Ambar. Lantas, kenapa Gusti Allah tidak membantunya? Apa karena memang Bulik Sulastri bersalah sehingga yang Mahakuasa membiarkan Bulik Sulastri dipenjara? Jika ia memang tidak berniat mencuri, apa keteledorannya yang tak sengaja salah bawa kantung belanjaan milik orang lain -- itu yang dianggap-Nya salah? Karena keteledoran fatal itu tidak terampunkan?

__ADS_1


Tapi nyatanya aku tak berani berdebat dengan wanita selembut Umi. Memang, ya, segalanya faktor di dalam hati, aku memiliki keseganan dan rasa hormat kepada ibu mertuaku, bahkan untuk berdebat pun aku tidak mampu. Tetapi kepada Abi yang punya satu kesalahan tak termaafkan itu -- tak termaafkan oleh hatiku -- aku bisa berdebat sampai mati.


Ah, aku jadi kepingin bertanya pada Mbak Indah, pernah tidak Abi Rahman kasar kepadanya barang sekali? Seperti Abi kepadaku dulu yang memukul dengan rotan hingga aku jatuh sakit? Atau, pernah tidak Abi Rahman melakukan kesalahan -- menyakiti hati Mbak Indah sebagai anak perempuan dengan sebegitu dalamnya? Barang satu kesalahan sahaja?


Tapi, kupikir, memangnya apa yang bisa lebih menyakitkan bagi anak perempuan selain melihat ibunya menangis di keheningan malam karena terluka perasaannya? Sakit di hati itu akan lebih parah akibatnya daripada luka seyetan yang memuncratkan darah. Ia bisa memberikan efek sakit sampai menahun, bahkan mungkin sampai mati.


Duh, renunganku jadi panjang. Pada intinya aku takut kalau Mas Ilham akan mendekam di dalam sel seperti yang dialami oleh Bulik Sulastri. Menyebalkan sungguh kelakuan Mas Imam. Kasus pemaksaan dan perkelahian, kok bisa jadi kasus penganiayaan? Apa memang itu tujuannya kenapa ia terus menyerang walaupun dia tahu dia tidak akan menang? Memang untuk menjebak Mas Ilham?


Astaghfirullah... hatiku jadi terus bersuuzhan.


"Assalamu'alaikum...."


Wajah cemerlang Mas Ilham muncul di ambang pintu, disusul Mas Muslim di belakangnya. Semua orang menjawab salam mereka, kecuali aku. Rasa senangku membuatku seketika menghambur ke pelukan Mas Ilham seraya berseru memanggilnya.


"Jawab dulu salamku," tegurnya, meski tangan kokoh itu sudah dan masih memelukku dengan erat.


Aku menyadari kekhilafanku, dan seketika langsung menjawab salamnya, "Wa'alaikumussalam. Maaf. Aku lupa. Aku senang kamu pulang."


Aku mengangguk, dan menyadari derai air mataku menetes lagi. "Yang penting kamu tidak kenapa-kenapa, Mas. Aku lega kamu sudah di sini."


Ah, dunia bagaikan hanya milik berdua. Semua orang juga hanya menyaksikan dengan senyuman sampai kami sadar sendiri namun tak jua saling melepaskan.


"Aku pasti pulang," bisiknya, "kepadamu. Dan aku lapar...."


Hmm... Mas Ilham....


Bisikan mesranya membuatku mengartikan lain kata "lapar" itu, ditambah lagi...


Uuuh... satu tangannya menyelinap ke balik jilbabku dengan ujung jemari menelusuri punggungku. Ternyata, Umi, Mbak Indah, dan Mas Muslim sudah tidak ada lagi di ruang tamu. Pantas saja kelakuan konyol Mas Ilham kumat lagi.

__ADS_1


"Kamu ini, ya... tidak melihat sikon."


Gila, dia terkikik. "Memangnya kamu melihatnya? Hmm? Kelihatan?"


Hmm... parah!


"Kamu masih sempat-sempatnya bercanda. Aku ketakutan, tahu! Aku nangis sedari tadi sampai mataku sembab."


Dia meredam tawanya lalu menatapku serius. "Maaf, Sayang. Tapi masalah ini di luar kendaliku. Yang penting sekarang semuanya baik-baik saja."


Aku mengangguk. Lalu...


Senyum itu mengembang lagi. Dengan kepala sedikit dimiringkan, Mas Ilham menyapu bibirku. Sebuah ciuman yang manis tanpa nafsu, murni dengan sepenuh perasaan.


"I love you," ucapnya.


"I love you too, Mas...."


"Jangan sedih lagi, ya?"


"Em, tidak akan. Kamu sudah ada di sini."


"Mmm-hmm... dan sekarang aku benaran lapar."


Eit dah! Aku mencebik. "Ini benaran lapar, kan? Bukan lapar dalam artian lain?"


"Iya, Sayang. Ayo." Mas Ilham menggandeng tanganku dengan mesra. Lalu, sambil berjalan, ia berbisik, "Aku mesti makan yang banyak, supaya tenagaku kembali ekstra. Iya, kan?"


Hmm... apa coba?

__ADS_1


Aku merenung.


__ADS_2