
Bogem mentah melayang.
Aku terpekik ketakutan menyaksikan Mas Ilham melayangkan tinjunya tepat di rahang Mas Imam hingga sudut bibirnya berdarah. Tapi memang salah Mas Imam, Mas Ilham sudah berusaha bicara baik-baik, sudah memberikan peringatan juga ketika Mas Imam mengakuiku, istri sah Mas Ilham sebagai miliknya. Tetapi, dia justru malah tetap memaksa dan menarikku ke pelukannya. Akhirnya, untuk melepaskan tanganku dari cengkeraman lelaki yang bukan muhrimku itu, tinju Mas Ilham pun melayang.
Memang, Mas Ilham menguasai ilmu beladiri dan dia bisa bertarung dengan elegan, namun tetap saja, aku malu. Memang siapa aku, sehebat apa aku, atau secantik apa aku sehingga menjadi rebutan dan dipertontonkan di depan khalayak ramai? Di tengah-tangah keramaian pasar, pula!
Tidak, aku tidak menyalahkan Mas Ilham. Dia berhak mengambil tindakan itu demi menjagaku dan menjaga kehormatanku sebagai seorang istri. Namun, malu tetap saja malu. Aku tidak terbiasa menjadi tontonan publik, dan ini sudah ketiga kalinya Mas Imam berbuat begini.
Dan, bodohnya dia, dia tidak memiliki kemampuan beladiri, dan dia tahu setiap kali dia menyerang, Mas Ilham yang tetap berdiri di tempat bisa melumpuhkannya dengan mudah, tapi, dia tetap saja terus berdiri dan menyerang Mas Ilham.
Apa coba? Menunjukkan kepadaku kalau dia memperjuangkan aku? Hmm... sudah sangat terlambat. Tidak ada kesempatan untuk kembali. Tidak sedikit pun dan tidak sedetik pun. Yang ada ia hanya membuat kami semua jadi malu.
Setelah tiga kali berhasil melumpuhkan Mas Imam, dan melepaskannya plus memintanya pergi baik-baik, tapi Mas Imam tetap tidak mau pergi dan justru kembali menyerang, mau tidak mau Mas Ilham meringkus dan mengikatnya, lalu meminta orang-orang untuk membawa Mas Imam ke pos keamanan. Walaupun ujung-ujungnya ia dilepaskan juga, sebab Mas Ilham bukanlah seorang lelaki pendendam dan ia tidak ingin masalah ini diteruskan ke jalur hukum. Bukannya dia takut, hanya saja, Mas Ilham terlalu memikirkan dampak-dampak lainnya. Terutama, ia memikirkan perasaan keluarga Mas Imam kalau si anak mesti ditahan hanya karena perjuangan cintanya dengan cara yang salah. Tentunya, Mas Ilham tidak ingin membuat pihak keluarga kami masing-masing menanggung malu. Ia tidak ingin ada kata: mentang-mentang ini, mentang-mentang itu yang akan dilontarkan orang-orang terhadap keluarga besar kami.
Tetapi, tetap saja itu akan menjadi buah simalakama, bukan? Omongan dan desas-desus masyarakat tidak mungkin bisa terhindarkan. Dan itu pasti.
Sungguh, percaya atau tidak, keributan ini membuatku gemetar. Aku takut nantinya Mas Ilham mengira kalau aku sengaja bertemu dengan Mas Imam. Sebab, memang aku yang meminta Mas Ilham untuk kembali ke parkiran sendiri sementara aku tidak ikut. Aku malah berjalan sendiri tanpa dia dan tahu-tahu malah ada Mas Imam di dekatku.
Setelah musyawarah dan usaha perdamaian di pos keamanan pasar, Mas Ilham menautkan jemarinya kepadaku, dan menggandengku kembali ke mobil. Dibukakannya pintu mobil di kursi penumpang untukku, dan ia segera memutar lalu masuk dan duduk di balik kemudi.
"Sudah semua?" tanyanya seraya membenamkan kunci kontak dan menderumkan mesin mobilnya. "Sudah tidak ada lagi yang mau dibeli?"
Aku menggeleng.
"Kita langsung pulang, ya?"
Aku mengangguk.
"Sayang?"
Aku diam.
"Kenapa?"
"Tidak kenapa-kenapa, Mas."
"Masih takut?"
"Em."
"Sudah," katanya. "Tidak ada yang perlu kamu takutkan. Semuanya--"
__ADS_1
"Kamu percaya padaku, kan? Kamu tidak akan berpikiran macam-macam padaku?"
Tapi Mas Ilham malah tersenyum. "Oh... jadi itu yang kamu pikirkan sedari tadi?"
Aku mengangguk, ingin menangis rasanya. "Em, aku takut kamu mengira kalau aku sengaja bertemu... dengan Mas Imam. Tapi tidak, kok. Demi Allah tidak seperti itu. Aku tidak tahu kalau dia ada di sini. Sumpah, Mas. Percaya padaku, please?"
"Aku percaya. Tapi, kenapa kamu mesti takut?"
"Ya... karena...."
"Karena apa?"
"Karena kita baru saling mengenal."
"Dan kamu takut aku tidak cukup percaya padamu?"
Aku mengangguk lagi. "Sudah saling mengenal lebih lama saja--"
"Sayang... buang jauh-jauh pikiran seperti itu. Aku menikahimu karena aku memiliki keyakinan teguh kepada dirimu. Kamu perempuan baik, dan kamu memiliki rasa tanggung jawab juga kesetiaan yang kamu junjung tinggi. Jadi... aku tidak akan meragukanmu sedikit pun. Oke? Jangan berpikiran yang tidak-tidak."
Ah, betapa baik dan bijaknya Mas Ilham. "Terima kasih, Mas. Aku...."
Euw... Mas Ilham mulai kumat. Dia bicara dengan nada sebegitu mesra dan sebegitu dekat di depan wajahku. Aku jadi teringat adegan berulang ini saat pertama kali ia mengajakku ke perkebunan bunga waktu itu, sebelum ia menutup kedua mataku.
"Aku... tidak, tidak ada... apa-apa."
"Jangan takut, Zahra."
"Em... yeah. Ya... Mas...."
"Dan jangan gugup."
"Oh...."
Aku gemetar. Tangan Mas Ilham menyusup ke balik jilbabku dan menyusuri punggungku. Dia malah membuatku semakin takut, namun dalam arti sepenuhnya berbeda dan dalam hal yang berbeda pula.
"Mas," kataku, "jangan gila. Ini--"
Oaaah... dia membungkam bibirku. Diciumnya bibirku dengan penuh gairah.
"Ini apa, Zahra? Hmm?"
__ADS_1
"Ini di parkiran, Mas. Tempat umum...."
"Lalu? Kenapa memangnya?"
Ya Tuhan... satu tangannya lagi bergerak ke bagian depan tubuhku. Bergerilya dengan nakal.
"Mas...."
Sekarang dia yang tidak mengindahkan keadaan di sekitarnya. Sambil mengaktifkan jari-jemarinya, Mas Ilham membungkam bibirku lagi. Menciumku lebih dahsyat, lebih dalam dan lebih bergairah.
Seketika kengerian melandaku. Apa iya dia akan melahapku di sini? Bercinta denganku di parkiran pasar yang ramai ini?
Ya Tuhan... andaipun dia tidak serius, tapi kan suasana pengantin baru dan perasaan yang sedang menggebu-gebunya di antara kami, ini jelas-jelas akan dengan mudahnya membuat hasrat kami terbakar. Terutama hasratnya Mas Ilham. Keliaran yang terpendam itu, yang sekarang seperti bendungan jebol dan menghanyutkan kami dalam buaian asmara yang menggila. Aku takut....
Keperkasaannya yang luar biasa itu, yang tadi pagi ia tunjukkan, itu saja masih teringat jelas dan membuatku ngilu tatkala mengingatnya. Apalagi mesti meleburkan diri lagi saat ini? Haduuuuuh... pengantin baru sih pengantin baru. Tapi aku?
Hiks! Bisa ringsek aku, Mas....
"Bagaimana? Sudah tidak takut?" tanya Mas Ilham, masih dengan bisikannya yang *ensual.
Aku menggeleng. "Sekarang tidak sekadar takut," kataku.
"Lalu?"
"Kamu membuatku resah. Aku--"
"Nikmati saja, Zahra. Nikmati."
"Eummmmm...."
Bengek aku, Mas... bengek... punya suami seperti Mas Ilham. Ciumannya membuat napasku sesak. Meresahkan!
"Sayang ini di tempat umum. Kalau tidak...." Sejumput bibirku ia gigit dengan lembut. "Akan kuajak kamu menggila."
Aku terkikik. "Yeah, Mas. Untung saja ini tempat umum. Kalau tidak, aku khawatir kamu akan membuatku tidak bisa berjalan."
"Ide bagus. Pasti seru. Kita bisa seharian di tempat tidur. Iya, kan? Mau? Kita langsung pulang, ya? Siap-siap tidak bisa berjalan."
Hah! Gila!
Cengiran edannya mengembang lagi.
__ADS_1