
Sesampainya aku dan Mas Ilham di dapur, pemandangan manis menyambut kami. Mas Muslim sedang menyuapi Mbak Indah. Mereka makan sepiring berdua dengan mesranya -- tanpa malu-malu di depan Umi yang sedang menikmati jus buah yang tadi kubuatkan namun terabaikan.
"Tadi Zahramu baru makan sedikit, Ham," kata Mbak Indah. "Ajak makan lagi, gih!"
Mas Ilham berpaling ke arahku. "Benar? Hmm? Karena cemas memikirkan aku?"
"He'em, Leh," Umi yang menyahut. "Kasihan pengantin baru sudah dites mental begitu. Sampai-sampai jus buah seenak ini diabaikan."
Jiaaah... begitu ternyata aslinya ibu mertuaku. Pantas saja anak-anaknya tak sungkan bersikap santai plus mesra walaupun di depan beliau.
Aku mesem-mesem. "Kamu mau makan sekarang, kan? Biar kuambilkan," kataku mengubah topik pembicaraan.
Mas Ilham pun segera duduk. Sambil tersenyum, ia memerhatikanku yang melayaninya, lalu mengucapkan terima kasih lengkap dengan panggilan sayangnya seperti kemarin di depan kedua orang tuaku.
"Sini," katanya kemudian, "duduk, biar kusuapi."
Eh?
Praktis aku menggeleng-gelengkan kepala. "Biar aku makan sendiri, ya," kataku seraya mengambil sendok.
Semua orang terkikik melihat sikapku yang salah tingkah.
"Kenapa?" tanya Umi. "Malu pada Umi?"
Aku nyengir. "Em, mungkin karena belum terbiasa, Umi."
"Dibiasakan, Nduk. Ndak apa-apa."
"Iya, Umi."
"Tahu, tidak, kenapa?" tanya Mas Ilham.
Aku menggeleng.
"Supaya Umi senang dan kembali merasa muda."
"Oh...." Aku manggut-manggut. "Umi dan Abi begitu juga? Mesra juga di depan anak-anaknya?"
"Yap. Makanya anak-anaknya ikut nurut." Mas Ilham mencuci tangannya, lalu menyendok nasi plus lauk. "A'," katanya menyuapiku.
__ADS_1
Dengan kikuk, aku pun menurut -- menerima suapan dari tangan Mas Ilham. Ini sangat berbeda dengan situasi saat Mas Ilham menyuapiku saat tanganku terkilir. Apalagi saat itu hanya di depan keluargaku. Di depan kedua orang tuaku dan sepupu-sepupuku. Kalau sekarang? Sekarang aku tersipu malu kalau mesti mesra begini, karena ini di depan ibu mertuaku dan di depan ipar-iparku.
Hmm... pantas saja pikirku, Mas Ilham dan saudara-saudaranya begitu menghargai pasangan mereka. Begitu cara Abi dan Umi mengajari mereka. Seperti Abi dan Umi yang mesra di depan anak-anak mereka, yang saling memanjakan, dengan begitu mereka memberikan contoh kepada si anak untuk memuliakan istri, dan, atau suami mereka.
Jujur, mau tidak mau pemandangan ini membuatku jadi bertanya-tanya, kenapa kedua orang tuaku tidak begitu? Aku malah lebih banyak menyaksikan air mata Umi, atau kegilaannya menyibukkan diri dengan pekerjaan rumah sehingga kesedihan itu mampu ia tutupi. Aku cukup peka untuk bisa merasakan apa yang sesungguhnya dirasakan dan disembunyikan oleh ibuku, wanita yang paling kucintai itu.
Apa sebenarnya Umi yang menolak bermesraan dengan Abi? Atau memang Abi sosok suami yang tidak mesra? Ataukah Umi yang bersikap anti mesra karena ia sudah tidak mencintai Abi lagi? Jangan-jangan ia hanya bertahan menjalani pernikahan itu untukku? Atas nama anak? Ya Tuhan....
Tanpa sadar, aku terus saja membandingkan keadaan dua keluarga yang sangat kontras itu. Kalau kedua mertuaku yang sudah lansia saja masih bisa semesra itu, kenapa kedua orang tuaku tidak bisa? Lalu, bagaimana hubungan rumah tangga Abi dan istri keduanya?
Aku menggeleng-geleng. Tidak usah memikirkan keretakan tersembunyi antara kedua orang tuamu lagi, Bila. Biarkan saja. Mungkin sudah tak bisa lagi dibenahi. Toh, Umi diam saja, kan?
"Jangan terlalu banyak mikir," bisik Mas Ilham.
Aku mengangguk, dan kami pun melanjutkan makan siang itu dalam kemesraan.
Sebelum asar, semua tamu istimewa itu pun berpamitan. Dan ini, mengembangkan lagi cengiran edan di wajah Mas Ilham. Bukan ia tak suka keluarganya datang mengunjungi kami, tapi ia sedang candu-candunya berduaan denganku.
Well, setelah mobil pick up yang kini mengangkut ratusan kelapa muda itu berlalu dari pandangan, Mas Ilham kembali menunjukkan kekonyolan dan kegilaannya di depanku.
"Ehm," suaranya terdengar lantang.
Dengan kengerianku yang ngeri-ngeri namun sedap, aku bergegas masuk ke dalam rumah meninggalkan Mas Ilham di halaman depan. Sambil mengintip dari balik dinding, aku memerhatikan Mas Ilham yang melangkah masuk, kemudian menutup pintu rapat-rapat beserta teralis besinya, atas-bawah, luar-dalam, cetak-cetek, terkunci semua.
"Sayaaaaang...," serunya.
Sebelum ia meninggalkan pintu depan tadi, aku sudah bergegas ke halaman belakang. Aku tidak tahu kenapa ini... aku gerogi... salah tingkah... nervous... atau apa pun bahasa yang ingin kau gunakan.
Huh! Zahra ngeri, ya Allah....
Dan, kemudian...
"Hai...."
Mas Ilham cengar-cengir melihatku yang bersembunyi di balik tembok belakang rumah, di samping pintu belakang.
Ya Tuhan... dia sudah bertelanjang dada. Sudah memamerkan lagi bulu-bulu di dada bidangnya.
"Kenapa?" tanyanya.
__ADS_1
Masih dengan cengirannya yang khas itu... yang edaaaaan... dia merapatkan diri di hadapanku.
Aduuuuuh... jantungku jedag jedug jederrrrr....
"Bisa tidak, kamu jangan nyengir-nyengir begitu? Aku ngeri...."
Oh, tak diindahkan. Malah satu kecupan manis mendarat di bibirku.
"Kenapa mesti ngeri?" tanya Mas Ilham tepat satu senti di depan wajahku. "Kurasa, itu bukanlah kengerian, Zahra. Itu rasa nervous yang terlalu akut. Hmm? Bahkan detak jantungmu bisa kudengar. Dag... dig... dug... mari bercinta denganku, Zahra. I love you."
Umiiiiiii... Bila diginiin Mas Ilham... ngeri....
Tangan kiri Mas Ilham menyelinap ke belakang pinggangku, memelukku dengan erat hingga aku seakan tak bisa bergerak lagi. Lalu, tangan kanannya pun turut aktif. Ia melepaskan jilbabku, menarik kuncir rambutku hingga rambutku tergerai indah. Jelas kurasakan, jemari tangan kanannya menyusuri helaian rambut di belakang kepalaku, lalu mengepal kuat dan sedikit menyentakku, membuatku mendongak.
"Kau benar-benar cantik," bisiknya di telinga. Dan...
Gemetarrrrr... lidahnya meliuk lincah dan bermain-main di seputar telinga, lalu menggigit pelan di sana.
"Bukankah tadi pagi ada yang bilang siap bercinta denganku seperti orang sakit jiwa?"
Praktis aku cekikikan. "Mas... kamu membuatku ngeri, tahu! Jangan--"
Mas Ilham yang sewaktu kami belum menikah, dia selalu mendengarkan kata-kataku walau sepanjang jalan kenangan, tapi setelah menikah ini, kalau aku bicara, seringkali ia hentikan dengan ciuman. Dia ahli membungkam mulutku dengan ciumannya yang dalam. Bergairah. Hingga tanpa sadar, ternyata ritsletingku sudah terlepas, dan, begitu mudahnya Mas Ilham menarik turun dressku hingga meluncur di atas kaki.
Eit dah... malunya aku yang kini "berbikini" di depannya yang menatapku dengan penuh hasrat.
"Mas, kok? Ini kan di luar, aku malu kalau...."
"Kamu seksi. Dan aku suka."
"Ya, tapi...."
Dengan kekuatan tangannya, Mas Ilham menggendongku, menuruni tangga demi tangga hinga kami berada di dalam air. Dia menurunkan aku, memelukku super erat, dan menciumku lagi dengan liar, lalu...
Dia menyelam ke bawah.
"Eummmmmmmmmm...."
Mataku terpejam. Dasar suami edan!
__ADS_1