
"Hei," kata Mas Ilham yang duduk santai di sebelahku dan kini ia berputar, menyamping -- menghadapku. Dan kami jadi berhadap-hadapan. "Tidak boleh terus larut dalam kesedihan. Oke? Zahra-ku sosok wanita yang kuat."
Aku pun mengangguk, mengiyakan. "Enak, ya, jadi lelaki. Kalian pandai menyembunyikan kesedihan. Tidak seperti perempuan yang cengeng. Tapi kamu juga cengeng, ding. Kamu nangis-nangis sewaktu aku belum sadar kemarin."
"Hmm...." Mas Ilham melotot. "Itu beda situasinya, Sayangku....."
Mendadak aku terkikik.
"Bagaimana aku tidak menangis kalau aku melihatmu terbaring lemah tidak sadar-sadar begitu? Kamu seperti orang yang tidak punya keinginan hidup."
Hmm....
"Memang iya."
"Sayang...."
"Waktu itu, Mas. Bukan sekarang."
Mas Ilham menatapku, sangat dalam. Ada luka di matanya, namun juga ada rasa syukur dalam senyuman kecilnya. "Terima kasih, ya, kamu masih ada di sini. Aku sangat bersyukur kita masih bersama. Aku masih bisa bersamamu."
Yeah, aku di sini memang untukmu. Demi kamu. Suamiku. Meski bayi kecilku sendirian di sana. Aku tersenyum. "Aku mendengar suaramu, Mas. Semua kata-katamu, juga tangisanmu. Aku tidak tega meninggalkanmu. Bagaimana kalau kamu... kehilangan aku?"
"Aku akan kembali ke titik nol kalau kamu pergi. Seperti sebelum ada kamu. Hidup, tapi bagaikan raga tak berjiwa. Dalam artian... tempat di dalam jiwa, di mana seharusnya ada cinta di sana, tapi kosong. Ibarat taman yang ada kehidupan, tapi tanpa bunga. Hampa, kan? Pasti lebih sulit untuk menjalaninya daripada yang kualami sebelumnya. Karena kamu bukan sekadar kekasih. Kamu istri, kamu pelengkap, seorang penyempurna. Tidak akan sempurna lagi kalau aku tanpamu."
Jiaaaaah... suamiku yang gombal dan pandai bermanis-manisan.
__ADS_1
"Uuuh... so sweet...."
"Aku serius, Sayang."
"Iya... memangnya aku bercanda?"
"Sudah, ya. Jangan bahas hal ini lagi. Please?"
Aku mengangguk. "Maaf, ya...."
"Em. Pada intinya, yang penting, segala cobaan yang datang kepada kita, itu membuktikan betapa kuatnya cinta kita. Malah semakin menguat, ya kan, Zahra?"
Huuuuuh... mulai deh bisikan-bisikan mesranya keluar. Aku merinding bagaikan pengantin baru. Senyumku mengembang dan aku tersipu.
"Zahra."
"Emm?"
"I love you too, Mas."
"Zahra?"
"Emm?"
Tapi tak ada jawaban. Mas Ilham menatapku, tersenyum, dan sorot matanya... menyiratkan cinta. Dia... menyentuhkan telapak tangannya di wajahku. Lalu... dengan jemarinya yang membelai lembut, dia menyampaikan rasa sayangnya yang begitu besar terhadapku. Dan... kemudian... tangannya menelusur ke belakang, di antara uraian rambutku, lalu...
__ADS_1
Sebuah ciuman manis di antara kedua bibir yang bertemu, meleburkan rasa, dan segalanya. Ada kedamaian dalam kehangatan itu.
"I love you, Zahra. Rasanya aku tidak akan mampu hidup tanpamu."
Melow. Mas Ilham berbicara pelan di depan wajahku, tanpa jarak. Bahkan hidung mancungnya menempel di hidungku.
"I love you too."
Hanya itu yang bisa kukatakan. Dengan sedikit memberikan jarak di antara kami, Mas Ilham menyunggingkan senyum dan menatap ke dalam mataku. Lalu...
Ouuuw... Mas Ilham.
"Aku kangen," bisiknya. Dan tanpa aba-aba, bibir yang seksi itu mencumbu kulit leherku. Kemudian...
Gigi-giginya terbenaaaaaam....
Aduh! Bahaya ini.
"Mas, kamu--"
Hmm... tangannya ikut nakal....
Bagaimana ini???
"Belum saatnya, Mas. Kan kata dokter...."
__ADS_1
Tapi tangannya sudah menyelinap ke balik pakaianku. "Aku kangen padamu, Zahra," bisiknya.
Oh... gesrek! On the way... ke kamar pengantin.