Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Hati Yang Meragu


__ADS_3

Mas Ilham menjelaskan kepadaku bahwa ada cukup banyak pekerja yang akan datang silih berganti ke perkebunan itu. Di pagi hari akan ada beberapa orang yang memetik bunga lalu membawanya ke toko untuk dirangkai menjadi buket bunga, juga mengambil beberapa pot bunga sebagai sampel untuk dipajang di toko. Siang hingga sore harinya, ada beberapa orang di bagian perawatan akan datang untuk merawat tanaman, menyiram, sekaligus membersihkan area perkebunan, dan pada malam hari juga akan ada dua atau tiga orang yang bertugas menjaga perkebunan.


Aku hanya mengangguk-angguk menyimak penuturan Mas Ilham. Lalu aku memerhatikan area sekelilingku lebih seksama. Di bagian-bagian pinggir lahan perkebunan berderet pohon-pohon kelapa hijau dan beberapa pondok semacam saung sederhana dengan atap daun kelapa sebagai tempat bagi para pekerja untuk beristirahat. Kelapa hijaunya berbuah lebat, dan kata Mas Ilham sebentar lagi siap petik. Bukan untuk dijadikan kelapa tua yang diambil santannya, tetapi memang dikhususkan untuk kelapa hijau dan saat panen akan dijual ke cabang-cabang pondok makan milik kakak iparnya.


Jujur saja aku kagum. Mereka bersaudara dan satu sama lain saling mendukung usaha masing-masing. Termasuk Kiai Rahman yang kutahu memiliki perkebunan sayur dan beberapa empang ikan air tawar. Dan setelah kutanyakan pada Mas Ilham, memang beliau memasok hasil panennya ke dapur pondok makan menantunya sendiri. Tim yang kompak, pikirku. Usaha yang saling mendukung dan tidak saling menyaingi. Lalu perhatianku tertuju pada sebuah bangunan yang jauh dari pandanganku. Tampak dari belakang itu seperti rumah. Tidak begitu besar, tapi bertingkat dua. Ada beranda di bagian belakangnya, dan ada tembok tinggi yang menutupi penglihatanku ke arah bangunan di lantai bawahnya.


"Itu apa?" tanyaku.


Mas Ilham mengarahkan pandangannya ke arah yang kutunjuk, lalu ia tersenyum. "Itu surga kita nanti," sahutnya.


"Em? Maksudnya, rumah untuk...?"


"Iya, rumah kita."


"Oh, di sini, Mas? Serius?" Aku senang.


Dia mengangguk. "Em, lebih dari serius, Sayang. Kamu mau, kan, tingal di sini bersamaku?"


Oaaah... senyumku mengembang, dan aku membalas anggukannya. "Tentu. Bagaimana bisa aku menolak tempat seindah ini?"


"Jadi kamu sudah minta izin pada Umi, kan?"


"Yeah, Umi bilang boleh."


"Alhamdulillah kalau Umi mengizinkan."


"Em. Apa aku boleh melihat--"


"Nope. Maaf, ya... belum saatnya. Aku ingin kamu pertama kali masuk ke rumah itu sebagai pengantinku."


Uuuh... mulai deh romantis dan kegombalannya keluar lagi. "Baiklah. Aku akan sabar."


Tapi mataku tak bisa lepas dari bangunan yang nampak kokoh itu. Aku suka warna hijau lumutnya, dan warna cokelat mengilap serupa kayu di bagian berandanya.

__ADS_1


"Itu kamar, ya? Maksudku yang ada berandanya itu?"


Mas Ilham mengangguk. Dan pikiranku seketika melayang membayangkan momen pagi yang indah, ketika sinar mentari mengintip dari celah tirai jendela, dan begitu aku membuka pintu beranda itu, perkebunan bunga yang luas akan terhampar sejauh mata memandang.


"Kamu suka?"


"Em, lebih dari suka, Mas."


"Tapi aku lebih suka padamu, Zahra."


"Mas... jangan gombal terus...," aku merengek.


Dia cekikikan. "Biar saja," katanya. "Aku suka melihat wajahmu memerah. Kamu lucu, menggemaskan."


Ah, Mas Ilham. Aku nampak seperti kepiting rebus dibuatnya.


Dan sampai detik itu ia masih bisa membuatku tertawa. Namun, pada satu minggu berikutnya, saat kami menyebarkan undangan pernikahan kami yang akan berlangsung satu minggu lagi, sesuatu yang membuatku ragu malah datang menerpa.


Cerita selengkapnya begini, aku hendak mengantarkan undangan untuk teman lamaku, Yunita. Dia teman SMA sekaligus teman kuliahku. Cewek urakan yang suka dunia malam. Kami tidak begitu akrab, tapi kalau hendak mudik atau balik lagi ke kota, kami sering pulang atau pergi bareng, sebab dia sepupu dari teman yang satu kost denganku. Puspita. Aku mudik bareng dengan Puspita, di mana Puspita mudiknya juga bareng dengan Yunita. Jadi, antara aku dan Yunita pun jadi kenal lebih dekat. Well, sewaktu aku ke rumah Yunita dan memberikan selembar kartu undangan itu, di mana namaku dan Mas Ilham tertera di situ tanpa foto kami berdua, Yunita praktis bertanya siapa nama lengkap calon suamiku begitu ia melihat nama Ilham tertera di bagian depan kartu undangan, karena katanya nama itu sama dengan nama calon suaminya. Nah, saat aku menyebut nama lengkap Mas Ilham -- Ilham Akbar Ibnu Rahman, Yunita malah keheranan dan ia cepat-cepat membuka kartu undangan di tangannya dan melihat bagian dalam undangan itu.


"Gus Ilham anaknya Kiai Rahman?"


Caranya bertanya dengan nada heran dan kening bertaut membuatku seketika ikut heran. "Ya," kataku. "Kamu kenal, Yun?"


Tanpa menyahut, dia berjalan ke luar, melongo ke kanan, ke arah mobil Mas Ilham yang terparkir di halaman samping rumahnya, ia pun langsung menuruni tangga terasnya, perasaan resah spontan merasuki benakku. Aku pun lekas-lekas mengikuti Yunita yang menghampiri Mas Ilham di mobilnya. Dengan tergesa-gesa, dia mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil Mas Ilham sehingga yang bersangkutan segera keluar dari mobil hitam yang terparkir itu.


"Gus, Gus Ilham calon suaminya Salsabila? Apa itu benar?"


Mas Ilham mengangguk. "Benar," katanya.


"Kok bisa? Kan... bukannya Gus Ilham menerima perjodohan dengan saya?"


What?

__ADS_1


Aku yang menyusul Yunita seketika terbelalak mendengar pertanyaan itu.


"Maaf," kata Mas Ilham. "Di antara kita hanya sebatas perkenalan, dan belum ada kesepakatan--"


"Belum ada bagaimana? Pakde Junaidi bilang kalau pihak Gus Ilham juga menerima perjodohan ini. Kok sekarang?"


"Astaghfirullah, sepertinya ada kekeliruan di sini, Ukhti. Saya tidak pernah menyampaikan hal demikian kepada H. Junaidi, baik secara langsung ataupun melalui Abi saya."


Yunita menangis. "Lalu? Apa Pakde saya yang berbohong? Mana mungkin, Gus."


"Maaf, Ukhti."


"Ini tidak lucu! Kalian mempermainkan saya?"


"Maaf--"


"Saya sudah berubah banyak demi memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh pihak Gus Ilham," suara Yunita nyaris melengking.


Lagi, Mas Ilham beristighfar. "Maaf, Ukthi, tapi dari pihak kami bahkan tidak pernah mengajukan syarat atau ketetapan kriteria perempuan yang akan dijodohkan dengan saya, kecuali menyangkut keyakinan agama yang dianutnya. Hanya itu saja."


"Ya, terus? Bagaimana? Saya, saya sudah sangat mengharapkan pernikahan kita akan segera berlangsung. Saya sudah melakukan banyak hal demi perjodohan ini."


Mas Ilham menggeleng. "Sekali lagi mohon maaf, Ukthi. Sebaiknya Ukhti konfirmasikan hal ini pada H. Junaidi. Kami permisi." Dia berpaling kepadaku. "Ayo, Zahra."


Tanpa kusadari, sedari tadi aku mematung, berdiri agak jauh dengan napasku yang sesak, namun aku tak bisa ikut campur sedikit pun. Mataku bahkan berkaca begitu mengetahui bahwa calon suamiku ternyata juga begitu diinginkan oleh wanita lain. Seseorang yang kukenal, pula. Dia dulu berpakaian serba terbuka, dan sekarang tertutup hijab panjang dan berpakaian syar'i. Jelas dia memang sudah banyak berubah demi ingin menjadi istrinya Mas Ilham.


"Zahra, ayo."


Aku mengangguk, berjalan melewati Yunita dan sempat berhenti sesaat di hadapannya. "Maaf, Yun," ucapku, lalu aku masuk ke mobil di mana Mas Ilham berdiri membukakan pintu untukku -- menunggu, memerintah, dan memastikan aku segera masuk ke dalam sana.


Sama sepertiku dan keluargaku, keluarga Yunita pasti bertujuan baik kenapa mereka ingin menjodohkan Yunita dengan Mas Ilham. Namun Mas Ilham memilihku, meski awalnya hanya demi kedua ibu kami, tapi aku tahu, perasaan di antara kami ini pasti, karena dia memilihku karena keyakinan hatinya. Sungguh, ini bukanlah perjodohan tanpa cinta. Aku menerimanya setelah aku jatuh cinta kepadanya. Dan, aku tidak ingin kehilangannya. Tapi, apa mungkin dia akan bertahan hanya dengan satu istri saja sementara di sekitarnya nanti ada banyak perempuan yang bersedia menjadi istrinya? Bahkan seorang perempuan cantik rela berubah drastis demi menjadi pendamping hidupnya?


Kenyataan ini membuatku takut, Mas. Aku tak akan pernah rela kalau nanti mesti hidup dipoligami.

__ADS_1


__ADS_2