Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Welcome Home


__ADS_3

Sepulang kami ke rumah pada sore harinya, ternyata Umi sudah berada di sana sejak pagi. Dengan tulus ikhlasnya beliau membersihkan rumah kami yang sudah ditinggalkan selama berhari-hari, dibantu oleh Laila dan Laili juga katanya. Si kembar yang cantik itu sudah pulang sebelum aku dan Mas Ilham sampai di rumah, sementara Umi berencana menginap di rumah kami untuk beberapa hari ke depan, katanya sampai keadaan kami sudah benar-benar pulih. Dan, bila perlu sampai kaki Mas Ilham sudah sembuh, dilepas gips-nya, dan keadaannya sudah kembali normal.


Hmm... aku tahu, Umi sangat mengkhawatirkan keadaan kami. Sangat-sangat khawatir. Kupikir, dia pasti tahu bahwa kecelakaan tragis yang kami alami itu dilatari faktor kesengajaan. Dia pasti takut kalau ada orang yang akan kembali datang untuk melenyapkan nyawa anak dan menantunya ini. Ditambah lagi demi aku, dia ingin menggantikan aku dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Yap, begitulah seorang ibu. Ia terlalu sayang dan terlalu khawatir kepada anaknya. Padahal, kurasa aku sudah bisa mengerjakan semuanya sendiri. Fisikku sudah lumayan membaik, bukan, maksudku memang sudah membaik. Hanya hati dan perasaanku saja yang masih hancur, dan perlu ditata dan diperbaiki dengan maksimal. Dan itu yang sedang kuusahakan.


Aku bersyukur, sebegitu pedulinya Umi terhadap kami, terutama terhadapku. Sampai-sampai, dia sudah menyiapkan kamar di lantai bawah untuk kami, berikut beberapa pakaian kami yang sudah ia pindahkan ke lemari di kamar lantai bawah itu. Katanya, aku dan Mas Ilham tidak boleh naik-turun tangga dulu sampai kami berdua sudah benar-benar sehat dan pulih. Untung saja sepulang dari pondok makan Mbak Indah, kakak iparku itu membekali kami lauk-pauk yang cukup, sehingga Umi tidak perlu repot-repot memasakkan menu makan malam pada hari itu. Kasihan, dia pasti sudah sangat kelelahan karena mesti membersihkan rumah kami sejak pagi. Rumah yang kosong selama beberapa hari dan pasti sudah berdebu, atau mungkin juga sudah disarangi laba-laba dan berbagai jenis serangga lainnya.

__ADS_1


Setelah selesai makan malam dan meminum obat, Umi pun menyuruh kami untuk segera istirahat dan kembali ke kamar. Aku setuju, karena dengan begitu, Umi juga akan lekas masuk ke kamarnya dan bisa langsung istirahat.


Well, akhirnya kami masing-masing sudah masuk ke dalam kamar.


Aku menoleh ke samping, ke atas nakas di sebelahku. Dompet Mas Ilham ada di atas sana, dan aku pun menjangkaunya. Kemudian, kuberikan dompet itu kepadanya. Dari dalam dompet itu, Mas Ilham mengeluarkan selembar kertas surat.

__ADS_1


Ya Tuhan, apa lagi ini?


"Untukmu," katanya menaruh selembar surat itu ke telapak tanganku dan menahannya. "Ini dari Puspita. Dia menitipkan ini pada Umi beberapa hari lalu. Umi menyerahkannya kepadaku dan aku menyimpannya. Aku tidak ingin membebani pikiranmu dengan hal apa pun selama kamu sakit kemarin. Jadi... baru sekarang aku menyerahkan surat ini padamu. Baca, tapi kamu harus janji, jangan terlalu dibawa perasaan. Oke? Kamu paham?"


Aku mengangguk. Mas Ilham sampai berkata seperti itu untuk mengantisipasi segalanya, meski kesannya aku ini begitu labil dan emosional. Tapi tak apa, memang nyatanya begitu. Iya, kan? Meski aku sudah berusaha untuk sedewasa mungkin dan sesabar mungkin. Tapi yah, mau bagaimana lagi, segala sesuatunya itu membutuhkan proses.

__ADS_1


__ADS_2