Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Laraku


__ADS_3

Ponsel Mas Ilham tak henti berbunyi ketika kami tengah menikmati makan malam. Sewaktu aku bertanya siapa yang menelepon dan kenapa tidak diangkat, ia hanya mengatakan bahwa itu panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Klise, ya!


"Ya angkat saja, Mas. Siapa tahu itu telepon penting." Lalu aku mengatakan kepadanya untuk tinggal bilang kalau salah sambung seandainya itu benar-benar orang yang tidak dikenal dan tidak ada kepentingan. "Daripada HP-nya bunyi terus."


Dia hanya mengangguk, dan berkata, "Ya, nanti kalau sudah selesai makannya." Lalu ia melanjutkan makannya dengan santai.


Pasti ada sesuatu yang tidak beres, pikirku. Tetapi, saa itu aku tidak ingin terlalu menyelidikinya. Aku tidak ingin mengganggu kenyamanan makan malam Mas Ilham saat itu. Lagipula, aku tahu, Mas Ilham bisa bersikap bijak tanpa perlu kunasihati. Dia tidak menggubris telepon itu, pasti karena dia tahu siapa yang menelepon, dan kenapa ia bersikap seperti itu, itu merupakan suatu pilihan yang tepat dan bijak menurutnya.

__ADS_1


Eh, tapi bukannya dia sendiri yang bilang jangan biasakan berbohong dan menutup-nutupi sesuatu, ya?


Lah, kok?


Ssst... sudahlah. Ustadz juga manusia, bukan?


Well, kami melanjutkan makan malam itu dengan tenang. Tetapi, sewaktu aku mencuci piring bekas santap malam kami, ponsel Mas Ilham kembali berbunyi, dia pun ke ruang depan, katanya untuk memeriksa pintu dan jendela, memastikan semuanya sudah terkunci. Padahal menurutku, dia ingin menerima panggilan telepon itu. Tetapi biarlah, kutahan diriku supaya aku tidak mengintip apalagi menguping pembicaraan Mas Ilham. Meski... gatel rasanya kepingin menguping. Sayangnya ini bukanlah suatu rasa yang bisa digaruk dan membuat gatal-gatal itu langsung menghilang. Tidak bisa. Malah, yang ada aku tersiksa, jiwa kepoku meronta-ronta tak tertahan.

__ADS_1


Ting!


Suara notifikasi pesan whatsapp di ponselku berdenting. Buru-buru kuselesaikan cucian piringku, kulap tanganku hingga kering dan lekas mengambil ponselku.


Berengsek! Masih orang yang sama.


》 Sekarang aku tahu kenapa kamu memaksakan diri menerima perjodohan itu. Sungguh aku menyesal, Bila. Seandainya aku tahu kalau ternyata kamu hamil, aku bersedia mengiyakan pertanyaanmu waktu itu, bahkan kamu tidak mesti mengalami kecelakaan dan dilarikan ke rumah sakit waktu itu. Aku akan mengiyakan permintaanmu dan menikahimu hari itu juga. Aku minta maaf, Bil. Dan izinkan aku menebus kesalahanku. Aku bersedia menikahimu dan menjadi ayah dari anak di dalam kandunganmu. Aku akan menyayangi dia sepenuhnya sebagai anakku. Anak kita, Bila.

__ADS_1


Argh!


Menyebalkan! Dia tahu dari mana kalau aku hamil? Kenapa dia berpikiran begitu? Lagipula apa maksudnya? Apa dia meragukan kehamilanku -- dia menganggap kalau anak ini bukanlah anaknya Mas Ilham? Kalimatnya membingungkan. Dia tidak menganggap kalau aku hamil anaknya, kan? Dia tahu persis kalau dia dan aku tidak pernah berzinah sekali pun. Bahkan kami tidak pernah bersentuhan. Eh? Tapi apa ini yang membuat Mas Ilham seperti menutupi sesuatu dariku? Aku lelah, ya, Allah....


__ADS_2