
Rembang, 5 Mei 2022.
Lima tahun kemudian
Aku yang baru terbangun di keheningan malam memandangi Mas Ilham yang terlihat pulas dalam tidurnya, di antara para jagoannya yang tampan dan rupawan.
Yeah, sejak anak kembar kami sudah bisa berjalan, Mas Ilham berinisiatif merenovasi dinding pemisah antara kamar kami dan kamarnya anak-anak. Kamar yang tersekat dinding itu ia renovasi dindingnya, dijebol sepetak dan diubah menjadi pintu penghubung antara dua kamar. Persislah seperti connecting room di hotel-hotel mewah. Jadi, kami sebagai orang tua tidak perlu repot-repot keluar dari kamar kami untuk masuk ke kamar anak-anak dan mengecek mereka saat mereka tidur di kamar mereka sendiri. Cukup hanya dengan membuka satu pintu, maka kami langsung berada di dalam kamar mereka. Dan, selayaknya kamar anak-anak yang hyperaktif, tidak banyak barang yang kami taruh di ruang kamar itu. Hanya ada kasur-kasur busa tanpa ranjang, lengkap dengan seprai, bantal masing-masing, dan beberapa guling sebagai pemisah di antara tempat tidur mereka. Selain mainan yang seringkali berhamburan, hanya ada televisi yang menempel di dinding dengan posisi cukup tinggi dari jangkauan mereka, dan, ada sebuah lemari besar dengan beberapa tingkat rak untuk menyimpan pakaian mereka. Asli, di kamar itu tidak ada sofa, meja, apalagi lampu hias. Aku dan Mas Ilham benar-benar memerhatikan keamanan dan kenyamanan bagi anak-anak kami, tapi kami berdua juga butuh privasi, bukan?
Setiap malam, aku dan Mas Ilham akan tidur dulu di kamar anak-anak kami. Yap, untuk menemani mereka. Di bawah jam satu malam, anak-anakku akan rutin mimi susu dengan botol dot, bisa dua atau tiga kali ngedot. Dan setelahnya, di atas jam satu malam, setelah diganti popoknya, mereka akan anteng sampai pagi tanpa ngedot dan tanpa rengekan. Di jam itulah aku dan Mas Ilham akan punya waktu khusus untuk berduaan dan pindah ke kamar kami sendiri. Minimal, giliran aku yang tidur di pelukan lelaki tampan-ku itu -- yang tampan di antara kelima putranya yang tak kalah tampan.
Eh?
Ups! Ckckck!
Iya, dalam kurun waktu enam tahun pernikahan kami, aku sudah empat kali melewati proses persalinan, dan kami sudah memiliki lima orang putra yang tak satu pun mirip denganku. Semuanya mewarisi ketampanan Mas Ilham, sang abi yang tampan dan rupawan, dengan kulit putih, rambut hitam lebat, dan hidung yang mancung. Aku yakin, saat mereka dewasa kelak: rahang, lengan, perut, dan dada mereka akan ditumbuhi bulu-bulu lebat layaknya sang abi. Generasi brewok yang tampan dan gagah, dan akulah satu-satunya ratu bagi keenam lelaki tampan itu.
Yeah, walaupun aku tidak pernah lupa bagaimana ngerinya proses persalinanku yang pertama, tapi aku tetap nekat untuk hamil lagi. Setelah anak kembarku berusia enam bulan -- waktu itu, dulu -- aku sengaja berhenti mengonsumsi pil pencegah kehamilan, aku ingin hamil lagi untuk Mas Ilham, untuk mewujudkan keinginannya yang ingin memiliki empat anak dariku, bahkan kuberi ia bonus satu lagi dengan kehamilanku yang ke-empat.
Yang Mahakuasa memberiku keberkahan dengan rahim yang subur. Setiap kali aku berhenti mengomsumsi pil, aku langsung hamil lagi. Mas Ilham juga patut dijuluki suami yang paling tokcer. Ups!
Tadinya aku mengkhawatirkan pertumbuhan dan perkembangan anak kembarku jika aku hamil lagi, takut mereka kurang perhatian dan kurang gizi kalau kehamilanku memengaruhi asupan ASI-ku untuk mereka. Tapi, Mas Ilham bisa meyakinkan aku kalau perhatian kami berdua akan cukup untuk anak-anak kami, begitu pula untuk asupan gizi mereka. Mas Ilham berjanji bahwa sebagai seorang ayah, dia akan mencukupi asupan gizi untuk anak-anaknya supaya mereka sehat dan tidak mengalami stunting atau gizi buruk. Dia akan melengkapi asupan susu mereka dengan susu formula dan makanan pendamping ASI, baik yang instan maupun yang non instan. Mas Ilham berjanji bahwa dia akan semakin giat mencari nafkah untuk keluarga kecil kami, dan aku diminta untuk menjadi ibu yang tak malas untuk melaksanakan tanggung jawabku -- terutama dalam memenuhi asupan gizi bagi buah hati kami. Dengan perhatiannya pula, Mas Ilham mencarikan asisten rumah tangga untuk membantuku di rumah, Mbok Atih. Wanita lanjut usia alias sudah kepala enam. Tenaga beliau untuk membantu meringankan pekerjaan rumahku, dan bukan untuk mengerjakan semuanya. Sebab itu, kami memilih ART yang usianya sudah tua. Ehm, untuk kenyamanan bersama juga tentunya. Supaya aku tidak khawatir kalau di rumahku ada perempuan lain selain aku. Aku tidak mungkin cemburu pada si Mbok yang notabenenya seorang nenek-nenek. Karena semua faktor pendukung itulah aku berani memutuskan untuk hamil lagi setelah anakku berusia enam bulan. Begitu juga pada kehamilanku yang ke-tiga dan yang ke-empat.
Dan, berhubung semua anak yang kulahirkan itu semuanya berjenis kelamin laki-laki, padahal aku juga berharap diberi anak perempuan, jadinya... aku mencoba peruntunganku sekali lagi. Setelah bayi kelima-ku yang lahir awal tahun lalu, aku berpikir untuk terus menggunakan pil pencegah kehamilan di sepanjang tahun 2021. Namun, di awal tahun ini, aku memutuskan untuk berhenti mengonsumsi pil. Puji syukur, jadi lagi, bestie....
__ADS_1
Uuuh... kali ini permintaanku dikabulkan oleh Sang Pencipta. Inshaallah, kalau tidak meleset, di usia kandungan ke-lima ini yang baru berusia empat bulan, hasil USG menunjukkan bahwa bayi yang kukandung ini adalah seorang bayi perempuan. Aamiin. Kalau memang benar aku akan mendapatkan bayi perempuan, maka aku tidak akan mencoba lagi. Lagipula, Mas Ilham juga tidak ingin aku hamil lagi kalau usiaku sudah lebih dari tiga puluh tahun. Aku diminta untuk mengurus bentuk tubuhku lagi biar kembali seperti saat aku masih gadis. Zahra yang bohay, katanya. Ckckck!
"Kamu tidak suka kalau aku gendut? Hmm?" protesku kala itu.
Mas Ilham terkekeh. "Bukan begitu, Sayang...," sahutnya. "Tapi kan aku tampan, takutnya nanti kamu tidak percaya diri kalau kamu gendut. Nanti kamu malah minder. Terus, nanti kamu malah selalu negative thinking, nanti kamu berpikir kalau aku akan tertarik pada perempuan lain yang lebih seksi, kan gawat. Kita tidak pernah tahu apakah Allah akan selalu melempengkan pikiranmu itu ataukah tidak. Kalau pikiranmu kacau, yang kasihan itu anak-anak kita, ya kan?"
Euwww... panjang sahutannya, membuatku yang waktu itu sedang makan langsung mendorong piring camilanku. Aku merengut.
Tetapi, yang dikatakan oleh Mas Ilham itu memang ada benarnya. Bukan soal aku takut dia tergoda pada perempuan lain, atau oleh pikiranku yang akan menyetirku ke arah yang aneh-aneh. Bukan. Aku percaya penuh padanya. Tapi aku ingin tetap tampil cantik untuk suamiku yang tampan dan gagah, supaya kami tetap serasi sepanjang masa. Maksudku... minimal aku nggak malu-maluin jadi istrinya. Dia kan tampan dan gagah, masa aku jelek? Kan jadinya tidak serasi, nanti aku malah minder sendiri. Tidak mau dan tidak boleh! Aku mesti selalu cantik, manis, anggun, plus seksi untuk suamiku.
Well, setelah persalinan ke-lima ini, tepatnya setelah aku mencukupi ASI bagi bayiku dengan optimal selama enam bulan, aku berjanji akan fokus mengembalikan bentuk tubuhku seperti semula. Menjadi istri yang seksi untuk kehangatan rumah tangga kami. Mahligai cintaku yang indah dan bahagia. Sempurna, sesempurna malam ini.
Seperti biasa, setelah menatap wajah tampan Mas Ilham dan kelima buah hatiku, aku mengganti popok-popok mereka, menaruh -- tepatnya membuang -- bekas popok yang sudah terpakai itu ke tempatnya, lalu memunguti botol-botol dot yang sudah kosong. Aku baru saja hendak ke kamar mandi dulu sewaktu Mas Ilham terbangun. Sambil mengosok-gosok kelopak matanya dengan kedua tangan, ia memanggilku, "Sayang," katanya.
"Emm?"
"Apanya?"
"Botol dot khusus milikmu, yang ada di sini."
Hmm... kuhela napas dalam-dalam, dan aku terkikik geli. Lihat, kan, dia masih segesrek dulu. Dan tak akan pernah berubah.
"Oke. Tolong bawakan ke kamar pengantin kita."
__ADS_1
Yap, kamar pengantin. Kamar yang sama dengan kamar di mana kami melewati malam pertama kami dulu, di malam pengantin. Seperti yang Mas Ilham janjikan dulu, di kamar itu kami akan merayakan ulang tahun pernikahan kami, mengingat semua kenangan manis yang sudah kami lalui di sepanjang tahun usia pernikahan kami, dan, kamar yang dihias dengan indah. Meski sederhana, namun dekorasinya membuat kamar itu layak disebut sebagai kamar pengantin -- untuk pengantin: aku, mempelai yang akan selalu dianggap sebagai pengantin baru oleh suamiku.
Dengan semangat, Mas Ilham bangkit dari posisinya, setelah mencium kelima putranya, dia datang kepadaku, menggendongku ke kamar pengantin kami. Pintu tertutup dan terkunci di belakang punggungnya, dan ia membaringkan aku di ranjang pengantin itu, di bawah kungkungannya.
"Selamat ulang tahun pernikahan yang ke-enam, Zahra. Akan kutunaikan semua janjiku padamu."
Ah, mesranya. Mempelai wanita ini tersipu, dan sangat bahagia. Kubelai wajah tampan Mas Ilham seraya berkata, "Terima kasih atas cinta yang menghangatkan. Kamu yang terbaik, dan aku bahagia karenamu."
"Aku pun bahagia karenamu." Dan satu ciuman manis menempel di keningku. "I love you, Salsabila Azzahra binti Muhammad Siddiq. Aku mencintaimu, dan akan selalu mencintaimu."
Dan malam indah itu pun berlanjut. Di bawah cahaya lampu temaram, sepasang pengantin merajut cinta yang tak akan pernah usang. Dia menyelamiku, menenggelamkan kami dalam cinta. Bersatu dalam kehangatan.
"Masih sama, bukan?"
"Mmm-hmm...."
"Masih hangat?"
"Selalu hangat, Mas."
"Em, dan kau memabukkan, Zahra. Kau membuatku tergila-gila. Demi Tuhan, gairah cintaku padamu tak akan pernah padam. Tak akan pernah."
Ya Tuhan... nikmatnya sentuhan suamiku. Menghangatkan. Membuat malam yang indah ini terasa begitu syahdu, meninggalkan aroma manis yang begitu pekat di udara. Aromanya, aroma cintanya. Dari peluh kami yang menyatu.
__ADS_1
Terima kasih untuk cinta yang begitu indah. Kau, Ilham dari Tuhan untukku. Aku mencintaimu, Ustadz Brewok-ku yang tampan. Hasrat cintaku padamu tak akan pernah padam.
I love you. Cinta suci Zahra hanya untukmu. Cinta abadi, dan tak akan pernah lekang oleh waktu.