
Tidak akan pernah lagi.
Aku menggeleng. Sungguh aku tidak meragukan Mas Ilham. Aku hanya lelah, kok keadaan di luar sana malah bertambah parah?
"Aku... aku percaya padamu, Mas. Aku percaya. Sekarang ceritakan, bagaimana bisa ada gosip seperti itu?"
Mas Ilham menghela napas dalam-dalam. "Kamu siap mendengarnya?"
Aku mengangguk. "Ya," kataku. "Tolong ceritakan."
Dan mataku berkaca lagi. Dengan hati cenat-cenut, aku pun menyimak.
"Mobil yang menabrak kita berhasil dilacak berdasarkan keterangan beberapa saksi mata. Tapi... pelakunya tidak bisa diintrogasi. Sebab, orang itu berusaha kabur saat hendak diringkus oleh polisi, tapi naas, dia mengalami hal yang sama. Dia tertabrak mobil saat polisi melakukan pengejaran. Jadi, dia tidak bisa dimintai keterangan. Dan satu-satunya barang bukti yang memberikan keterangan lanjutan -- itu adalah melalui ponselnya. Tapi, itu pun tidak ada pesan apa pun di dalam ponselnya. Yang ada hanya log aktivitas panggilan keluar masuk ke satu nomor. Dan setelah dicek, nomor itu terdaftar atas nama... Puspita."
Hah?
Geleng-geleng kepalaku semakin jadi. Aku menolak, menyangkal. "Aku tidak percaya, Mas," kataku. "Itu maksudnya Puspita dituduh bekerja sama dengan orang itu untuk menabrak kita? Itu tidak mungkin."
"Waallahu'alam, Zahra."
"Terus?"
__ADS_1
"Itu hanya prasangka awal."
"Iya. Tapi kan belum tentu. Mana tahu mereka hanya saling mengenal, saling menelepon, belum tentu--"
Mas Ilham mengangguk, kemudian menaruh jemarinya di bibirku. "Aku tahu, itu belum tentu." Lalu Mas Ilham mengeluarkan ponselnya, dan, menunjukkan foto seorang lelaki berambut gondrong dengan kulit sewarna tembaga. "Kamu kenal orang ini? Ini pelaku yang menabrak kita."
Tidak kenal, sebab itu aku menggeleng.
"Kalau penyelidikan kasus ini dilanjutkan, pasti akan melebar ke mana-mana, dan hanya atas dasar praduga tidak bersalah, padahal buktinya tidak kuat. Bisa jadi ini murni kecelakaan, walau sepertinya memang disengaja. Tapi, kalau memang ada faktor kesengajaan, banyak pihak yang akan terlibat dan dicurigai, baik dari masa laluku, atau dari masa lalumu, bahkan dari sisi Puspitanya. Misalnya, maaf, bukannya aku menuduh. Ini hanya misalnya, misal ada yang menyukai Puspita, dan orang itu salah sangka, dia mengira Puspita ada apa-apanya denganku, lalu ia menyuruh orang untuk mencelakaiku."
"Atau ini kerjaan mantan suaminya?" gumamku.
"Ya, bisa jadi, Mas. Dan kalau sekadar panggilan keluar masuk di ponsel seseorang, belum tentu hal itu bisa dijadikan bukti kalau ia berkomunikasi dengan si pelaku untuk merencanakan soal kecelakaan tragis itu."
Mas Ilham menaruh kembali ponselnya, lalu berkata, "Ya, aku sependapat. Tapi datanya benar-benar datanya puspita, data NIK KTP-nya pun sama. Itu bisa juga berarti ada orang yang menyiapkan rencana ini dengan matang."
"Aku paham. Tapi sulit untuk dipercaya, Mas. Sebab... sebab aku mengenal Puspita dengan baik selama bertahun-tahun. Rasanya... tidak mungkin dia bisa berbuat senekat itu. Dia perempuan yang baik."
Well, akhirnya aku paham bagaimana gosip itu bisa tercetus. Puspita dinilai nekat menyuruh orang bayaran untuk menabrak kami lantaran sakit hati terhadap kami? Karena dia dihamili oleh Mas Ilham dan Mas Ilham tidak mau bertanggungjawab? Atau sekadar untuk menyingkirkan aku plus untuk membuka jalan supaya dia bisa bersama Mas Ilham?
Kurasa begitu opini yang sedang digiring oleh seseorang di balik layar kepada masyarakat, termasuk kepada kami sebagai korbannya. Sungguh, alangkah kejamnya kalau benar seperti itu. Tidak hanya untuk menghabisi nyawaku dan Mas Ilham, tapi dia juga memfitnah Puspita dengan menyalahgunakan data diri Puspita.
__ADS_1
Jadi tetap, aku tidak bisa semudah itu untuk percaya. Mustahil Puspita berpikir pendek seperti itu. Aku mengenalnya dengan baik.
"Gosip ini tercetus dari mana? Siapa akarnya? Yunita?"
Mas Ilham mengangguk lagi. "Sepertinya dia tahu kalau malam itu Puspita ke rumah kita berulang kali. Dan hal ini dimanfaatkanya untuk menuduhku. Mungkin saja begitu."
"Tapi Puspita tidak ditahan, kan? Maksudku, setidaknya belum, kan buktinya belum kuat, ya kan?"
Mas Ilham menggeleng. "Tidak," katanya. "Dia tidak ditahan."
Dan aku pun bernapas lega. Aku bukannya sok baik, tapi aku yakin dengan hatiku bahwa Puspita tidak bersalah. Menurutku, dia justru hanya dikambinghitamkan saja. Lagipula aku tidak tega melihatnya terkurung, dia sedang hamil. Dan aku tahu bagaimana rasanya kehamilan di bulan-bulan pertama. Aku tidak ingin dia dipenjara, kecuali jika dia sudah benar-benar terbukti bersalah.
Oh Tuhan... misteri kecelakaan tragis ini seakan sudah terbawa ke alam baka oleh pelakunya. Seolah tidak ada jalannya lagi.
"Tapi yang terpenting kamu percaya seutuhnya kepadaku. Itu sudah cukup," kata Mas Ilham lagi.
Benar. Dan aku menyuruk ke pelukan Mas Ilham. Di lantai ruangan itu, aku menguatkan diri, dia suamiku, dan aku mempercayainya dengan seutuhnya sebuah kepercayaan.
Biarlah, biarlah misteri kecelakaan itu menggantung. Asal bukan cinta kami yang menggantung, asal bukan kepercayaan di antara kami.
Ilham Zahra akan selalu bersama. Selama-lamanya sampai nanti maut yang akan memisahkan kami.
__ADS_1