
Bagaimana kabarmu, Zahra?
Ah, aku baik-baik saja, kok. Jangan berpikir terlalu edan. Cukup suamiku saja yang edan. Kalian jangan. Oke?
Yap, kami belum bercinta seperti orang sakit jiwa. Mas Ilham menepati janjinya untuk tidak membuatku kelelahan siang ini. Dan katanya, dia juga akan menepati janjinya nanti malam. Janjinya untuk bercinta seperti orang sakit jiwa.
Hmm... dasar edan, ya, dia? Dia membuatku ngeri tapi menanti-nanti, atau menanti dalam ngeri? Ya, begitulah pokoknya. Ngeri-ngreri sedap, namun aku tetap menunggu-nunggu dan menantikan waktunya.
Siang itu kami hanya bercinta dengan ritme santai. Bahkan ia tak ingin melepas bra dari tubuhku karena kami tidak berada di ruang tertutup. Meski tertutup pagar tinggi, namun tetap saja, itu ruang terbuka tanpa atap. Dan aku mesti bertanya saat dia memberitahuku kalau cukup dalaman segitiga itu saja yang ia biarkan mengapung-apung di dalam kolam renang. Dia tidak ingin membuat bagian atas tubuhku polos sepenuhnya.
"Jadi, kenapa kamu melepas dressku?"
"Tidak apa-apa," katanya.
"Jelaskan dong, Mas...," pintaku.
"Aku hanya tidak ingin membatasi duniamu, Sayang," tuturnya. "Setidaknya, ini lebih baik daripada mesti berbikini di pantai. Meskipun di sini juga ada makhluk-makhluk tak kasat mata yang melihat tubuhmu, yang penting bukan lelaki lain. Hanya aku satu-satunya lelaki dari kaum manusia yang boleh melihat indahnya tubuh istriku ini."
Cup! Dia mengecup puncak bahuku dengan mesra. Romantis.
Aku mengangguk-angguk. "Aku paham," kataku. "Terima kasih untuk pengertianmu yang tidak mewajibkan aku untuk selalu menutup aurat dua puluh empat jam."
"Mmm-hmm... mana mungkin juga dua puluh empat jam. Satu jam saja aku sudah tidak tahan untuk membuatmu kembali polos."
Uuuh... dasar....
"Dan omong-omong...."
"Apa?"
"Aku sudah terbakar," bisiknya, lalu ia meraih tanganku dan menaruhnya di lingkar pinggang boxernya. "Lakukan tugasmu, Sayang."
Eh?
Aku terbahak-bahak. "Tugas apa, sih, Mas?" tanyaku sok polos.
"Apa perlu kujelaskan? Hmm? Kurasa pecinta novel roman sepertimu sudah paham tanpa mesti kujelaskan, ya kan? Lakukan sekarang, Zahra."
Ih, geliiiii....
Jari-jariku mendadak kembali kehilangan kemampuan gerak. Dengan susah payah sambil menahan senyum, jari-jariku yang gemetar itu menurunkan boxer abu-abu dari kedua kaki Mas Ilham. Dan, auw....
Sesuatu yang hidup, mendamba, dan penuh gairah membuatku bergidik. Dia on fire.
__ADS_1
"Sudah," kataku seraya menundukkan pandangan. Tubuhku masih terguncang menahan tawa. Benar-benar, ya, permintaan konyol Mas Ilham membuatku terkekeh-kekeh.
Kemudian, belum hilang rasa geliku, Mas Ilham kembali meraih tanganku, menyentuhkannya ke sana, ke dalam air. Ya ampun... tegang, say!
"I am ready. How about you?"
Aku mengangguk malu. "Me too, please... come to me."
Oh, Mas Ilham, satu tangannya yang kekar mengangkat kaki kananku, dan ia pun seketika menyelinap masuk. "Feel me," bisiknya mesra. "Hasrat cinta ini menyala hanya karenamu, Zahra."
Zzzzzt...! Seperti ada sengatan listrik yang menyetrumku dari dalam karena bisikan cinta Mas Ilham yang begitu mesra. Dan kejantanan Mas Ilham yang perlahan masuk, terbenam sempurna di dalam kehangatanku, yang tak bisa kupungkuri -- begitu jelas terasa.
Lalu, dengan segera ia mengangkat kaki kiriku, hingga kedua kakiku, dan kedua tanganku, melingkar erat di pinggang dan lehernya. Dengan kedua lengan kokohnya yang menahan pahaku, Mas Ilham membawaku menepi ke pinggir kolam, menghimpitku ke dinding, dan ia memulai adegan percintaan ini dengan ritme yang santai.
"Aku tidak akan membuatmu kelelahan," katanya, "untuk, siang, ini."
Eh?
"Emm... maksudnya? Untuk siang ini?"
"Mmm-hmm... tetap akan kusimpan tenaga ekstraku untuk nanti malam."
"Nanti malam?" aku tergeragap. "Maksudnya... nanti malam... lagi?"
"Yeah, aku yakin kita tidak akan bisa tidur nyenyak sebelum bercinta habis-habisan. Seperti orang sakit jiwa, Zahra. Seperti, orang, sakit, jiwa. Dan lebih gila dari yang kita lakukan semalam."
"Jangan dipikirkan, itu urusan nanti malam. Sekarang, nikmati saja saat ini. Oke? So, please... rasakan aku."
Ukh!
Ya Tuhan....
Edan! Edan! Edan! Mas Ilham menghentikan irama dan gerakannya, dan, dia menekanku dalam-dalam. Keseluruhan dirinya -- penuh di dalamku.
"Aku bertemu Imam," katanya tiba-tiba, tetap sambil menekankan dirinya kepadaku, dengan seluruh kekuatannya.
Praktis aku kaget. Kok tiba-tiba dia mencetuskan kalimat itu? Di saat seperti ini, pula?
"Bertemu...? Terus... ada... maksudku...."
"Kami bertemu di kantor polisi."
"Em. Lalu...?"
__ADS_1
"Dia ingin merebutmu dariku."
"Oh, aku... aku tahu."
"Tapi dia tidak akan pernah bisa melakukan itu, Zahra. Karena kamu milikku. Selamanya."
Aku mengangguk. Keseriusan cara Mas Ilham bicara membuatku ngeri. Menakutkan. Aku pun berdeham. "Aku milikmu. Selamanya. Emm... tapi... apa ada hal lain yang ia katakan?"
"Em." Mas Ilham mengangguk.
"Apa?" tanyaku takut-takut.
"Dia memintaku untuk... untuk tidak menyentuhmu. Membiarkan keperawananmu, dan jangan pernah memaksamu untuk menunaikan kewajibanmu sebagai seorang istri."
Seketika, Mas Ilham menggeleng-gelengkan kepala dan wajahnya berubah konyol, dia terkekeh-kekeh.
"Laki-laki itu mengira kamu terpaksa menikah. Dan dia berharap kamu masih perawan. Dia mengharapkan mahkotamu masih suci." Lalu Mas Ilham berbisik, "Aku tidak tega mengatakan kebenaran ini kepadanya, Zahra. Kebenaran bahwa," --ia menunduk sesaat, melonggarkan diri, lalu kembali menekanku kuat-kuat-- "kamu sudah sepenuhnya milikku. Semuanya. Keseluruhan dirimu tanpa terkecuali. Bahkan, jangankan keperawanan, hatimu, sepenuhnya sudah kumiliki. Iya, kan, Zahra?"
Lagi, aku mengangguk. "Benar. Tidak akan ada celah untuk masa lalu, atau untuk siapa pun lagi. Cuma kamu."
"Ya, lagipula, kehormatan istriku tidak pantas untuk dibicarakan dengan lelaki lain. Aku saja terkejut, dengan entengnya lelaki itu membicarakan soal keperawanan seorang perempuan."
Mas Ilham benar. Sadar atau tidak, lelaki itu suka sekali melucuti harga diriku sebagai perempuan. Apa pun tujuannya, mestinya ia tidak menyinggung-nyinggung soal itu kepada suamiku. Seolah-olah, yang dia harapkan dariku hanyalah keperawananku saja.
Sejenak, aku menunduk. "Aku tidak tahu mesti bicara apa untuk menanggapi hal ini," kataku malu atas omongan Mas Imam. "Tapi yang jelas aku bersyukur, aku menyerahkan kesucianku kepada orang yang tepat. Kepada suami yang kucintai."
"Yap," kata Mas Ilham. "Seorang pria dewasa dan perkasa, seperti yang kamu idam-idamkan selama ini," imbuhnya.
Ish! Percaya diri sekali... Mas Ilham kembali terkekeh.
"Tapi... tidak salah, sih. Lagipula cocok."
"Apanya, Mas?"
"Semuanya. Tubuhmu yang seksi, kemolekanmu, dan bentuk badanmu yang padat berisi. Semuanya pas. Cocok dan serasi untukku. Coba kalau kamu cungkring, aku tidak akan tega menggempurmu. Bisa remuk kamu kalau kuhantam. Belum apa-apa masuk rumah sakit. Patah tulang."
Hah!
Mas Ilham membuat aku, juga dirinya sendiri tertawa dan nyaris ngakak.
Tentu saja, masa iya perempuan berbadan kurus mesti dihadapkan dengan lelaki kekar? Mending kebalikannya, bukan? Perempuan berbadan gemuk dan lelakinya yang kurus, atau sama-sama kurus. Biar seimbang dan tidak nampak seperti penganiayaan. Takut ringsek.
"Apa, sih...? Kok obrolan kita jadi ngalur-ngidul ke mana-mana?"
__ADS_1
Mas Ilham tersenyum nakal, lalu ia berbisik, "Mau bertempur lebih cepat, Sayang? Jika memang harus, aku tidak keberatan menggunakan tenagaku sekarang."
Euw...! Nanti malam saja, Mas!