Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Suamiku Yang Konyol


__ADS_3

"Masyaallah... empuknya...," ujar Mas Ilham seraya menghempaskan tubuh besarnya di atas ranjang yang super empuk itu. "Sungguh, nikmat mana lagi yang kau dustakan?"


Aku yang tengah memakai handbody sambil duduk di depan meja rias dengan rambut yang masih tergelung handuk hanya memerhatikan seraya menggeleng-gelengkan kepala. Sebabnya, Mas Ilham hanya mengenakan celana panjangnya dan masih bertelanjang dada.


"Kenapa kamu tidak pakai baju?"


"Untuk apa kalau nanti dibuka lagi?"


"Eh?"


"Kasur empuk ini mubazir dong kalau tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, ya kan?"


Hmm....


"Memangnya tidak capek? Kan tadi sudah...."


Ya Tuhan... cengiran lebar itu, edan sekali. "Tadi itu hanya sedikit pemanasan, Sayang. Aku belum menggilaimu."


Hah!


Praktis, dia membuatku semakin menggeleng-gelengkan kepala. "Kalau tahu begitu... aku tidak perlu memakai handbody. Percuma kalau nanti keringatan, lengket."


"Tidak apa-apa. Kan wangi. Aroma tubuhmu akan membuatku semakin bergairah."


Oh, begitu? Tetapi aku tidak menyahut lagi. Setelah selesai dengan ritual handbody itu, aku pun melepaskan gelungan handuk dari rambutku, menyampirkan handuk ke dalam kamar mandi dan kembali ke meja rias, menyisir rambut.

__ADS_1


"Sayang."


"Emm?"


"Sudah tiga bulan. Bagaimana perasaanmu?"


"Maksudnya? Aku bahagia dong, Mas. Apalagi bersuamikan lelaki sempurna seperti Mas Ilham."


Dia tersenyum. "Waktu berjalan dengan cepat," ujarnya. "Rasanya masih teringat jelas semua yang sudah kita lalui. Bahkan masih teringat jelas di benakku sewaktu pertama kali aku melihat aura kecantikanmu di malam pengantin itu, dengan auratmu yang terbuka."


"O ya? Bukannya pertama kali kamu melihat auratku sewaktu kamu pertama kali masuk ke kamarku? Waktu aku selesai mandi."


Euw... Mas Ilham cekikikan. "Iya, ya. Waktu kamu kaget setengah mati, terus kamu lompat lagi masuk ke kamar mandi."


"Memangnya lucu? Ketawa-ketawa," sungutku.


"Malu, Mas...." Lalu hening sejenak. "Eh, kan pertama kali kamu melihatku tanpa hijab itu waktu aku dirawat di rumah sakit. Waktu aku tertabrak motor."


Motor. Kata itu kembali memancing ingatanku akan kecelakaan yang kami alami. Justru peristiwa kecelakaan yang kedua kali itu yang lebih berkelebat dalam ingatanku. Kecelakaan yang akhirnya membuat Mas Ilham memberikan motor kesayangannya itu kepada sang adik. Bahkan, aku tidak pernah melihatnya lagi selepas motor itu selesai diservice. Bukan karena trauma melihatnya, melainkan karena dia tidak ingin lagi mengajakku naik motor. Katanya, benda itu kurang aman untukku.


Mas Ilham berdeham. "Ya, waktu itu."


"Aku boleh tanya sesuatu?"


"Apa?"

__ADS_1


"Tapi jawab dengan jujur, ya?"


"Em, mau tanya apa?"


"Waktu pertama kali kamu melihatku tanpa hijab, apa yang kamu pikirkan waktu itu?"


Mas Ilham tersenyum, semringah. "Cantik," tuturnya.


"Nah, waktu itu kan aku belum sadar. Apa yang terlintas di benakmu melihat auratku -- maksudku, aurat bagian atasku yang terbuka begitu?"


Dengan luwes, Mas Ilham bangkit dari posisi baringnya, lalu ia duduk bersandar di kepala ranjang. "Maksudnya? Waktu itu aku tidak menyentuhmu sedikit pun, lo, ya. Sumpah."


"Masa? Ciyus?"


"Serius... tidak sama sekali, Sayang...."


"Kalau kepingin pegang-pegang? Belai-belai wajahku, gitu?"


Kali ini ia nyengir, dan itu merupakan jawaban yang jujur. "Yeah," akunya. "Kepingin iya, memang ada rasa kepingin. Bohong kalau aku bilang tidak."


"Seorang ustadz bisa begitu?"


"Ustadz juga manusia biasa, Sayang...."


"Oooh...."

__ADS_1


"Eh, aku lelaki normal, ya. Itu sifat alami, manusiawi. Sudah kodratnya lelaki normal," cerocosnya.


Fix, aku jadi cekikikan.


__ADS_2