
Pejamkan matamu, lalu tataplah kegelapan.
Nasihat ibuku kalau aku tidak bisa tidur waktu kecil dulu, dan aku ingin melakukannya sekarang. Aku menatap ke dalam kegelapan tak bertepi yang menghampar jauh melebihi kelopak mataku yang terpejam. Walaupun aku berbaring tak bergerak di bawah, aku merasa sedang bertengger di puncak paling tinggi yang mungkin kucapai: menggelayuti bintang di langit malam dengan kedua tungkai menggantung di atas kehampaan hitam nan dingin. Sekali lagi kulihat jemariku yang menggenggam cahaya itu, lalu melepasnya. Maka terjunlah aku, terjatuh, kemudian melayang, lalu kembali terjatuh, menunggu pendaratan akbar itu.
Sekarang aku tahu, bahwa di balik tirai tipis mata yang terpejam, terdapat warna. Warna itu mengusikku, menantangku untuk membuka mata. Kilas merah dan ambar, kuning serta putih menodai kegelapanku. Aku menolak membuka mata. Aku berontak dan kupejamkan kelopak mataku semakin rapat untuk menghalau butir-butir cahaya, gangguan semata yang membuatku tetap terjaga namun sekaligus pertanda bahwa ada kehidupan sesudahnya.
Tapi tidak ada kehidupan di dalam diriku. Tidak dari apa yang yang dapat kurasakan, dari tempatku tergeletak tadi, di tepi jalanan beraspal. Jantungku berdebar lebih kencang sekarang, satu-satunya petarung yang tersisa di dalam ring, yang kalah namun tidak mau menyerah. Itu satu-satunya bagian dari diriku yang peduli, satu-satunya bagian yang pernah peduli. Ia berjuang memompa darah ke segala penjuru untuk menyembuhkan, untuk menggantikan yang hilang dariku. Namun jika tidak, aku tidak terlalu keberatan.
Karena di sini, di dalam rahimku ini, dia sudah tiada. Dia gugur. Demikian yang kurasa. Aku ingin menemaninya di sana. Di sana... mana? Di mana pun. Di mana pun sekarang ia berada. Dia, lelaki atau perempuan, masih begitu muda, akan seperti apa dan menjadi siapa dia nanti, masih berupa pertanyaan. Tapi di sana, aku akan menjadi ibunya.
Di sana, bukan di sini.
__ADS_1
Aku akan mengatakan: Maafkan aku, Sayang. Maaf aku telah merusak peluangmu, peluangku -- peluang kita hidup bersama. Tapi pejamkanlah matamu dan tataplah kegelapan sekarang, seperti yang kulakukan, maka kita akan menemukan cara untuk tetap bersama.
Tetapi...
"Assalamu'alaikum, Zahra. Kamu bisa mendengarku, Sayang? Bisa, kan? Aku mohon bertahanlah, Zahra. Aku di sini. Ilham-mu di sini."
Aku tidak ingin bertahan, dan ingin mengatakan itu kepadanya. Kudengar diriku mengeran*, *rangan serupa hewan yang mengejutkanku, membuatku takut. Aku punya rencana, begitu yang ingin kukatakan kepadanya. Aku ingin pergi, hanya dengan itu aku bisa bersama dengan bayiku.
Waktu itu, bukan sekarang.
"Kamu tahu," katanya, ia terisak semakin keras. "Aku... aku sudah memohon kepada-Nya agar jangan mengambil Zahra-ku. Sekarang aku juga memohon kepadamu, jangan tinggalkan aku, Zahra. Aku tidak mau kehilanganmu. Kamu tahu aku pernah mengalami kepedihan ini. Kamu tahu aku tidak mau ini terjadi lagi. Kamu kasihan kepadaku, kan? Maka bertahanlah. Aku mohon. Aku mohon, Zahra. Aku ingin di sini bersamamu. Bahkan jika harus, aku akan terus memohon. Seperti dulu, kamu suka aku mengejar-ngejarmu, kan? Bahkan sekarang aku bukan sekadar mengejarmu, aku mengiba padamu, Zahra. Jangan tinggalkan aku. Atau seperti setelah kita menikah, kamu akan selalu mendengarkan perintahku. Sekarang aku pun ingin memerintahmu. Bangun. Bangunlah. Tolong bangunlah, Zahra. Aku tahu kamu wanita tangguh, kamu kuat. Kamu tidak akan meninggalkan aku, ya kan? Ilham ini datang kepadamu, tolong jangan kamu tinggalkan. Jangan... jangan pernah. Tolong kembali... kembali kepadaku, Zahra. Bangun... bangun... bangun, Zahra. Bangunlah. Aku mohon...."
__ADS_1
Air mataku tumpah.
Mungkin belum waktuku untuk pergi.
Ayahmu lebih membutuhkanku, Sayang. Sungguh aku sayang padamu, aku ingin bersamamu. Tapi dia... dia Ilham-ku. Dia cahaya yang pernah datang menerangi kehidupanku. Dia membutuhkanku, dan menginginkanku untuk tetap di sini.
Kurasakan kulit kasar tangan Mas Ilham merema* tanganku, dan kehangatan serta keakrabannya memaksaku membuka mata. Cahaya memenuhi mataku, dan kulihat sekilas wajah suamiku, wajah yang diliputi duka dan lara dengan matanya yang terpejam. Buliran bening mengalir deras dari sana. Aku tahu aku sudah kehilangan bayiku -- tidak hanya aku, tetapi dia juga. Dan aku tidak bisa membiarkan dia kehilanganku juga. Dalam membuat keputusan, aku sudah mulai berduka. Aku sudah mendarat sekarang, ke dasar kehidupanku. Dan jantungku masih terus memompa.
Sekalipun hancur berkeping-keping, jantungku masih berfungsi.
Ada janji yang mesti kutepati, janji untuk tetap kuat. Meski ternyata bukan untuk anakku, tapi janji ini untuk suamiku. Ilham yang datang kepadaku, dan aku tidak akan pernah meninggalkannya.
__ADS_1
Belum waktunya bagiku untuk pergi. Belum.
Aku masih harus di sini. Bersamanya....