Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Sesuatu


__ADS_3

"Sebentar, Mas," kataku, menghalau ciuman Mas Ilham pada bibirku.


Praktis kening suamiku itu mengerut. "Ada apa? Masih ada yang mengganggu pikiranmu?"


Kutundukkan pandanganku sejenak, lalu kembali mengangkat wajah. "Aku tahu kamu pasti percaya padaku. Tapi... bagaimana dengan... keluarga kita?"


"Inshaallah, semua orang percaya padamu."


"Meski fitnah dan gunjingan ini terjadi berulang kali?"


"Ya, meski berulang kali. Tidak ada satu pun dari keluarga kita yang tidak percaya padamu. Jadi, jangan khawatir. Oke?"


Aku menghela napas dalam-dalam, lalu mengangguk. Dan... memberikan bibirku kepadanya. Kami berciuman -- ciuman yang begitu dalam dan sepenuh perasaan. Tidak seperti kemarin-kemarin yang rasanya sakit sekali, meski Mas Ilham sudah mencoba untuk menciumku berulang kali setiap ada kesempatan ketika kami hanya berduaan. Tapi tidak bisa seperti ini, tidak bisa sepenuh hati.


Tapi sekarang aku bisa. Sekarang, tidak kemarin, tidak tahu nanti atau esok hari. Hari ini, saat ini aku bisa.


"One more, please...?" pintaku.


Tentu saja, dengan senyuman manisnya, Mas Ilham menciumku sekali lagi.

__ADS_1


Aku tersenyum, bahagia -- dengan sedikit getir. Sedikit pahit itu masih terasa. Tapi tidak apa, setidaknya saat ini aku mensyukuri sedikit kebahagiaan yang menyelinap ke dalam hati. Kebahagiaan bahwa suamiku masih di sini. Masih bersamaku. Masih mencintaiku. Masih dengan segala perasaan dan kepercayaan yang sama.


"Sudah, ya, Sayang. Aku khawatir aku akan kesulitan menahan hasratku," bisiknya.


Dan aku tertawa. "Baiklah. Sudah," kataku. "Aku tahu kamu tidak akan tega memintaku melakukan servis khusus itu."


"Hu'um, tentu tidak tega. Aku akan menunggumu sampai kondisimu benar-benar pulih."


Aku mengangkat sebelah alis. Tersenyum. "Oke...," kataku. "Aku percaya. Tapi aku juga percaya kalau kamu tidak akan menolak untuk menciumku sekali lagi, hmm?"


"Permintaan atau perintah?"


"Well, seperti yang kamu inginkan."


Tentu, bahkan hampir dua menit penuh. Kurasa. Ciuman yang manis, masih dengan rasa yang sama. Kalau tidak sedikit getir, maka rasanya akan benar-benar sama dan tidak ada yang berbeda.


"Sudah belum?" tanya Mbak Indah yang membuka pintu dengan super perlahan sambil nyengir. Dia baru saja selesai mengurusi administrasi rumah sakit dan kembali ke ruang rawat kami. Lalu muncul Mas Muslim di belakangnya dengan satu kursi roda baru.


Aku ingin berjalan dengan kakiku saja sebenarnya, dan Mas Ilham ingin menggunakan tongkat, tapi kedua saudara tertua kami itu cerewet dan memaksa kami untuk menggunakan kursi roda. Ya ampun, seperti sepasang manusia....

__ADS_1


Ah, tidak. Syukuri saja, apa pun keadaan ini.


"Oh ya, Mas," kata Mas Ilham kepada Mas Muslim. "Keberatan tidak kalau kalian mengantarkan kami ke rumah Umi Windari dulu?"


Aku ingin menyela, ingin bertanya, namun kuurungkan. Mas Muslim dengan sigap mendahului. "Baiklah. Argo berjalan, ya," guyonnya, lalu ia cekikikan.


Mas Ilham tersenyum, menanggapi guyonan Mas Muslim dengan santai, lalu ia berpaling ke arahku. "Aku ingin mengenalkanmu dengan seseorang, dan seorang anak kecil. Kurasa ini waktu yang tepat. Mau, ya?" kata Mas Ilham.


Jujur, ada sedikit gelombang emosional mendengar kalimat yang baru saja ia tuturkan itu: mengenai waktu yang tepat. Sebab, kurasa ini bukanlah waktu yang tepat. Aku... maksudku -- sisi negatif dalam diriku menolak, dan bahwa ini bukanlah waktu yang tepat. Aku baru saja kehilangan janinku, kenapa ini malah dianggap sebagai waktu yang tepat untuk berkenalan dengan anak kecil? Dan anak itu....


Aku tahu. Aku tahu siapa anak yang dimaksud.


Tapi, di dalam hati ini, aku memaksakan diri untuk berpikir positif. Aku bisa menahan hatiku. Mas Ilham tidak mungkin bermaksud untuk menyakitiku.


"Baiklah, aku mau," jawabku, sambil memaksakan senyum di wajahku.


Namun sekali lagi -- tapi: hatiku jadi gelisah di sepanjang perjalanan.


Aku tahu, pasti akan ada penjelasan dan makna di akhir rencana ini. Sesuatu. Apa pun itu....

__ADS_1


__ADS_2