
"Cari pahala, yuk?" ajakku, sedangkan tanganku sudah lebih dulu menyelinap ke balik pakaiannya.
Hah! Mas Ilham kaget. Dia nyaris tidak bisa menahan tawanya. Maklum, biasanya kan dia yang mengajakku. Kalau kuingat-ingat, selain di malam pengantin itu, ini baru ke berapa kali aku yang berinisiatif menawarkan diri kepadanya.
"Oh, kamu benar-benar tidak bisa absen walau hanya semalam. Hmm?"
Aku menggeleng dengan senyuman hangat membelah wajah. "Nanti akan ada masanya gairah itu menurun dengan sendirinya. Selagi ia masih membara, kenapa mesti menahannya? Iya, kan?"
"Well--"
"Ssst... jangan banyak bicara. Buka saja sarungmu."
"Wow... istriku bar-bar juga ternyata, ya. Kamu ingin menyerangku? Hmm?"
Bug!
__ADS_1
Aku mendorong Mas Ilham hingga ia terlentang di ranjang, lalu aku segera menindihnya. "Tidak perlu dengan kata-kata. Cukup kutunjukkan, dan akan kulakukan." Tanganku sudah bergerak menarik sarungnya. Dan, terlepas -- beserta boxer hitam yang ia kenakan. "Kamu tidak akan keberatan kalau aku seperti ini, ya kan? Akan kutunjukkan kepadamu betapa aku mencintaimu."
Mas Ilham tersenyum. Lalu, dengan satu tangan terangkat, dia membelai wajahku dalam cahaya temaram. "Zahra yang terbaik," pujinya dengan cengirannya yang edan.
"Aku memang yang terbaik, Mas," kataku, lalu...
Aku menciumnya, menikmati bibir manis itu dengan segenap cintaku. Mencari, menyentuh, dan menjelajahinya dengan lidahku. Setelahnya, saat aku mengangkat kembali wajahku dan memandanginya, Mas Ilham kembali tersenyum. "Sebaiknya jangan terlalu menunjukkam keterampilanmu, Zahra. Atau kalau tidak, aku akan sering memintamu untuk melakukannya. Barangkali setiap malam. Sungguh, kau akan membuatku ketagihan."
"O ya?" Tanganku bergerak di bawah. "Kurasa aku tidak keberatan. Sama sekali tidak akan pernah keberatan." Lalu aku mengecup tengkuk lehernya.
Hmm... menikmati sekali, ya, dia?
Okelah. Aku mesti turun, waktunya karokean. Eh?
Ckckck! Bercanda, ya...! Pokoknya itu, apa pun bahasa yang ingin kau gunakan.
__ADS_1
Tapi yang pasti... aku suka sekali melihat reaksi Mas Ilham karena sentuhanku. Dan *rangannya... seksi sekali. Sampai-sampai dia gelisah di saat tegangannya sudah terlalu sempurna.
"Cukup, Zahra. Please...."
Akhirnya dia tidak tahan untuk menyatu denganku. Well, aku berhenti. Lalu, dengan mudahnya kulepaskan dress beserta dalamanku, dan aku menyilangkan kaki di atasnya. Dan kemudian....
Sssssh... rasanya teramat jelas. Kejantanan yang terapit dalam kesempitan. Dan di saat dirinya mencapai dasar kedalamanku... oh, Tuhan....
Bersyukurlah atas nikmat yang kau dapatkan, Zahra....
Mas Ilham mengangkat kakinya, lalu menekuk lututnya dan menekankan tumitnya di ujung ranjang. "Aku selalu menyukai kehangatanmu, Zahra. Sungguh kau membuatku tergila-gila," Mas Ilham mericau, dengan jemari yang aktif menjelajahi inci demi inci tubuhku, membelai mesra, mengelus dengan manja, lalu mengecup gemas apa yang ada di depan matanya. Dalam keheningan malam, dan di bawah cahaya yang temaram, dia membawaku menyusuri indahnya surga cinta yang selalu ia janjikan.
Oh, betapa indahnya....
Aku beruntung, aku memiliki lelaki terbaik seperti dirinya, yang akan selalu bersamaku dalam keadaan apa pun. Lelaki yang akan mempercayaiku meski dunia menjatuhkanku tanpa ampun. Sungguh, tidak akan ada fitnah yang mampu memupus cintanya, cinta suci Ilham untuk Zahra.
__ADS_1
"I love you, Mas. Aku cinta padamu."