
Hampir jam dua dini hari, aku masih belum bisa memejamkan mata. Namun, karena Mas Ilham terbangun, jadinya aku pura-pura tidur, aku tidak ingin pikirannya terbeban jika ia melihatku yang gelisah di sepanjang malam. Sebab itu, kupejamkan mataku saat melihat Mas Ilham bangkit dari posisi tidurnya, ia pergi ke kamar mandi dan keluar dalam waktu yang cukup lama. Saat dia keluar...
Dia memakai handuk dengan rambut dan tubuhnya yang basah. Rupa-rupanya ia mandi wajib di tengah malam.
"Kamu mandi, Mas?" tanyaku.
Dia mengangguk, dan tersenyum kecil. "Ya," katanya.
"Kok malam-malam begini mandi?"
"Mau tahajud, Sayang."
"Oh." Aku manggut-manggut. "Kamu rajin tahajud, ya?"
Eh? Kelihatan sekali tidur kebo-ku sampai-sampai aku tidak tahu kebiasaan suamiku. Hmm....
Mas Ilham menggeleng, langsung berjalan ke arah lemari seraya berkata, "Tidak juga," tuturnya. "Hanya kalau terbangun tengah malam. Kalau tidak, ya tidak. Kamu sendiri?"
"Em? Apanya?"
__ADS_1
Mas Ilham mengambil pakaian bersih lalu memakainya. Kemudian, dengan santai ia berkata, "Tahajud."
"Oh, itu. Emm... belum pernah," akuku jujur walau itu memalukan.
Jujur, sebenarnya dulu sewaktu aku mengenyam pendidikanku di pesantren, aku pernah tahajud. Tetapi, sejak melihat Umi sering menangis di tengah malam, aku mulai enggan beribadah. Mungkin... karena aku marah pada Tuhan. Sebab, ia menakdirkan hal buruk terhadap ibuku. Yeah, karena sifat burukku hanya di level medium, tidak tahu kenapa: amalan wajib tetap kujalankan, termasuk salat, puasa, dan menutup aurat. Waktu itu aku hanya tidak ingin seratus persen salehah. Selain karena amarahku atas dipoligaminya ibuku, juga demi supaya Abi tidak besar kepala dan merasa berhasil sudah mendidikku dengan baik hingga tumbuh menjadi anak perempuannya yang salehah. Aku ingin dia merasa gagal dalam mendidikku, dan, juga merasa bersalah kepadaku karena membagi kasih sayangnya kepada anaknya yang lain.
Mas Ilham hanya tersenyum. "Kalau terbangun tengah malam, sering? Mungkin karena haus, kedinginan, kebelet pipis, atau terbangun karena sesuatu lainnya?"
Aku mengangguk.
"Bisa jadi itu karena Allah merindukanmu."
"Aku salat sebentar, ya," katanya.
Lagi, aku mengangguk, tapi aku tetap duduk bersandar di kepala ranjang. Mungkin lain kali aku akan mengikuti semua amalanmu, Mas. Tapi sekarang, hatiku sedang bergejolak dengan amarah.
"Hei, melamun?" tanya Mas Ilham sekian menit kemudian. Dia baru saja selesai tahajud, plus mengaji walau hanya sebentar. "Kamu memikirkan apa?" tanyanya.
Aku menggeleng, lalu memeluk Mas Ilham yang sekarang sudah duduk di sampingku.
__ADS_1
"Masih memikirkan...?"
Aku mengangguk. "Puspita cerita ke Yunita," sahutku langsung ke intinya. "Sepertinya dia musuh dalam selimut. Dia... mungkin dia tidak suka dengan hubungan kita. Bisa jadi... dia masih mengharapkan... kamu."
"Sudah berburuk sangkanya? Hmm?"
"Mas... kok kamu malah--"
"Jangan suuzan. Bisa jadi dugaanmu itu benar. Tapi kalau salah? Bagaimana? Prasangka burukmu bisa mengotori hatimu. Bahkan itu bisa jadi fitnah."
"Hmm... aku tahu...! Tapi kan ini konteksnya seperti ini...! Mpus bilang dia tidak memberitahu siapa pun selain Yunita. Pasti Yunita yang koar-koar. Bisa jadi dia sengaja bilang ke Mas Imam, ya kan? Dia hasut. Jadinya...."
Ssst... seperti biasa, jari-jemari Mas Ilham menempel di bibirku supaya aku diam. "Biarkan saja. Bahkan kalau mereka memang berhubungan, atau sekongkol sekalipun, biarkan saja. Lagipula ini sudah masuk bulan suci Ramadhan. Hari ini kita sudah mulai puasa yang pertama. Jadi... bersihkan hati, yuk? Oke?"
Huffft... baiklah. Puasa di tahun 2016, puasa pertamaku sebagai seorang istri sudah datang menyapa -- dengan lika-liku kehidupan.
"Akan kucoba, Mas. Inshaallah."
Semringah, Mas Ilham langsung mengeratkan pelukan. "Besok buka puasa pertama, kita ke rumah Abi, ya? Buka bareng keluargaku, oke? Kita beritahukan kepada mereka tentang kabar bahagia ini. Kedua orang tua kita pasti akan bahagia. Yang satu mendapatkan cucu pertama mereka, dan yang satunya menambah cucu baru. Cucu ke-tiga."
__ADS_1
Hmm... Mas Ilham begitu antusias. Sedangkan aku: auto lemes. Hatiku berdebar kencang. Bagaimana tanggapan kedua mertuaku dan ipar-iparku nanti saat kami datang ke sana?