Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Have Fun!


__ADS_3

Baiklah. Inilah waktunya untuk kami, sepasang pengantin baru.


Demi menyenangkan suami, kubuka pakaianku. Dengan style ala-ala bikini pantai, aku pun berbaring di atas matras: terlentang, dengan pose seksi dan semenggoda mungkin. Terbaiklah pokoknya.


Saat Mas Ilham sudah sampai di bagian ujung kolam dan muncul ke permukaan, lagi-lagi senyuman bahagia itu membelah wajah tampannya.


"Ayo lanjut...!" aku berseru keras kepadanya, membuat gairahnya seketika kembali memuncak. Dia lekas-lekas keluar dari air dari area ujung kolam dan memilih berjalan cepat untuk menghampiriku.


Dan sekarang kami bersama, dengan semangat empat lima Mas Ilham bertelungkup di atasku. "Kuharap tidak ada lagi iklan lewat setelah ini," katanya. "Iklan yang sungguh menyiksa."


Ckckck! Dasar....


"Mmm-hmm... mudah-mudahan. Tapi kita tidak perlu membahas apa pun. Jangan membuang-buang waktu yang berharga ini, ya kan? Karena aku sudah ada di sini. Untukmu."


Mas Ilham mengangguk. "Dan sesuai kesepakatan," bisiknya. "Mari, kita nikmati cinta ini. Bismillah, Zahra. I love you."


Uuuuuh... manis sekali. Dan aku akan menepati kesepakatan di antara kami, bahwa: apa pun perasaan pahit dan getir yang kami rasakan dalam momen ini, kami harus menahannya. Meski rasa kehilangan terus terbayang dan merongrongku dari dalam, aku mesti menahannya. Apa pun itu tidak boleh diungkapkan dan tidak perlu dibahas di saat kami memulai babak baru dalam kehidupan rumah tangga kami. Ikhlas mungkin sulit, masih sangat sulit. Tapi terus berusaha menerima kenyataan, itu yang mesti kami lakukan. Berusaha, dan berikhtiar lagi. Kata Mas Ilham, kalau kita ikhlas, mudah-mudahan yang Mahakuasa lekas menggantinya. Namun jika belum, berarti Ia menghendaki kami untuk terus ikhlas. Dan itu harus bisa, meski itu sangatlah sulit bagiku.

__ADS_1


"I love you too, Mas."


Mata itu berbinar. Lalu, dengan sapuan manis dari bibirnya, Mas Ilham menyelinapkan tangannya ke bagian belakang tubuhku, membuka pengait bra-ku dan menanggalkan benda itu dari tubuhku. Dan... dia membenamkan wajahnya di dadaku. Cukup lama, hingga aku sedikit canggung, apa yang dia lakukan? Sebegitu menikmati kemesraan di antara kami karena rasa rindunya pada kehangatan romantisme cinta ini?


Yap, mungkin saja. Bisa jadi begitu.


Setelah beberapa saat kemudian, saat dia kembali mengangkat wajahnya dan menatap ke dalam mataku, tangannya menelusur ke bawah. Dia membelaiku, membuai hingga aku siap untuk penyatuan yang hakiki, yang pertama sejak hari itu, dua minggu yang lalu....


"Aku kangen sekali padamu, Zahra," katanya, berbicara pelan tanpa mengurangi intensitas dari tatapan matanya.


Aku mengangguk, aku memiliki jawaban yang tak tersampaikan -- bahwa, aku juga sangat merindukannya. Rasa kangen yang sama besarnya seperti yang Mas Ilham rasakan.


Tidak, kuralat, maksudku -- tanpa apa pun, namun tertutup selimut.


"Well, gadis perawanku," ia berbisik, "tahan sakitmu untukku, Zahra."


Ya Tuhan... pria ini. Dia edan sekali.

__ADS_1


"Akan kutahan sakitku untukmu," kataku balas berbisik. "Ayo, silakan, renggutlah keperawananku. Aku bahkan sudah tidak tahan lagi."


Tapi dia malah terbahak. "Dasar... istriku yang edan," ledeknya.


Hmm....


"Aku?"


"Ssst...."


"Apa?"


"Jangan bahas apa pun lagi. Nikmati saja ini."


Ukh!


"Mas...," aku mengeran*.

__ADS_1


Ya Tuhan... ini senikmat pertama kali.


"Bagaimana, Zahra?"


__ADS_2