Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Mas Ilham....


__ADS_3

Hilang selera. Kami semua jadi malas makan. Namun, mau tidak mau, demi kesehatan dan tidak zalim terhadap diri sendiri, kami mesti menelan jua makanan yang ada di hadapan kami. Mas Ilham dan Mas Farid bisa bertindak bijak untuk hal ini. Kami diajak ke restoran, mereka memesan makanan, dan menyuruh kami melahap habis semua yang mereka pesan. Tidak boleh mubazir. Mas Ilham juga memesankan makanan untuk Bulik Sulastri dan akan kami bawa ke kantor polisi.


Setelah bertemu dengan Bulik Sulastri, Mas Farid menjelaskan kepadanya apa yang sudah terjadi pada Laili. Dalam kesedihannya, Bulik meminta kami untuk segera membawa kedua anak gadisnya itu ke Rembang. Bulik juga menitipkan surat untuk Abi kepadaku, dan memintaku juga untuk menjaga kedua anak gadis itu. Dalam pertemuan itu juga Mas Ilham mengatakan bahwa ia ingin membantu mencarikan pengacara untuk Bulik, sekaligus untuk menuntut hukuman semaksimal mungkin untuk Pak Sobirin. Namun, Bulik menolak. Ia tak ingin merepotkan lebih banyak lagi. Katanya, kami mau mengurus Laila dan Laili, memberinya makan dan tempat tinggal, serta menyekolahkan mereka, itu sudah jauh lebih dari cukup. Ia tak ingin merepotkan lebih banyak. Sementara aku tidak bisa mengatakan apa pun, mendukung Mas Ilham, berarti aku juga membuatnya lebih repot. Tak mendukungnya, berarti aku tak mendukung bantuan untuk Bulik Sulastri. Jadi, ya sudahlah, aku diam saja. Bulik menolak, berarti itu yang ia inginkan. Dan aku berusaha menganggap kalau itulah takdir terbaik yang digariskan oleh yang Mahakuasa. Itulah yang Ia kehendaki.


Tetapi, nyatanya hati nuraniku tak bisa berbohong. Aku merasa kok diriku tega tak mengusahakan yang terbaik untuk Bulik Sulastri. Tapi, mau bagaimana, sebagai orang yang bukan dari kelas atas, tabunganku tak mungkin cukup untuk menyewa pengacara. Mau meminta bantuan dari Lembaga Bantuan Hukum pun pasti tetap akan ada biayanya, setidaknya transportasi untuk kami ketika kami mesti bolak-balik ke Solo saat ada jadwal persidangan. Meminta biaya kepada Abi pun rasanya aku tidak sanggup. Sebab, Abi mesti membiaya sekolah Laila dan Laili. Abi juga punya tanggung jawab terhadap kedua istri dan anak-anaknya yang masih kecil, apalagi istri keduanya sedang hamil dan akan melahirkan. Abi mesti menyisihkan dana khusus untuk biaya persalinan dan biaya ini itu untuk si bayi.


Yeah, walaupun aku marah atas kehamilan itu, padahal Abi sudah tua dan sudah pantas punya cucu kok malah punya bayi, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Bayi itu punya hak untuk hidup, belum lagi dari sudut pandang kalau ia merupakan anugerah dari Sang Pencipta, aku makin tak bisa berkutik.


Sebenarnya, aku bisa saja mengatakan kalau semua itu bukan masalahku, bukan urusanku, dan bukan tanggung jawabku. Tapi nurani tidak bisa bilang begitu. Dalam ketidakberdayaanku, aku hanya bisa diam. Sejak sepulang dari kantor polisi, lalu kami kembali ke rumah Pak Sobirin untuk mengambil barang-barang yang sudah kami packing, aku menjadi sosok yang kehilangan gairah hidup, meski aku berusaha untuk menjadikan segalanya baik-baik saja, berusaha ceria di depan semua orang, terlebih di depan Laila dan Laili, namun di dalam benak dan pikiranku tetap ada sesuatu yang mengganjal, rasanya tidak plong. Apalagi ketika aku mengingat Pak Sobirin, apa dia akan mendapat hukuman yang setimpal seperti harapan kami, ataukah tidak -- hatiku jadi nelangsa.


Sejak pulang dari Solo, rasanya sulit sekali mengendalikan hatiku supaya kembali seperti sediakala. Aku mumet. Merasa gagal dalam setiap usahaku yang tak bisa memperjuangkan nasib Bulik Sulastri dan berjuang untuk keadilan terhadap Laili. Mengingat kekalahanku, dan mengingat kelakuan bejat Pak Sobirin, serta teringat kekerasan hati Bu Ambar, aku kepingin menjerit, pingin memaki, ingin rasanya melampiaskan amarahku pada setiap hal yang menjengkelkan itu.


Dan, gara-gara beban pikiran itu pulalah, aku jadi tidak fokus pada rencana pernikahanku. Memang bukan acara yang akan diselenggarakan secara besar-besaran, tapi tetap saja, banyak hal yang mesti dipersiapkan dan diurus. Meski segala biaya ditanggung oleh pihak Mas Ilham, tapi mereka tetap ingin melibatkanku dalam banyak hal, tak terkecuali dalam urusan wedding organizer dan gaun pengantin kami. Aku tidak ingin banyak ini itunya sih, cuma kepingin memakai gaun putih yang mengembang lebar dan menginginkan Mas Ilham dalam balutan tuksedo putih, hanya itu saja sudah cukup. Untuk dekorasi dan katering, aku tidak ingin ikut campur sebenarnya, maka aku iya-iyakan saja apa yang diinginkan oleh Umi dan juga calon ibu mertuaku. Dan rupa-rupanya, orang-orang di sekitarku menyadari keadaanku yang jadi kurang antusias selama seminggu pertama itu. Mereka juga menjadi khawatir. Tapi aku tak ingin jujur. Maka mereka hanya menyimpulkan bahwa mood-ku dalam keadaan down dan calon pengantin mengalami gugup dan stres berlebihan menjelang hari pernikahan.


Dalam masa-masa itu, sebenarnya Mas Ilham rajin menghubungiku via video call. Dia rajin menanyakan kabarku dan bagaimana perasaanku. Kukatakan padanya kalau aku baik-baik saja. Sampai akhirnya, tepat di hari aku check up ke rumah sakit dan dokter mengizinkanku untuk melepas permanen gendongan tanganku, Mas Ilham yang siang itu menemaniku ke rumah sakit, juga meminta izin pada Umi untuk mengajakku ke suatu tempat.

__ADS_1


"Ke mana?" tanyaku.


Tapi Mas Ilham tetap ingin merahasiakannya. Dia hanya bilang kalau dia ingin mengajakku ke tempat yang mudah-mudahan bisa membuatku kembali ceria. Dan akhirnya, kami sampai di suatu tempat, Mas Ilham menghentikan laju mobilnya. "Sebentar lagi sampai," katanya. "Tapi... keberatan tidak kalau aku menutup matamu?"


"Eh? Untuk apa? Kalau mataku ditutup dan aku tidak tahu kamu mengajakku ke mana, kan...."


Mas Ilham melotot dengan kening berkerut. "Apa?" tanyanya spontan, agak keras namun lebih ke nada heran. "Jangan berpikiran macam-macam, dong...! Kamu pikir aku bakal ngapa-ngapain kamu? Hmm? Atau memang kamu yang ngarep?"


Aku balas melotot. "Sembarangan!" kataku tak kalah keras. "Kalau aku ngarep, ngapain jauh-jauh? Di sini saja. Ayo!"


Refleks, aku menjulurkan lidah meledeknya. "Memangnya kamu nggak sinting, ya?"


Astaga... aku kaget. Terkesiap. Mas Ilham mendekatkan wajahnya kepadaku dan praktis aku jadi tegang. "Sori, aku hanya bercanda, Mas. Aku tidak...."


Dia menggeleng pelan, menatapku lekat, dan membuatku ngeri.

__ADS_1


"Jangan menguji keimananku, Zahra," untuk pertama kali dia bicara begitu pelan dan begitu dekat di depan wajahku, bahkan hangat embusan napasnya membelai pipiku yang... mungkin merona, mungkin juga memucat, lantaran perasaanku yang tak karuan. Entahlah.


Aku tergeragap. "Mas... aku... aku...."


"Jangan menguji keimananku. Kamu tidak tahu betapa aku menginginkanmu, betapa aku memuja dan mendambakanmu, Zahra."


Geli. Aku terkikik, dan semakin ingin meledeknya. "Kamu sok puitis, sok romantis! Geli, tahu...!"


"Terserah apa pun katamu. Yang pasti bersabarlah. Tidak akan lama lagi. Hanya dua minggu. Lima belas hari penantian. Kamu, dan aku, akan menjadi kita."


Aku merengut. "Tidak lucu, tahu! Menyingkir... kamu membuatku ngeri, Mas...."


Tapi dia edan. Dia malah semakin dekat kepadaku. Sambil nyengir lebar, ia berkata, "O ya? Katakan kalau kamu menolak sedekat ini denganku. Katakan, Zahra."


Euw... tidak lucuuuuu...! Aku mesti menahan diri mati-matian supaya tidak nekat membelai brewoknya.

__ADS_1


Ups!


__ADS_2