
Setelah melewati perjalanan dan penerbangan selama berjam-jam dan bahkan transit di Singapura, akhirnya kami sampai di San Francisco, Amerika. Dengan mobil jemputan yang disediakan oleh temannya Mas Ilham, dari bandara kami langsung diantar ke RC hotel. Hotel keren yang tampak luarnya seperti Gedung Putih, dan letaknya tidak jauh dari Chinatown, North Beach, Nob Hill, dan Union Square. Yap, itu hotel berkelas alias elite. Tarif menginap semalam di sana bisa menguras dompet beberapa ratus dolar. Tetapi, memang tempat tidurnya nyaman sekali. Rasanya sangat empuk seperti awan-awan, dan mereka menyediakan buah-buah stroberi lapis cokelat berikut sampanye di samping tempat tidur kami waktu kami datang. Sampanye yang akan mubazir.
Setelah menaruh tasku dan melepaskan hijabku, aku memeriksa menu layanan kamar dan nyaris pingsan ketika melihat harga sepiring pisang potong. Mahalnya naudzubillah, atau aku yang kampungan alias udik? Hahaha!
"Gila. Di Rembang, pisang satu tandan saja tidak semahal ini," kataku.
Mas Ilham terkekeh. Dia sedang melepaskan jam tangannya, lalu menyampirkan jaketnya di sofa. "Sudahlah, Sayang. Jangan dipikirkan," ujarnya. "Semua pelayanan yang kita dapatkan di sini gratis. Kecuali kalau kita makan atau jajan di luar."
"Hu'um. Nanti kita makan di pinggir jalan saja. Daripada nanti uangmu habis. Bisa-bisa kamu jual nanti perhiasanku. Emoh!"
Tawa Mas Ilham semakin pecah. "Tidak akan, Sayang...," katanya. "Inshaallah, aku tidak akan meminjamnya, apalagi memintanya kembali. Perhiasan itu hakmu. Dan hakku adalah...."
Mulai....
Mas Ilham yang sudah melepaskan serba-serbi pakaian dari tubuhnya dan kini hanya mengenakan celana panjangnya -- langsung memelukku dari belakang, lalu ia berbisik, "Mandi bareng kamu. Ya? Mau, kan?"
Tidak. Dia tidak menungguku menjawab ajakannya. Dia menginginkan haknya sebagai suami untuk mandi bersamaku, istrinya tercinta. Bahkan, tangannya langsung terampil melepaskan semua pakaian yang menempel di tubuhku tanpa terkecuali. Termasuk melepaskan celana yang ia kenakan. Dan, sungguh Mas Ilham suami yang sangat manis. Dia menggendongku -- ke kamar mandi.
Ya Tuhan... romantis sekali pelayanan hotelnya. Semua peralatan mandi tersedia, bahkan dilengkapi dengan lilin-lilin aroma terapi. Terbaik.
Dari gendongan Mas Ilham, kini aku berdiri di hadapannya. Dengan pancuran air dari langit-langit kamar mandi, kami berdua langsung basah tersiram air dingin. Berciuman panas, cukup lama.
"Aku butuh kehangatanmu, Zahra."
Oh! Mas Ilham menghimpitku ke dinding. Dengan tatapan matanya yang intens, dia menatap mataku tanpa kedip dalam jarak sebegitu dekat. Aku bergidik. Padahal usia pernikaham kami sudah tiga bulan, tapi kenapa di momen ini dia mampu membuat hatiku kembali berdebar plus deg-degan hanya karena tatapannya?
Tetapi...
Setelahnya dia memutar tubuhku hingga memunggunginya. Lalu, dia meraih kedua tanganku, menempelkannya ke dinding dalam genggamannya.
"Zahra?"
"Emm?"
"Aku mencintaimu. I love you."
"I love you too."
"Zahra."
"Emm?"
"Aku mau menyanyikan sebuah lagu untukmu."
__ADS_1
Eh?
"Lagu apa?"
"Mau mendengarnya?"
"Mmm-hmm...."
"Hitung mundur dari tiga."
"Oke. Aku hitung, tiga... dua... satu."
Mas Ilham menarik napas dalam-dalam, lalu ia berdeham. "Simak, ya. Sebuah lagu untukmu, spesial kupersembahkan dari lubuk hatiku yang terdalam. Ehm, cicak-cicak di dinding."
"Mas...!" protesku agak berteriak.
Dia cekikikan! Dasar... merusak suasana!
"Ayolah... ikut menyanyi bersamaku."
"Tidak mau."
"Zahra... please...?"
"Please... dengarkan, ya." Dia kembali bernyanyi, "Cicak-cicak di dinding. Diam-diam... lanjutkan."
Aku menggeleng.
"Lanjutkan...."
"Diam-diam merayap."
"Datang seekor nyamuk."
"Hap!"
Hening.
Dia melahapku: tepat di tengkuk leherku. Ya Tuhan... hap-nya hap yang manis. Dan gara-gara itu keheningan yang hanya sesaat itu seketika dibisingi oleh tawaku yang pecah. Ada-ada saja kelakuan gesreknya Mas Ilham, dan itu membuatku semakin cinta kepadanya.
"Bahagia selalu, ya, Zahra. Ilham selalu bersamamu. Suami yang ingin melihatmu selalu bahagia dan tertawa."
Uuuuuh... meleleh, bestie....
__ADS_1
"Ya, Mas. Aku janji."
"Terima kasih."
"Em. Ukh!"
Ya ampun, aku bahkan tak sempat menyelesaikan kata-kataku. Si pria tangguh itu sudah mengaktifkan kekuatannya melalui jari-jemarinya yang bergerilya nakal di dadaku.
"Zahra," katanya.
"Emm?"
"Aku mencintaimu. Kau merasakannya, Zahra?"
Eummmmm... aku sangat merasakannya.
"Ya, Mas. Aku--"
Lagi, kekuatan tangannya tersalur kepadaku. "Hmm?"
"Aku... aku merasakannya, Mas. Terasa sekali."
Dan sekarang, dia mengangkat kaki kiriku, lalu mengarahkan dirinya kepadaku, menekan, dan membenamkan seluruh dirinya ke dalam cintaku -- dengan sepenuh cinta.
"Kau merasakannya? Bisa merasakan cintaku?"
Aku mengangguk.
"Kau tahu, aku sangat mencintaimu. Dan apa kau tahu...?"
Hening.
"Apa?"
"Ini." Dia menekanku.
"Apa? Aku tidak mengerti."
"Ini. Ini namanya gaya cicak-cicak di dinding."
Argh! Sebal!
Tawa Mas Ilham menggelegar memenuhi ruang kamar mandi. Dasar gesrek! Lagi-lagi dia merusak suasana.
__ADS_1