Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Berdamai...


__ADS_3

"Baiklah, nanti aku bilang ke Umi supaya--"


"Keluarga inti kita tidak apa-apa. Tapi jangan...." Air mataku menetes lagi. "Mereka jangan mengasihaniku."


"Iya," kata Mas Ilham, ia mengangguk lagi. "Nanti aku bilang ke mereka. Mereka boleh ke sini cuma untuk menjenguk. Hanya itu."


"Terima kasih, Mas. Dan... satu lagi. Emm... setelah ini, maksudku setelah lebaran dan libur semester ini selesai, aku... aku mau berhenti mengajar. Aku ingin di rumah saja. Tidak apa, kan?"


Perih. Kali ini Mas Ilham hanya mengangguk -- angguk beberapa kali tanpa suara. Aku tahu dia mengerti kenapa aku ingin demikian.

__ADS_1


Setelah itu, kami sama-sama terdiam. Hanya suara televisi yang baru dinyalakan Umi yang mendominasi. Yeah, aku tahu, dan entah sampai kapan aku akan menghindari orang-orang -- demi melindungi hatiku dari sesuatu yang mungkin jika terucap, dapat menghancurkan perasaanku lebih dalam lagi. Aku takut, dan terlalu pengecut.


Tapi dalam urusan menata hati, setiap orang punya caranya masing-masing, bukan?


Dan Inilah caraku. Menghindar.


Tetapi...


"Sudah, Nduk, ini bukan salahmu. Kamu tidak perlu meminta maaf," kata Umi dengan kelembutannya seraya mengusap-usap kepalaku. "Yang penting kamu selamat, dan mesti cepat pulih, ya? Ingat, lo, kalian mau bulan madu setelah lebaran ini. Kalau kondisimu sudah pulih, kalian harus tetap pergi. Karena itu baik untuk kalian berdua. Inshaallah, nanti Allah akan menggantinya. Kita berdoa sama-sama, ya. Ikhtiar."

__ADS_1


Ehm, kira-kira begitu rangkaian kalimat yang dituturkan oleh ibu mertuaku yang bisa kutangkap dalam tangis sedihku. Setelahnya, dia memintaku untuk jangan larut dalam kesedihan dan meyakinkan aku bahwa aku kuat. Dan kami menyepakati untuk tidak terus membahas soal keguguran itu. Jadi, pembahasan berikutnya adalah antara beliau dan Umi, mereka sepakat untuk bergiliran menunggui kami di rumah sakit. Tentu saja, kami tidak akan nyaman bila orang lain yang menemani, meski tidak nyaman juga sebenarnya membiarkan orang tua kami tidur di rumah sakit dan meringkuk di sofa yang minimalis, meninggalkan kenyamanan rumah mereka untuk sementara. Tapi, mau bagaimana lagi?


"Tahu tidak, ada lagi yang mesti kita syukuri," kata Mas Ilham yang duduk bersandar di atas ranjangnya, ia menoleh ke sisiku.


Praktis alisku terangkat. "Apa itu?" tanyaku.


"Ini," katanya. Ia menggerakkan kepala, mengangkat dagu. "Untung bukan rahangku yang terluka. Kalau tidak, ya ampun, tidak bisa kubayangkan bagaimana kalau brewokku habis."


Hm, lucu, sih. Kalau kuingat-ingat, mestinya aku tertawa.

__ADS_1


Tapi kala itu aku tidak bisa tertawa. Tubuhku terlalu sakit dan tampaknya sebagian selera humorku hilang bersama anakku. Jadi aku hanya bisa menyunggingkan sedikit senyum. Itu pun mesti kupaksakan.


Maafkan aku, Mas. Ini tidak mudah. Maafkan aku....


__ADS_2