
Dengan hati yang mulai risau, kubuka lipatan demi lipatan selembar kertas itu, lalu membacanya.
Kepada Salsabila, sahabatku.
Hai, Bil. Jujur aku ingin sekali berbasa-basi dan menanyakan dulu bagaimana kabarmu, berharap dan mendoakanmu supaya kamu sehat dan baik-baik saja. Dan itu yang sesungguhnya ingin kulakukan. Sungguh, kudoakan kamu dalam keadaan sehat dan baik-baik saja. Tapi sayang, kurasa itu seakan tak berarti apa-apa saat ini. Bukannya aku tidak peduli terhadapmu dan bagaimana keadaanmu, tapi demi Allah, aku sedang gelisah di sini.
Bukan. Bukan karena aku bersalah. Tapi karena aku hanyalah manusia biasa. Sejatinya aku adalah perempuan lemah yang takut kalau takdir akan terus mempermainkan aku.
__ADS_1
Aku takut, Bil, bagaimana kalau aku tidak mampu menyelamatkan diriku sendiri dari fitnah ini? Demi Allah, ini fitnah. Fitnah yang sulit kubuktikan kebenarannya, bahwa aku tidak ada hubungan apa pun dengan kecelakaan yang kalian alami. Aku juga tidak ada hubungan apa pun dengan Gus Ilham. Anak di dalam kandunganku ini anak mantan suamiku, yang kata suamimu bahwa di mata Allah, si mantan itu masih sah sebagai suamiku.
Kamu ingat, kan, Bil, dengan obrolan kita malam itu sebelum aku pergi keluar kota? Bagaimana Gus Ilham menasihatiku tentang statusku yang masih sah sebagai istri dari mantanku dan bagaimana status anak yang ada di dalam kandunganku? Kuharap dari obrolan itu saja kamu bisa melihat kebenarannya, Bil. Demi Allah, aku tidak ada hubungan apa pun dengan suamimu. Anakku bukanlah anaknya.
Please... kamu sudah mengenalku sejak kecil. Kita pun pernah tinggal bersama, merasakan suka dan duka bersama. Aku berharap kamu percaya kepadaku, Bil. Kamu mengenaliku dengan baik. Atau setidaknya kamu percayai suamimu. Please... jangan percaya pada gosip yang beredar di luar sana. Aku tidak tahu kenapa Yunita sebegitu teganya terhadapku, sepupunya sendiri.
Tolonglah aku, Bil. Aku takut polisi menetapkan aku sebagai tersangka. Aku takut aku mesti menjalani hukuman atas kesalahan yang sama sekali tidak kulakukan. Apalagi aku sedang hamil. Bagaimana kalau aku mesti menjalani kehamilan ini di dalam penjara? Bagaimana kalau aku sampai melahirkan di penjara? Belum lagi nanti saat anakku lahir dan ia mesti terpisah dariku. Dia tidak akan merasakan kasih sayangku dan ASI yang cukup dariku.
__ADS_1
Demi Allah, Bila, aku bukannya egois. Bukannya aku tidak peduli dengan keadaanmu, rasa sakitmu, apalagi pada rasa kehilanganmu. Demi Allah, aku tahu bagaimana rasanya kehilangan seorang anak. Dan aku tidak ingin kalau ini mesti terjadi lagi kepadaku.
Tolong aku, Bila. Tolong....
Sahabatmu,
Puspita
__ADS_1
Ya Tuhan... aku mesti bijaksana dalam menyikapi hal ini. Mesti bercermin pada kasus Bulik Sulastri -- yang tidak bersalah namun tak mampu melawan takdir dan akhirnya dijatuhi hukuman penjara. Puspita tidak boleh merasakan hal yang sama, terlebih jika itu karena aku. Aku tidak ingin menjadi bagian dari penyebab kezaliman ini. Dan anak itu, si bayi yang tidak bersalah, aku tidak ingin ia merasakan kepedihan yang dirasakan oleh Laila dan Laili yang mesti terpisah dan menahan rindu karena jeruji besi mengurung ibu mereka. Tidak boleh. Toh, kalau memang Puspita bersalah, ada Tuhan yang akan menghukumnya. Biarkan saja Dia yang menulis dan menentukan takdir ini. Dia, Sang Pemilik Kehidupan.
Lapangkan dadamu, Zahra. Iklaskan semua yang terjadi. Ikhlaskan.