
Setelah Puspita pulang, aku melepaskan jilbabku dan segera membereskan meja plus mengangkut gelas-gelas kosong itu ke dapur. Meninggalkan Mas Ilham yang masih di ruang depan untuk mengunci pintu.
Jujur saja perasaanku dinaungi kesedihan atas apa yang menimpa sahabatku itu. Tetapi, aku yakin dia akan baik-baik saja. Dia kuat. Jika tidak, dia tidak akan menemuiku dan peduli dengan masalahku, mungkin saja dia akan mengurung diri di rumahnya, merasa stres yang berlebih, dan bahkan mungkin sudah berkonsultasi dengan psikiater ketimbang menemuiku yang juga sedang dirundung masalah.
Setidaknya aku tenang, aku melihat ketegaran di dalam dirinya. Dan ini membuatku lebih bersyukur, meski badai seakan selalu menerpa rumah tanggaku, tetapi aku lebih beruntung sebab aku memiliki suami sebaik Mas Ilham, yang mempercayaiku sepenuhnya tanpa keraguan sedikit pun.
Dan satu lagi kelegaanku. Tadi, di saat Mas Ilham menyampaikan nasihat kepada Puspita untuk tetap memberitahukan kepada suaminya tentang bayinya saat anak itu lahir nanti, syukurlah, wanita bijak itu mau menerima nasihat dan mau memahami apa yang telah ditetapkan di dalam agama yang ia dan kami semua yakini. Kata Mas Ilham, jika perlu, Puspita mesti mengajak suaminya itu untuk tes DNA untuk kejelasan nasab sang anak, dan kejelasan data kewarganegaraannya, baik di dalam akta kelahiran ataupun di dalam kartu keluarganya kelak. Jangan menjadi orang tua yang egois, hanya demi menyembunyikan status sang anak dari ayah kandungnya sehingga tidak memikirkan kewajibannya sebagai orang tua dan hak anaknya sebagai manusia yang terlahir suci.
Ya Tuhan... padahal aku ketar-ketir, takut Puspita tersinggung karena emosi yang mungkin masih belum stabil. Maklum, namanya juga perempuan yang tengah menghadapi masalah hidup yang berat. Apalagi tadi sewaktu Mas Ilham menyampaikan kepadanya untuk tidak menikah dulu -- apa pun alasannya. Apalagi jika itu untuk menutupi kehamilannya dan untuk memberikan identitas baru pada si anak. Jangan pernah. Karena bagaimanapun juga status Puspita di mata Allah dan agama -- masih sah sebagai istri dari suaminya meski pengadilan sudah memutus pernikahan mereka. Itu tidak sah, sebab pihak pengadilan tidak tahu fakta yang sebenarnya. Dan lagi, tidak dibenarkan bagi seorang perempuan untuk menikah dengan lelaki lain sementara ia masih terikat pernikahan dengan suami sebelumnya. Toh, jika memang dia tetap ingin bercerai, nanti bisa diurusi lagi setelah bayinya lahir.
Ah, untung... Puspita memahami. Memiliki suami seorang ustadz membuatku ketar-ketir juga ternyata. Tapi, mau bagaimanapun juga, nasihat dan kebenaran itu mesti disampaikan walau satu ayat, walau itu berat dan menyakitkan sekalipun.
"Sedih, ya?" tanya Mas Ilham yang kini tahu-tahu sudah berdiri rapat di belakangku. Dia melingkarkan tangannya di pinggangku dan menopangkan kepalanya di lekuk leherku.
Aku mengangguk. Tentu saja aku sedih. Aku tidak suka ada hati istri yang tersakiti.
"Tapi inshaallah dia kuat, Sayang. Dan semuanya akan baik-baik saja. Kamunya jangan berpikiran terlalu berat dan berlebihan, ya?"
__ADS_1
Aku sudah selesai dengan cucian gelas kotorku, kulepas tangan Mas Ilham yang melingkar di tubuhku, kemudian aku berputar menghadapnya. "Tidak akan. Jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja," kataku. "Tapi... aku mau tanya deh, kenapa kamu tidak menyampaikan seperti kebanyakan orang yang menyarankan untuk rujuk dan mempertahankan rumah tangga mereka demi anak? Biasanya kan ustadz isi ceramahnya begitu."
Iya, kan?
"Aku bukan mereka, Zahra," kata Mas Ilham. "Kan aku sudah bilang kalau aku ini guru, bukan ustadz dalam bidang ceramah. Aku tidak memiliki ilmu yang mumpuni untuk yang demikian itu. Aku masih berpikir dari sisi hati kemanusiaan, tidak hanya memandang sesuatu dari sudut pandang agama saja. Kalau aku menasihatinya untuk rujuk, dan ternyata dia mau, tapi ujung-ujungnya perceraian itu terulang, aku tidak mau dia menyalahkan aku karena keputusan rujuknya yang salah, karena dia mendengarkan saranku. Yeah, katakanlah aku payah. Tapi... lebih dari itu semua, alasanku sebenarnya karena konflik dasarnya itu tentang perselingkuhan. Perselingkuhan itu seperti mirasantika. Membuat kecanduan. Tidak jarang pelakunya akan mengulanginya lagi dan lagi. Dan maaf, menurutku terlalu banyak hal mudharat dalam kebersamaan mereka. Cinta itu sudah sirna. Kasih sayang di antara mereka sudah hilang. Dan kesetiaan itu -- sudah cacat. Kasihan si perempuan kalau mesti bertahan dengan lelaki semacam itu. Yang terpenting adalah... kamu jangan lupa mengingatkan dia tentang hak anaknya. Ingat, hanya untuk mengingatkan. Bukan untuk mencampuri terlalu dalam. Paham?"
Cup! Kukecup pipi suamiku. "Aku paham," kataku. "Mandi, yuk? Tapi sebelumnya... mari kita lanjutkan kemesraan yang tertunda."
"Well, apa pun untukmu, Sayang." Dalam sekejap aku sudah beralih ke dalam gendongannya. "Mari ke kamar pengantin kita."
Sesampainya di dalam kamar, dia langsung membaringkanku di atas tempat tidur dan merangkak ke atasku. "Tidak ada yang akan mengganggu lagi, Zahra. Malam ini milik kita."
Cieeeee... mulai deh romantisnya. Dia sungguh pintar mendramatisir suasana. Tapi...
"Wait, tunggu dulu, tadi kan ada yang mau berterimakasih dengan cara yang manis, ya kan? Jadi ini bukan tugasku. Ini tugasmu, Sayang."
Capcay!
__ADS_1
Mas Ilham langsung berbaring menelentang di sampingku. Dengan cengar-cengir, dia melipat kedua belah tangan di bawah kepala lalu membuka interval kakinya lebar-lebar. "Silakan, Sayang. Lakukan tugasmu."
Iyuuuuuh... cengirannya super edan.
"Ayolah, tunjukkan keterampilanmu, Zahra."
Ckckck! Menyebalkan sekali dia. Tapi ya sudahlah. Sudah kewajibanku. Jadi...
Aku bangkit, langsung berkutat dengan kancing-kancing baju kokonya, lalu ke ikat pinggangnya. Setelah itu, kuturunkan ritsleting celana itu dan melepaskannya hingga membuat Mas Ilham... polos. Ukh! Aku pun mulai beraksi.
"Oh... Zahra memang yang terbaik. Lanjutkan, Sayang...," lengkingnya.
Euw!
"Bisa diem, nggak? Nanti kugigit lo, kamu."
Euw! Parah punya suami. Dia terkekeh. Ini tidak lucu, tahu, Mas...!
__ADS_1