
Azan subuh baru saja berkumandang, dan kami semua sudah selesai mandi ketika salah satu pekerja hotel mengetuk pintu kamar yang kami tempati.
"Permisi... layanan kamar...," serunya dari luar.
Laili segera beranjak membukakan pintu dan mempersilakan seorang karyawan perempuan itu masuk. Waktu itu aku tengah melipat kembali mukenaku selepas salat subuh.Tepat pukul lima pagi kami mesti meninggalkan hotel dan bergegas kembali ke Solo.
Sewaktu petugas pengantar makanan masuk ke dalam ruang kamar yang kami tempati, ia langsung menata sarapan kami di atas meja. Mas Ilham yang memesannya, bahkan ia tak lupa menitipkan selembar surat untukku yang diselipkan oleh si pelayan di bawah salah satu piring makanan itu.
Untuk Salsabila Azzahra.
"Ada yang ingin dipesan lagi?"
"Tidak ada," kataku. "Terima kasih."
"Baik. Permisi."
Aku yang awalnya tidak tahu kalau selembar kertas itu merupakan surat dari Mas Ilham, langsung membukanya karena penasaran. Ternyata bukanlah apa-apa, isinya hanya sekadar sapaan pagi dan kalimat penyemangat dari ia yang mencintaiku. Namun, karena itu pula, pagi ini, hatiku seketika kembali menghangat tatkala aku membaca ungkapan cintanya yang sederhana.
Selamat pagi, Sayang. Semangat, ya. 24 hari menuju halal. I love you, Zahraku.
Aku menggeleng-gelengkan kepala dalam senyuman. Walaupun kelakuan manis Mas Ilham rada-rada lebay, tapi ia selalu berhasil membuat hatiku diliputi kebahagiaan.
Sehabis melahap semua sarapan kami, juga menghabiskan teh melati di gelasku, aku melihat-lihat barang bawaan kami. Mengingat-ingat sesuatu, lalu melihat lagi ke kamar mandi barangkali masih ada yang ketinggalan.
"Semuanya sudah. Al-Qur'an sudah. Handuk kecil, peralatan mandiku, obat, sisir, emm...," gumamku, "sweater, baju tidur semalam, jilbab, kaus kaki, sudah semua." Lalu aku menoleh ke Laila dan Laili. "Barang kalian ndak ada yang ketinggalan, kan?"
Laila dan Laili menggeleng kompak. "Sudah semua, Mbak."
"Oke, kalau begitu sekarang--"
Tok! Tok!
Terdengar suara Mas Farid memanggil kami. Laila dan Laili segera mengangkat tas mereka masing-masing dan menghambur ke pintu. Pun aku, segera kutarik tangkai koperku dengan tangan kiri dan segera meninggalkan kamar.
"Sini, biar aku yang bawa," kata Mas Ilham seraya mengambil alih tangkai koper dari tanganku.
Aku celingak-celinguk sambil mengikuti orang-orang yang sudah berjalan di depanku. "Koper Mas Ilham mana?"
"Sudah di mobil," sahutnya. "Mulai sekarang, aku akan menjadi kekasih yang selalu siap sedia untukmu. Kapan pun dan di mana pun. Aku akan siaga dan selalu ada."
Ih, mulai lagi, dia membuat senyumku kembali mengembang pagi-pagi begini. "Terima kasih, Mas...."
"Apa pun untukmu, Sayang. Love you."
Mas Farid menggeleng-gelengkan kepala di depan sana melihat kelakuan puber kami.
"Love you too...."
__ADS_1
"Nah, bagaimana sarapanmu tadi?"
"Enak," kataku. Aku tertawa-tawa menyadari makna di balik pertanyaannya itu, lalu tersenyum kepadanya. "Terima kasih, ya. Sarapannya luar biasa mengenyangkan dan menyenangkan."
Mas Ilham balas tersenyum. "Happy dua puluh empat hari menuju halal, Sayang."
Olala... andainya kami sudah halal, sudah kuterajang ia sampai kami terguling bersamaan di atas tempat tidur. Lalu...
Akan terjadi hal yang menyenangkan. Akan kuajak ia bercinta gila-gilaan seperti orang yang sakit jiwa. Ck! Aku hanya bercanda.
Bercanda yang kuharap menjadi kenyataan. Ups!
Well, di parkiran, aku sudah masuk dan duduk di jok belakang saat Mas Ilham memasukkan koperku ke bagian belakang mobil, lalu ia sendiri pun segera masuk dan duduk di balik kemudi. Setelah memasukkan kunci kontak dan menderumkan mesin mobilnya, ia menyetel arah kaca spion -- yap, sekaligus modus terbaiknya, ia ingin melirikku yang duduk nyaman di belakang -- persis di belakang kursi kemudinya. Aku hanya tersenyum-senyum melihat kelakuannya yang super puber itu.
Yeah, perjalanan ke Solo selama empat jam sama sekali tak melelahkan. Sebabnya, hati ini dipenuhi rasa syukur, kebahagiaan itu senantiasa menghibur diri. Adanya Mas Ilham, aku tak pernah lagi merasa sepi.
Sesampainya di Solo, kami langsung menuju sekolah sepupuku itu untuk mengurusi administrasi kepindahan mereka. Urusannya dipermudah, sebab sudah disiapkan dari kemarin, dan sebelum sampai ke Solo, Mas Farid juga sudah menghubungi pihak staf administrasi sekolah dan mengabarkan kalau kami sedang dalam perjalanan menuju ke sana. Jadi, tak ada hal yang sulit untuk hal satu ini.
Setelah aku dan Mas Farid keluar dari ruangan administrasi, Laila dan Laili tidak ada di sana. Hanya ada Mas Ilham.
"Laila dan Laili mana?" tanyaku.
"Ke sana," kata Mas Ilham menunjuk ke arah kantin. "Katanya mau menemui pacarnya si... siapa itu namanya?"
"Oalah... susul, yuk, Mas?" ajakku pada dua lelaki yang berdiri di sampingku. Tapi Mas Farid mencegah. Biar dia saja katanya yang menyusul si kembar ke kantin. Alasannya karena tidak enak kalau kami semua berseliweran di lingkungan sekolah.
"Kalian berdua jangan ke mana-mana. Jangan macam-macam. Awas, lo, merusak kepercayaan Pakde kepadaku."
Hah!
Aku terkikik. "Iya, Mas... paling-paling kami balik ke mobil biar bisa berduaan. Cari saja di parkiran."
Mas Farid ikut tertawa. "Dasar kamu," ucapnya. Dia pun segera berlalu.
Tolong lama-lama perginya, ya, Mas. Aku kembali terkikik dalam hati.
Dan, akhirnya hanya ada aku dan Mas Ilham tanpa sepupu-sepupuku di antara kami. Terlintas di benakku: aku benar-benar rindu berduaan dengannya.
Astaghfirullah, hati... tidak boleh. Lagi, aku terkikik sendiri di dalam hati. Ingat Salsabila Azzahra, calon suamimu itu seorang ustadz. Hormati itu!
"Aku merindukan saat berdua denganmu, Zahra. Saat kita hanya berdua."
Eh? Aku terbelalak, awalnya. Setelah itu aku jadi cekikikan menyadari ucapan Mas Ilham itu hanya sekadar bagian dari caranya untuk menyelami ruang hatiku sedalam-dalamnya.
"Boleh, kan, aku rindu?"
Aku mengangguk. "Kamu berhak, kok, untuk merindu."
__ADS_1
"Lalu?"
"Apa?"
"Kamu merasakan hal yang sama?"
Duuuh... Mas... hobimu kok bikin aku tersipu-sipu begini, sih? Nanyanya kok terang-terangan begitu?
"Kamu sendiri tahu jawabannya, Mas."
"Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Rindu yang sama."
"Dasar kamu, ya."
Dia tersenyum, nyaris tertawa. "Aku serius, lo. Terima kasih karena kamu juga merasakan kerinduan yang sama."
"Mas... sudah... jangan terlalu manis...! Kamu bisa membuatku sesak napas, tahu...!"
Senang. Mas Ilham berusaha meredam tawanya dan mengulum senyum. "Ya, ya. Jangan sampai kamu sesak napas. Nanti aku bingung bagaimana cara memberimu napas buatan."
"Ya Allah, Mas...."
"Kenapa? Kata-kataku terlalu manis?"
"Iya. Bisa diabetes aku."
"Lo? Mau diabetes atau mau sesak napas? Pilih yang mana?"
Hmm....
"Sesak napas sajalah, tapi bukan asma, lo, ya. Kalau asma, kamu perlu ke dokter. Kalau sekadar sesak napas biasa, jangan khawatir. Ada aku."
Ih, gemas! Aku tersipu-sipu tak tertahan.
"Memangnya kamu mau apa?" pancingku.
"Mau ngasih kamu napas buatan."
"Caranya?"
"Mau dipraktikkan?"
Hahaha! Dasar edan!
__ADS_1