Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Yang Terbaik


__ADS_3

Bagaimana?


Kalau dari segi rasa: rasanya sangat nikmat. Jelas, itu karena kami sudah lama libur dari "penyatuan hasrat" yang halal. Sudah hampir tiga minggu sejak kecelakaan waktu itu, jadi nikmatnya full seperti baterai yang lowbat dan dicharge sampai penuh. Haha, lebay, ya. Tapi memang senikmat itu, seperti waktu-waktu pertama momen pernikahan. Walaupun tak sesakit seperti saat dia menikmati kegadisanku.


Well, kalau dari perasaan, jujur biasa saja. Maksudku, tidak ada rasa berdebar dan berbunga-bunga seperti orang kasmaran. Namanya juga bukan the real pengantin baru. Tapi, kalau dari bahagianya, sungguh saat ini aku bahagia. Sebab, sampai detik ini -- dengan sebegitu banyak cobaan yang sudah kami lalui, rasa cinta di antara aku dan Mas Ilham semakin membesar, dan ikatan cinta di antara kami semakin menguat. Terlebih, Mas Ilham masih seperti dirinya yang mengerti aku. Yang bersedia selalu bersikap romantis dengan menciptakan suasana bercinta yang tak biasa -- yang memberikan sensasi luar biasa. Bukan sekadar bercinta yang monoton dan membuat jenuh. Lagi-lagi dia mengingatkan aku dengan pertanyaan yang kuajukan lewat tulisan itu, pertanyaan sebelum kami menyetujui perjodohan dari kedua orang tua kami. Sehingga, jawaban yang diberikan Mas Ilham tak sebatas lewat tulisan, tapi benar-benar dalam wujud kenyataan: pengaplikasian fantasi liar yang sempurna.


Dan saat ini, wajah di depanku sangat ceria, senyumnya mengembang sempurna meski ia tengah kelelahan. Persis setelah ia membenamkan wajahnya cukup lama di leherku dan menggigit kuat di sana, ia mengangkat wajahnya dan berkata di depan wajahku, "Terima kasih, Cinta. Kamu yang terbaik."


Aduuuh... ini baru membuatku melayang. Pujiannya -- meskipun dengan kegombalan alay bin lebay, tapi itu membuatku semringah. Aku merasa sangat dihargai sebagai seorang pasangan, terutama sebagai seorang istri: satu-satunya permaisuri di antara ratu-ratu yang menempati ruang di hatinya.


Yap, Mas Ilham adalah sosok lelaki langkah di zaman yang edan ini. Sebab, di luaran sana, ada banyak lelaki berengsek yang tidak bisa menghargai kaum wanita meski ia memiliki ibu dan saudari perempuan, meski ia sangat mencintai dan menghormati ibu dan saudari perempuannya itu, belum tentu mereka akan menghargai istrinya, ya kan?


"Sama-sama. Kamu juga yang terbaik."


Mas Ilham tersenyum lagi. Dia yang kini berbaring di sampingku, dalam dekapan tanganku, mengelus punggungku dengan belaian jemarinya, sementara satu tangannya lagi menggenggam erat tangan kananku. Rasa-rasanya ini momen yang sangat sempurna. Ditambah lagi aroma keringat dari tubuhnya yang maskulin, plus otot-otot di tubuhnya yang masih mengencang, ternyata aku amat sangat merindukan momen-momen mesra nan indah seperti ini.


"Sayang."


"Emm?"


"Aku bahagia."

__ADS_1


"Aku juga, Mas."


"Em, aku itu sangat bersyukur kita bisa sebahagia ini. Kita bisa seperti ini lagi, punya momen semanis ini. Kita bisa semesra ini. Pokoknya aku benar-benar bersyukur. Terima kasih, ya. Terima kasih karena kamu ada di sini. Dalam artian... kamu bersedia bertahan dan menemaniku."


Terlalu dalam. "Ssst... sama-sama. Tapi tidak usah dibahas lagi, ya. Aku wajib melakukan semuanya karena aku istrimu. Tidak usah dibahas ke... kamu tahulah."


"Em, tapi jujur, kamu istri terbaik."


"Memangnya kamu punya istri lain?"


"Sayang...."


"Kamu yang terbaik."


"Belum, aku hanya sedang berusaha. Selalu berusaha."


"Kamu salah. Penilaianku bukan pada hasilnya, tapi pada usahamu. Kamu sudah berusaha melakukan semuanya dengan baik. Sebab itu kamu yang terbaik. Apalagi, kamu selalu menuruti permintaan dan perintahku. Aku bangga, tahu! Padahal, dulu pesan Umi, aku diminta banyak bersabar menghadapimu. Sabar dalam membimbingmu. Tapi ternyata, tidak ada yang sulit. Sejauh ini, semuanya tidak sesulit dengan apa yang pernah terlintas dalam pikiranku. Maksudku, dulu, sebelum aku berhasil menumbuhkan benih cinta di hatimu."


Duuuh... panjang celotehannya. Aku hanya mengangguk seraya menatapnya, lalu tersenyum.


"Kenapa?" tanya Mas Ilham.

__ADS_1


Cengiran lebar menghiasi wajahku, lalu aku mencium punggung tangannya. "Kita sudah sehat. Bulan madunya kapan?"


Ah, Mas Ilham, dengan kekuatannya, dia membuatku kembali terlentang dan ia menindihku. "Ini kita sedang bulan madu. Mau sekali lagi? Hmm?"


Wuedaaaaan...!


"Aku serius, Mas...."


"Mau, tidak?"


"Bulan madu benaran, Mas. Bukannya--"


Eummmmm... dasar. Mulai kumat lagi kelakuan edannya. Mas Ilham malah membungkam bibirku dengan ciumannya yang kasar, lalu dia cekikikan. "Sebentar lagi, Sayang. Tepat pada ulang bulan pernikahan kita yang ke-tiga. Oke?"


"Oke. Terima kasih, Mas."


"Sama-sama, Sayang."


"Omong-omong, terima kasih juga atas pujian-pujiannya yang tadi. Aku senang dipuji. Dan seperti kataku tadi, kamu juga yang terbaik. I love you, Mas Ilham."


Dan aku sungguh menantikan bulan madu impian itu.

__ADS_1


__ADS_2