Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Candu


__ADS_3

Azan subuh terdengar jelas dari speaker masjid di dekat rumah ketika deru napas kami kembali stabil. Mas Ilham yang masih tertelungkup di atasku beringsut sedikit, menjatuhkan diri ke sampingku dan ia tersenyum manis.


"Maaf sudah membuatmu kelelahan," ujarnya.


Aku balas tersenyum kepadanya. "Em, dan aku terkejut," kataku. "Kamu bahkan jauh lebih beringas, lebih buas, dan lebih ganas dari apa yang pernah kupikirkan."


Mas Ilham tertawa mendengar penuturanku, dan nyaris terbahak-bahak. "Yeah, aku hanya ingin menunjukkan kepadamu kalau aku bisa sama gilanya sepertimu. Demi cintaku padamu, Zahra."


"Kita sudah menikah, Mas. Kamu masih saja gombal."


"Mmm-hmm... mau tidak mau," katanya. "Demi istri."


"Kamu ini, Mas... Mas. Dasar, ya, pria bermulut manis," ledekku.


"Hanya kepadamu, Sayangku." Lalu dia melirik ke arah jam. "Sudah setengah lima. Masih capek, ya?"


Sebenarnya iya. Tapi aku menggeleng. "Kurasa aku masih bisa berdiri," kataku seraya beringsut duduk, mengikuti Mas Ilham yang sudah duduk tegak di sampingku.


"Kusiapkan air hangat dulu," kata Mas Ilham, lalu dia berbisik. "Mandi bareng, ya?"


Iyuuuh... cengiran edannya keluar lagi.


"Kamu kenapa nyengir?"


Dia tidak menyahut, hanya langsung berdiri dan berjalan ke kamar mandi. Dia hanya berhenti sejenak di depan kamar mandi untuk mengambil handuk yang terkapar di lantai.


Di meja, ada segelas air putih dan membuatku teringat pada rasa hausku. Aku pun beringsut dan turun dari tempat tidur, menghampiri meja lalu mengambil gelas itu. Rasa lega akhirnya mengalir jua di tenggorokanku setelah setengah gelas air putih itu kureguk dengan rakus. Aku menggeleng-geleng. Memiliki suami seperti Mas Ilham membuatku mesti rajin membawa air minum ke dalam kamar, pikirku. Aku pun nyengir lebar mengingat batapa perkasanya pria dewasa itu dalam sesi bercinta di malam penganti kami.


"Ayo, mandi," bisik Mas Ilham yang tahu-tahu sudah berada rapat di belakangku.


Ya Tuhan... kedua lengan kokohnya melingkari tubuhku dan bergerilya di dada.

__ADS_1


Mendadak ngeri, aku berkata kepadanya, "Mas, kamu... kamu mandi duluan saja."


"Aku ingin mandi bersamamu. Dan aku tidak ingin mendengar penolakan."


Hmm... aku mendengar nada posesif dari suara suamiku itu. Pria yang tidak bisa dibungkam dengan begitu mudah.


"Jangan menolakku, Zahra," bisiknya sehalus sutra, lalu ia mencumbu tengkuk leherku dengan bibirnya yang seksi. Bulu-bulu di rahangnya kembali menggelitik.


Asli. Dia membuatku terkikik geli. "Kamu mau apa, Mas?" tanyaku. "Aku capek...."


"Memangnya aku mau apa?" ia balik bertanya. Lalu, belum sempat aku menyahut, gigi-giginya sudah kembali terbenam, seakan-akan menembus kulit leherku dan ia mengisa* kuat di sana.


Aku bergidik. Gemetar. Jemari dan telapak tangan Mas Ilham yang lebar itu pun turut bergerilya hebat di dada.


Pria dewasa itu benar-benar membuatku ngeri. Dosa, tidak, ya, menolak suami kalau posisinya seperti ini?


Tapi aku diam saja. Masa baru menempuh malam pertama bersamanya aku sudah mesti mengutarakan penolakan? Dan lebih dari itu, aku belum tahu apakah penolakan itu akan melukai hatinya dan membuatnya tersinggung, ataukah tidak?


"So, what? Kamu suka?" bisiknya di telinga.


Aku mengangguk.


"Nikmat, Sayang?"


"Em."


"Aku akan selalu menjadi yang terbaik untukmu. Yang menyamai kegilaanmu. Bahkan, jika harus, aku bisa bercinta seperti orang sakit jiwa bersamamu. Aku akan selalu berusaha untuk itu, Zahra."


Oh, Mas Ilham. Kata-katanya sungguh membuai. Aku mencoba, mencoba untuk menikmati dan meresapi setiap energi cinta yang coba ia salurkan kepadaku. Tetapi...


Dia malah cekikikan....

__ADS_1


"Kamu benar-benar tak terpuaskan, ya...," ledeknya.


Aku merengut, ingin merajuk sebab ia hanya ingin menjahiliku. "Kamu menyebalkan!" rengekku. Bibirku maju dua senti.


"Maaf, Sayangku...," kata Mas Ilham. "Tapi kita mesti mandi dan subuhan dulu. Jangan ngambek." Dia tersenyum, dan tangannya bertambah erat melingkari pinggangku. "Nanti siang lagi, ya. Setelah jumatan. Aku janji," bujuknya.


Astaga... kok?


Tapi aku tetap tidak enak untuk mengatakan kalau aku hanya berusaha melayaninya sebaik mungkin. Dan, menyanggupi apa yang sebenarnya nyaris tak mampu lagi kulakukan. Aku tidak mengatakan kalau aku sudah kelelahan. Atau mungkin dia hanya mengukur kemampuanku? Ah, entahlah. Yang pasti, bersuamikan pria baik seperti sosok Mas Ilham, aku mesti menjaga benar tutur kataku. Aku tidak ingin sedikit pun tutur kataku menjadi sesuatu yang tajam dan melukai hati dan perasaannya. Meski secara tidak sengaja sekalipun, aku tidak ingin. Aku mesti menjadi pribadi yang bertindak lebih hati-hati.


Ingat, Zahra, dirimu bukan lagi seorang gadis. Kau sekarang menyandang status terhormat: sebagai seorang istri. Dan, sebagai gantinya, aku hanya mengangguk dan mengatakan kepadanya, "Baiklah." Kusunggingkan senyum semringah. "Aku akan memberikan pelayanan terbaik untukmu siang nanti."


"Nah," katanya kemudian, "waktunya kita mandi...."


Oalah... aku memekik kaget, tanpa aba-aba pria kekar itu menggendongku dengan kedua lengannya. Lagi-lagi dia nyengir seperti orang edan.


Di dalam kamar mandi, Mas Ilham menurunkanku di bawah shower, dan langsung memutar keran. Plus...


"Eummmmmmm...."


Sempat-sempatnya suamiku itu mencium bibirku, membungkam mulutku, dan... menjelajahi kerongkonganku dengan lidahnya yang nakal. Dan, betapa erat lengannya melingkari tubuhku. Sehingga, rasa-rasanya, tulang-tulangku bisa remuk dibuatnya.


Untuk sesaat, aku tak dapat berkata-kata. Mas Ilham memaksaku melengkungkan tubuh ke belakang. "Sungguh, Zahra," ia berbisik, napasnya meniup rambut halus di keningku, "kamu benar-benar membuatku sangat kecanduan." Lalu -- kemudian, tanpa mengerti betul bagaimana hal itu terjadi -- ia sedang menciumku. Bibirnya kembali meluncur di atas bibirku, menggigiti, merasai, dan mencari-cari dengan amat lembut, sementara jari-jarinya dengan lamban menelusur ke kakiku, menariknya ke atas melingkari pinggangnya. Lalu, dengan lembut Mas Ilham menyapukan kembali lidahnya ke lidahku. Meminta, memohon tanpa kata-kata. Seolah menjawabnya, tanganku yang menekan dadanya bergerak ke atas, menyentuh lehernya, mencengkeram rambutnya, hingga... bibir panas itu turun meninggalkan mulutku, menyusuri jejak manis dan singgah di dadaku. Sungguh, dia -- Mas Ilham... menggila di sana, membuatku mengeran* kuat saat ia membenamkan wajahnya dan dengan gilanya membuatku merah tak terhingga.


Astaga... jujur saja itu luar biasa nikmat. Dan andai saja aku dalam keadaan fit, betapa aku ingin kami bercinta lagi. Menggila lagi hingga lepas kendali. Tetapi... ya sudahlah. Sudah cukup untuk saat ini.


Masih ada banyak waktu, Zahra. Aku tersenyum. "Subuh, Mas," bisikku setelah ia melepaskan bibir dan gigi-gigi tajamnya dari tubuhku. "Nanti siang, ya. Siapkan saja kekuatanmu, aku menantikannya."


Hah! Dia sudah benar-benar kecanduan akan kenikmatan itu -- bercinta denganku yang sudah halal baginya.


Tapi sayangnya Zahra-mu ini sudah kelelahan, Mas Ilham. Sangat lelah....

__ADS_1


__ADS_2