Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Cuap-Cuap Tetangga


__ADS_3

Aku tidak bisa berhenti cemas di sepanjang hari. Untuk menghindari banyak kemungkinan, Mas Ilham memutuskan untuk menyita ponselku hingga aku tidak tahu apa pun tentang perkembangan berita di luar sana.


Siang itu, menjelang sore, sebelum kami ke rumah orang tua Mas Ilham, kami ke rumah orang tuaku terlebih dahulu. Namun sayangnya, Abi sedang tidak ada di rumah, jadwalnya hari itu di rumah keduanya. Sampai sore, sampai jam berbuka, dia akan berbuka puasa di sana: di rumah istri keduanya dan anak-anaknya yang lain. Termasuk saat sahur nanti. Fenomena ini memang bukan hal aneh bagiku, malah sudah biasa. Tapi, tetap saja setiap kali hal ini terjadi, hatiku luar biasa nyeri. Aku tidak pernah bisa ikhlas melihat duka di mata ibuku meski sekeras apa pun ia menutupinya. Aku marah setiap kali hal ini terjadi. Buka puasa yang tak pernah menjadi berkah bagiku setiap kali aku mesti berbuka hanya berdua dengan Umi. Kenapa, sih, Abi tidak bisa memahami bahwa wanita itu ingin dimengerti? Bahwa aku dan Umi menginginkan kehadirannya setiap hari? Aku ingin kehangatan keluarga yang utuh! Umi ingin suaminya selalu bersamanya. Begitu juga aku, aku ingin ayahku selalu bersamaku. Sungguh, tidak ada kata adil dalam poligami. Tidak bagi istrinya, tidak juga bagi anak-anaknya.


Tetapi, hari itu, dengan alasan bijaknya, Mas Ilham mengajak Umi beserta si kembar Laila dan Laili untuk ikut kami ke rumah orang tuanya. Berbuka bersama di sana. Dengan alasan hendak menyampaikan berita bahagia, Umi pun akhirnya setuju. Dia mau ikut berbuka bersama kami.


Aduuuh... aku deg-degan ketika kami tiba di rumah Mas Ilham. Aku mulai ketar-ketir, mungkin pucat pasi di hadapan kedua mertuaku.


"Nah, biar aku saja yang menyampaikan kabar bahagia ini. Kamu dan si kembar bantu Mbak Indah menyiapkan buka puasa di dapur."

__ADS_1


Ya Tuhan... meskipun semua orang menunjukkan sikap baik saat aku dan Mas Ilham datang, tapi aku yakin mereka semua sudah tahu berita yang tersebar. Sebabnya, tetangga kami -- baik tetangga di rumah kedua orang tuaku, ataupun tetangga di rumah mertuaku, saat melihatku turun dari mobil, mata mereka seakan ikut mencibir, seperti halnya mulut mereka yang berbisik-bisik satu sama lain. Dan cara mereka menatapku, seakan-akan aku ini perempuan paling hina dari insan yang paling kotor di dunia, mereka juga seakan-akan siap mengulitiku dan memanggangku hidup-hidup dengan bara panas melebihi panasnya jilatan api neraka.


"Ehm, dengar-dengar... kamu sudah hamil enam belas minggu, ya, Bila?"


What? Enam belas minggu?


"Enam minggu, Bu. Bukannya enam belas minggu," sahut Mas Ilham mendahuluiku. "Alhamdulillah dikasihnya cepat." Dia tersenyum dan merangkulkan tangannya di pundakku. "Kami permisi masuk dulu. Mari...."


Tetangga nggak ada akhlak, hardikku dalam hati. Tetapi, demi Mas Ilham, kutahan semua rasa nelangsa dan amarah yang merasuki hatiku.

__ADS_1


"Lihat deh, dikurang-kurangi hitungannya biar ndak terlalu nampak hamil di luar nikah. Tapi kan tetap saja ngisi dulu," bisik si ibu pada ibu-ibu yang lain di belakang kami.


Yap, bukan berbisik juga namanya kalau masih bisa terdengar oleh kami. Itu sengaja memancing ikan di air yang keruh.


"Sabar," kata Mas Ilham. "Biarkan saja berlalu seperti kita membiarkan angin berembus."


Angin mah sejuk, Mas. Kalau ini panas....


Hiks! Aku meringis. Enam belas minggu? Ini terlalu kejam. Fitnah kejam!

__ADS_1


__ADS_2