
"Langsung pulang?" tanya Mas Ilham yang kurespons dengan anggukan. Lalu, dengan manisnya ia memasangkan helm ke kepalaku. Maklum, pasangan yang sedang hangat-hangatnya, semoga saja sampai kami tua nanti Mas Ilham akan tetap semanis itu.
Setelah itu, tanpa diminta, aku yang sudah naik ke motor langsung melingkarkan tanganku di sekeliling pinggang Mas Ilham. Motor menderum, dan kami pun melaju di bawah panasnya sinar matahari siang yang begitu terik dan sangat menyengat. Lalu, kemudian...
Hanya beberapa meter jauhnya kami melaju, tiba-tiba Mas Ilham menghentikan laju motornya dan menepi di bahu jalan. Persis di bawah bayangan teduh pohon yang rindang.
"Kenapa, Mas?" tanyaku.
Dia mengedikkan bahu. "Lagi sial. Ban motornya kempes. Bocor sepertinya."
"Kok bisa? Maksudku...."
"Tidak tahu. Padahal tadi baik-baik saja."
"Jadi...?"
"Mesti dibawa ke bengkel."
"Dorong?"
"Hu'um. Tapi kamu pulang duluan saja. Biar aku--"
"Aku bareng kamu." Aku pun turun dari motor.
__ADS_1
"Tapi ini panas, Sayang."
"Tidak apa-apa."
"Kamu yakin? Kamu kan tahu sendiri bengkel di dekat sini cuma di situ. Bengkel lain terlalu jauh. Mau tidak mau aku mesti ke sana."
Yeah, sebenarnya aku ragu. Tapi mau bagaimana lagi?
Melihat keraguan di wajahku, Mas Ilham pun berkata, "Dicoba dulu. Kalau pemiliknya tidak menerima kita servis di sana, ya sudah, terpaksa nanti kita ke bengkel lain yang lebih jauh."
Bismilllah. Kusahuti Mas Ilham dengan rada takut, "Minta tolong montirnya yang ngambil ke sini, bagaimana? Nanti kita minta antar lagi motornya ke sini. Kita berdua menunggu di sini saja, ya?"
"Jangan zalim, Sayang."
"Motor ini perlu di dorong. Panas pula."
"Ya upahnya dilebihkan, Mas."
"Plang bengkelnya kelihatan dari sini. Aku coba dorong dulu ke sana. Kamu sebaiknya--"
"Aku ikut kamu," potongku cepat. "Tidak apa-apa, kok. Tapi aku nggak ikut dorong, ya. Hehe." Aku pun nyengir.
Sama. Mas Ilham pun balas nyengir. "Yakin, ya? Ini panas. Kamu juga pakai hak tinggi. Kamu juga puasa. Yakin sanggup?"
__ADS_1
Sebenarnya tidak. Tapi aku tidak setega itu untuk membiarkan Mas Ilham sendirian mendorong motornya dan berpanas-panasan, pula. "Tidak apa-apa, Mas. Aku rela kok susah senang bareng kamu."
"Masyaallah... mulia sekali hati istriku. Terima kasih, ya, Sayang."
Yap, aku tersenyum. Jadinya... aku pun ikut berjalan di belakang Mas Ilham yang mendorong motornya seraya sesekali menolehku yang berjalan di belakangnya.
Di bengkel, bengkel itu... bengkel milik Mas Imam, aku mendapati mobilnya terparkir di samping bengkel. Itu artinya Mas Imam ada di dalam sana. Ya ampun... aku yang kelelahan pun tetap jadi ketar-ketir, aku takut Mas Imam bertindak macam-macam jika dia melihat kami. Bagaimana kalau lagi-lagi dia membuat masalah? Tapi bengkel lain terlalu jauh. Kasihan juga suamiku."
"Siang, Mbak," sapa Adi, montir yang selalu rama dan sigap melayaniku jika aku datang ke bengkel itu.
Aku memaksakan senyum. "Siang," kataku, dan aku langsung memperkenalkan Mas Ilham saat montir manis itu memandang ke arah suamiku. "Ini suami saya, Di."
Mas Ilham pun memperkenalkan diri, mengulurkan tangan dan menyebutkan namanya. Pun Adi, yang juga memperkenalkan dirinya kepada Mas Ilham.
"Ini...," gumam Adi yang sepertinya tidak nyaman dengan kedatangan kami. Jelas saja, di dalam sana ada bosnya -- yang notabenenya dikenal Adi sebagai mantan pacarku.
Sigap. Aku pun lekas menyahut, "Bannya kempes, Di. Bocor mungkin. Tolong diservis, ya. Kalau perlu diganti dengan ban baru, ndak apa-apa, langsung diganti saja."
"Yo wis, tak cek dulu, yo, Mbak. Mbak dan Mas monggo duduk dulu."
Menurut. Kami pun duduk di kursi tunggu. Setelah beberapa puluh menit kemudian, motor Mas Ilham pun beres diservis, diganti dengan ban baru. Tapi... dengan tiba-tiba...
Ya Tuhan... tanpa kami sadari, Mas Imam muncul dari dalam bengkelnya, persis di saat Mas Ilham sedang bercanda denganku. Suami yang sedang meniupkan angin ke wajahku itu, tahu-tahu ditonjok olehnya.
__ADS_1
Aku memekik. Histeris.