
Nah, jika tetangga di dekat rumah Umi saja sudah pada tahu, tetangga di dekat rumah mertuaku juga pasti sudah tahu, apalagi kedua orang tuaku dan kedua mertuaku, mana mungkin berita ini belum sampai ke telinga mereka, ya kan?
Apa yang akan terjadi kepadaku, ya, Tuhan? Mau tidak mau hatiku jadi berdebar, jantungku berdetak lebih cepat, dan... air mataku mulai menggenang lagi. Kenapa aku jadi cengeng begini?
Sejak menikah dengan Mas Ilham, kepribadianku sudah banyak berubah. Tapi aku tidak suka ketakutanku. Ke mana Salsabila yang keras hati? Salsabila yang selalu berani? Kenapa aku takut tidak dipercayai? Kenapa aku takut dibenci? Aku tidak bersalah!
Tenang, Salsabila Azzahra. Lihat semua anggota keluargamu, mereka bersikap biasa saja. Semuanya pasti juga akan baik-baik saja. Ada Mas Ilham. Percayalah, di belakangmu, dia pasti sudah mengatasi semuanya dengan baik. Pasti. Jangan takut, Bila. Mas Ilham bersamamu. Dia akan selalu bersamamu. Oke? Tenanglah.
"Masuklah, Sayang. Ke dapur sana. Buruan."
Namun aku menggeleng, lalu menatap Mas Ilham dengan tatapan memohon. "Aku mau di sini...," protesku.
Tetapi, Mas Ilham malah menyelipkan tangannya ke balik hijab panjangku dan mencengkeram pinggangku. Dia berbisik, "Istri, anak perempuan, dan menantu perempuan itu sebaiknya di dapur menyiapkan menu untuk berbuka. Pahalanya besar. Lagipula untuk menyelesaikan masalah ini adalah kewajibanku. Tanggung jawabku. Kamu tahu beres, dan cari pahala saja di dapur," celotehnya panjang dalam bisikan yang mesra di telinga.
"Tapi, Mas...," kataku hendak protes lagi.
__ADS_1
Tetapi Mas Ilham kembali berbisik dengan penuh penekanan, dan malah terdengar mesra, "Jangan bantah aku, Zahra," ucapnya. "Jangan pernah membantahku. Kamu mengerti, kan? Aku bisa melakukan apa pun padamu kalau kamu berani membantahku. Paham?"
Euw...! Dasar suamiku. Bukannya takut, aku malah jadi cekikikan. Kata-kata Mas Ilham sama sekali tidak terdengar seperti ancaman atau peringatan. Justru seperti kataku tadi, terdengar begitu mesra.
Well, aku mengangguk dan menurut patuh. Kulangkahkan kakiku menuju dapur, menyusul Mbak Indah yang sudah mengajak Laila dan Laili ke dapur lebih dulu.
Tapi rasanya kepo...! Aku kepingin tahu bagaimana Mas Ilham meluruskan semuanya dan mematahkan fitnah keji terhadapku, setidaknya untuk di ruang lingkup keluarga kami. Dan terserah apa pun yang terjadi di luaran sana, yang terpenting adalah keluargaku, kepercayaan mereka terhadapku, dan mereka sama sekali tidak akan menganggapku bersalah -- bersalah, seperti pandangan masyarakat terhadapku. Aku ingin kepercayaan diriku kembali, supaya aku nyaman berada di tengah-tengah mereka semua.
Oh Tuhan... aku tidak ingin terus-terusan gelisah seperti ini. Tidak enak dan sangat tidak nyaman. Pikiranku tersita.
"Sayang," katanya pada Mbak Indah, "aku dan Abi mau antar makanan dulu ke masjid dan panti. Ini sudah siap semua, kan?"
Mbak Indah menyahut, juga dengan panggilan sayang kepada suaminya. Aku jadi terkagum-kagum, baik dengan cara mereka memanggil satu sama lain dengan mesra di depan banyak orang tanpa terlihat dipaksa-paksakan, apalagi dengan berlebay-lebayan, juga pada cara Mas Muslim yang hendak pergi sebentar pun berpamitan dulu pada istrinya.
Setelah Abi dan Mas Muslim mengangkut semua kotak snack, nasi kotak, dan cup sup buah yang sudah ditutup plastik dengan rapat plus disusun ke dalam kardus, lalu membawanya ke mobil pick up Mas Muslim yang terparkir di halaman belakang, Abi dan Mas Muslim pun pergi bersama Ikram dan putra sulung Mbak Indah, aku merasa punya kesempatan untuk menemui Mas Ilham dan bertanya kepada Mas Ilham: bagaimana obrolannya dengan para tetuah keluarga kami tadi? Tetapi, ternyata obrolan itu belum usai. Mas Ilham masih ada di ruang keluarga bersama kedua ibu kami. Diam-diam aku menyelinap untuk menguping. Aku tidak bisa lagi menahan diriku kala itu.
__ADS_1
Di sana, aku mendengar ibu mertuaku mengatakan kepada anak lelakinya, bahwa: apa pun yang terjadi, jujur atau tidaknya aku dan Mas Ilham sebagai anak kepada mereka semua -- orang tua kami, ia meminta kepada Mas Ilham supaya tetap menjalankan fitrahnya sebagai suamiku. "Sesungguhnya Umi tidak meragukan Zahra. Tetapi, kalau rasa percaya Umi ini salah, sekali lagi Umi tekankan, jika demikian maka kamu jangan mengikuti rasa kecewamu. Kamu harus tetap bertanggung jawab atas statusmu sebagai suaminya. Ya, Leh?"
"Iya, Umi," kata Mas Ilham. Lalu, ia bertanya pada ibuku, apakah beliau juga ada yang ingin disampaikan?
Umi mengangguk, dia juga ingin mengungkapkan isi hatinya kepada Mas Ilham. "Nak," katanya, "jujur, sebagai seorang ibu, Umi percaya sepenuhnya kepada anak perempuan Umi, tetapi faktanya hanya kamu dan Allah yang tahu -- apakah anak Umi...? Umi rasa kamu mengerti pertanyaan Umi. Dan, Umi juga tidak tahu, apakah yang kamu jelaskan kepada kami semua tadi itu adalah berupa kebenaran, atau hanya caramu untuk melindungi... anak Umi? Dengan segala kerendahan hati, Umi, sekaligus mewakili Abi, kami meminta maaf seandainya...."
Oh, pikirku, ternyata ini obrolan khusus yang lebih mendalam. Pantas saja tanpa Abi dan tanpa Mas Muslim.
"Umi, Umi tidak perlu meragukan apa pun," jawab Mas Ilham. "Kepercayaan Umi berdua kepada Zahra, itu adalah kebenaran yang sama sekali tidak perlu Umi ragukan. Dia gadis yang masih suci sewaktu Ilham menikahinya. Maaf, demi Allah, di malam pengantin kami, dia masih perawan, Umi. Zahra masih perawan. Dia masih memiliki darah sucinya. Jadi, Umi berdua tidak perlu mengkhawatirkan masalah ini. Umi juga tidak perlu mengkhawatirkan kepercayaan Ilham kepada Zahra. Ilham mempercayai Zahra sepenuhnya, karena sejatinya dia memang sosok perempuan yang baik."
Ya Allah, aku terharu. Begitu besar kepercayaan dan cinta Mas Ilham terhadapku.
Kali ini air mataku menetes lagi, tetapi bukan karena kesedihan. Aku terharu, menangis karena bahagia. Dia Ilham dari Tuhan. Ketetapan, dan ketepatan jawaban atas istiqharah yang langsung Allah tunjukkan kepadaku. Bersyukur di dalam hati, semua ini memperbaiki perasaanku. Aku bahagia bersuamikan lelaki sebaik Mas Ilham. Seorang imam yang sempurna.
Terima kasih, Mas. Terima kasih....
__ADS_1