
Auto ikut polos. Dengan menebar senyum manisnya, Mas Ilham melepas kaus plus semua yang menempel di tubuhnya. Lucu kalau kuingat-ingat, sejak malam pengantin kemarin, setiap malam aku tidak pernah tidur memakai apa pun. Namanya saja gaun tidur, tapi, sewaktu tidur gaun tidurku malah tidak terpakai sama sekali.
"Bukannya mau mendengar ceritaku dulu?" tanya Mas Ilham seraya merangkak ke atas tempat tidur. Bukan, tepatnya merangkak ke atasku hingga aku terbaring di bawah kungkungan tubuhnya yang kekar. Seperti kebiasaannya, dia sangat suka menindihku.
Aku menggeleng. "Utamakan cari pahala dulu. Nanti baru kamu cerita, setelah itu... kita cari pahala lagi."
"O-ouw... ada yang mau dua kali? Hmm?"
"Yeah, kalau kamu sanggup." Aku pun nyengir.
"Kau menantangku? Atau justru meragukanku?" tanya Mas Ilham dalam bisikan. Seketika tangannya meraih tanganku, membimbing tanganku hingga bersemayam dan menggenggam hasratnya yang mulai terpancing. "Bagaimana, Zahra? Kau siap?"
Jawabannya berupa kaki seksi yang melingkar di pinggangnya, menariknya turun dan menekannya dengan kuat. "Jangan terlalu serius, aku hanya ingin bercinta dengan santai di awal permainan. Jika kamu sanggup ke babak kedua, baru... kamu boleh tunjukkan kegagahanmu tanpa ampun."
"Baiklah. Apa pun untukmu, Zahra." Satu kecupan manis mendarat di bibirku dan dia mulai membuaiku dengan mesra. Bercinta selembut sutra. Yap, pelan-pelan saja.
Dan... semanis itu. Benih-benih cinta darinya tersalur ke dalam jiwaku. Sehingga...
Waktu yang kutunggu akhirnya tiba. Seusai kami bercinta, Mas Ilham beringsut dari atasku, terguling menelentang di sisi kananku. Untuk sesaat, ia terdiam, kemudian menghela napas dalam-dalam. Lalu, berikutnya ia turun dari ranjang dan mengambil segelas air dari atas nakas, dan mereguknya hingga habis setengah gelas.
"Mau minum, Sayang?"
"Em, mau." Aku pun beringsut untuk duduk.
"Ini." Mas Ilham menyorongkan gelas di tangannya ke mulutku. Aku hanya minum sedikit untuk membasahi tenggorokanku yang terasa kering.
Setelah menaruh kembali gelas itu ke tempat semula, Mas Ilham kembali ke ranjang, duduk di sisiku dan menarikku hingga merapat ke dalam dekapannya. Terlindung selimut yang baru saja kutarik dan menutup tubuhku hingga ke dada, Mas Ilham menyunggingkan sedikit senyum -- senyum malas -- kesan berat untuk bercerita, dan... menoreh kembali luka lama.
"Aku tidak tahu mesti memulai ceritaku dari mana. Sebaiknya... mungkin... kamu saja yang bertanya. Aku akan menjawab sebisaku."
__ADS_1
Aku menelan ludah. Rileks, Zahra. Cobalah membawa keadaan ini sesantai mungkin. Aku pun berdeham pelan. "Aku penasaran, dia meninggal kenapa?" tanyaku. "Emm... jujur... Umi sempat mengatakan... tentang jihad. Maksudnya... jihad... bagaimana?"
Mas Ilham mengangguk-angguk pelan, lalu berkata, "Dia meninggal sewaktu melahirkan."
"Hah?"
Ya Tuhan, aku tercengang dan praktis menjauh dari Mas Ilham. Pelukanku yang erat terlepas seketika. Pun jantungku, jantung yang tak terlepas itu serasa ikut terlepas dari tempatnya.
Mas Ilham tahu, ia menyadari keterkejutanku, juga pergolakan yang ada di dalam hatiku. Dia mempelajari raut wajahku dan seketika menggeleng pelan. "Bukan aku," katanya. "Dia bukan hamil karena aku."
"Oh, alhamdulillah...." Mataku spontan terpejam saat aku mendesa* lega. "Kamu membuatku... takut."
Mas Ilham mengangguk lagi, menjulurkan tangannya lagi untuk kembali mendekapku ke dalam pelukannya.
Aku yang sudah sedikit lega pun kembali merapatkan diri. "Bisa ceritakan kepadaku, apa yang menimpanya sampai... maaf...?"
"Tidak tahu," kata Mas Ilham.
"Entahlah. Jangankan aku, dia saja tidak tahu bagaimana dia bisa hamil."
Aku menggeleng tak percaya. "Maksudnya bagaimana, Mas? Masa dia tidak tahu? Maksudku... maaf... tapi ini bukan zamannya para nabi yang ada keajaiban seperti itu?"
"Ya," --Mas Ilham mengedikkan bahu-- "Mia tahu dia hamil setelah berhari-hari mual parah, dan dia memeriksakan diri ke rumah sakit. Hasilnya... ya begitu. Positif."
Lagi, aku menggeleng-geleng tak percaya. "Bagaimana bisa?"
Jelas akal sehatku menentang. Dalam abad modern ini, hal itu mustahil terjadi. Kecuali kalau dia sengaja ke rumah sakit untuk melakukan proses bayi tabung, atau dengan donor... ah, kau tahulah maksudku. Meski aku tidak tahu yang seperti itu benaran ada atau tidak di rumah sakit.
"Apa ada yang aneh, yang mungkin dia sadari belakangan -- setelah dia tahu kalau dia hamil?"
__ADS_1
Mas Ilham mengangguk, dan membenarkan. "Beberapa hari setelah dia tahu kalau dia hamil, dia bilang... kalau pernah ada satu hari dia merasa aneh, dia tertidur semalaman, dan... besok malamnya lagi dia baru terbangun. Tapi, dia bilang tidak ada hal yang aneh selain hal itu. Pakaiannya masih lengkap, tidak kusut, tidak robek, bahkan dia masih tertutup selimut. Kamar... emm, waktu itu dia tidur di hotel, ada acara seminar keagamaan yang dia ikuti. Dan, kamar yang dia tempati itu tidak ada yang aneh sama sekali. Bahkan... tanpa noda darah di seprai. Begitu rapi. Yang aneh hanya dia tidur terlalu lama, dan sedikit pegal. Dia pikir itu disebabkan karena tidurnya yang terlalu lama."
"Barangkali...."
Aku menutup mulut. Kalimatku tidak jadi tercetus. Aku selalu menyadari kekhilafan kata-kataku yang semestinya tak kucetuskan -- sebelum aku bicara panjang dan lebar.
"Ya," kata Mas Ilham. "Apa pun bisa terjadi, Zahra. Mungkin saja di lantai, atau seprainya memang sudah diganti. Atau apa pun. Dan semua itu dilakukan begitu rapi. Sampai-sampai... maksudku... mungkin saja waktu itu Mia diberi obat bius berdosis tinggi, dan... mungkin dia diberi obat sampai berkali-kali hingga dia tertidur begitu lama dan tidak menyadari apa pun."
Aku mengangguk paham. "Maaf, aku... kepalang aku bertanya, ya, Mas. Apa dia memeriksakan keperawanannya setelah dia tahu kalau dia hamil?"
Mas Ilham mengangguk lagi, membenarkan. "Hasilnya memang... yeah, positif. Keperawanannya sudah direnggut oleh orang lain."
Aku beristighfar dalam hati.
"Tapi dia wanita baik-baik, Zahra. Dia paham agama. Dia tidak mungkin melakukan hal-hal yang mengundang maksiat sampai hal itu terjadi padanya. Aku yakin... astaghfirullah, maksudku... mungkin saja ada yang jahil dan sengaja merencanakan hal itu kepadanya. Tapi dia tidak mau menuduh siapa pun. Jadi dia tidak menceritakan apa pun, yang mungkin dia rahasiakan dariku, seperti dugaan terhadap seseorang misalnya. Dan... seperti kataku tadi, dia perempuan luar biasa baik. Hatinya mulia. Dia bisa berlapang dada menerima takdir buruk yang menimpanya. Bahkan, dia tidak ingin menggugurkan kandungannya. Dia menerima anak itu dengan setulus hati. Dia... dia bersedia merawat kandungannya dengan baik."
Aku menyimak, dan mengagumi. Tidak banyak wanita seperti itu. Kebanyakan para gadis malah memilih menggugurkan kandungan mereka. Atau, malah memaksakan diri menikah dengan lelaki mana pun yang mau menyelamatkan ia dari rasa malu karena hamil di luar nikah.
"Maaf," kata Mas Ilham kemudian.
"Emm? Untuk--"
"Aku tidak bermaksud memujinya... di depanmu. Maksudku... aku tidak berniat apa pun...."
"Aku mengerti, Mas. Tidak apa-apa, aku paham." Karena aku tahu kamu tidak bermaksud memujinya untuk membandingkan aku dengannya, atau... karena masih memiliki perasaan padanya. Kalaupun iya, tidak ada yang salah. Karena kamu ditinggal mati, bukan karena dikhianati.
Kusadari, Mas Ilham nampak begitu rapuh saat itu. Matanya memerah. Dia menahan tangis. Duka di dalam hati itu, nampak begitu menyakitinya.
"Tapi dia beruntung, Mas. Dia dicintai oleh lelaki sepertimu. Sosok lelaki yang bersedia menerima dia apa adanya. Eh? Maksudku... emm... kamu tidak meninggalkannya, bukan? Kamu masih tetap mau menikahinya, ya kan? Maaf kalau aku salah."
__ADS_1
Lagi dan lagi, Mas Ilham mengangguk. "Ya, memang. Awalnya dia tidak mau. Dia membatalkan rencana pernikahan kami yang hampir rampung. Tapi akhirnya... dia bersedia. Dengan bersusah payah aku meyakinkan Mia, sampai akhirnya dia mau. Aku berniat menikahinya setelah dia melahirkan, setelah selesai masa nifasnya. Tetapi... takdir justru berkata lain. Dia meninggal di saat melahirkan. Tepat beberapa detik setelah bayinya lahir dan terdengar suara tangisnya yang menangis kencang. Tangis yang mengantarkan Mia kembali ke Sang Pencipta. Sekaligus... tangis bagiku-- maaf, Zahra. Aku... aku tidak bermaksud...."
Hmm....