Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Malam Pertama


__ADS_3

Seulas senyum mengembang dan membelah wajahku. Melalui cahaya temaram, kutatap wajah tampan Mas Ilham dan membelainya. Aku mengangkat satu tangan dengan goyah ke wajahnya. Mengeluskan ujung-ujung jariku di lekuk tulang pipinya, membelai pria tampan itu dengan telapak tangan, menyapukan ibu jari di sepanjang sudut bibirnya.


Mata Mas Ilham menatapku dalam, hidungnya mengembang oleh sentuhanku. Dan kemudian, bagaikan kompas yang mengarah ke utara, Mas Ilham memalingkan kepala ke arah tanganku, menekankan bibirnya ke telapak tanganku, bernapas dengan kasar dan keras di kulitku.


"Aku juga menginginkanmu," kataku, menyambut dirinya.


Tetapi, Mas Ilham malah masih hendak bermain-main denganku. Dia berdeham. "Aku punya ide yang lebih baik," katanya. "Bagaimana kalau kamu memberitahuku di mana aku harus menyentuh pertama kali?"


"Mana aku tahu...!" protesku dengan rengutan. Mas Ilham malah terkikik dan tak bisa menahan tawanya.


Menyebalkan! Sungguh terlalu.


"Aku mencintaimu," ucapnya untuk memperbaiki suasana, lalu ia mengecup hidungku.


Baiklah, malam indah ini mesti tetap terjaga keromantisannya. Jadi... kumaafkan sikapnya yang sedikit menyebalkan itu.


"Apa kamu suka ini?" bisik Mas Ilham kemudian, dengan ringan menyapu lekukan perutku, merasakan tubuhku gemetar di bawah sentuhannya.


Aku mengeran* dengan mendesak, memejamkan mata rapat-rapat. Sentuhan itu membuatku merasakan sensasi menggelitik dan rasa menggelenyar yang mengaduk-aduk perutku. Membuatku terbuai dan kembali gemetar.


"Kita akan melakukannya pelan-pelan," gumamnya seraya menundukkan kepala agar bibirnya bisa menelusuri lekukan telingaku. Dengan ringan, ia menyapukan lidahnya di sekitar telinga bagian dalam. "Bagaimana dengan ini? Hmm?"


Mas Ilham melingkari cuping telingaku, lalu meluncur masuk. Ia nyaris tidak menyentuhnya, namun aku merasakan luapan hasrat asing yang tak pernah kurasakan di diriku. Mas Ilham menarik diri, mengisa* daun telingaku di antara giginya, dan menggigitku lembut.


Kilasan rasa nyeri yang tajam membangkitkan gairahku yang liar. Secara naluriah, pinggulku tersentak di ranjang, luapan hasratku semakin bertambah, panas, membanjiri perut, rahim, hingga panas dan lapar terasa di antara kedua tungkai kakiku. Aku pikir aku bisa mati oleh kenikmatan.

__ADS_1


Lalu, sesuatu yang membuatku malu tatkala menyadarinya, jemari Mas Ilham menelusuri bagian intim tubuhku, dan aku terkesiap.


"Ya, Zahra," bisiknya. "Sedikit demi sedikit, aku akan menemukan semua tempat manis rahasiamu. Tapi dengan pelan, Cinta. Dengan sangat pelan."


Aku merasakan tanganku mengepal ke dalam seprai. Aku membuka mulut untuk memohon kepadanya, tapi tak bisa mengeluarkan suara. Kemudian, Mas Ilham menyentuhku lebih pasti, menggeserkan dua jari di antara pahaku, meluncur di kelembapan tubuhku dan dengan hati-hati menyiksaku. Aku menarik napas tajam, sebuah bisikan di tengah cahaya temaram.


Kembali Mas Ilham mengelusku. Lagi dan lagi, manis dan sempurna. Aku terhilang dalam kenikmatan itu. Perasaan ini terasa menakutkan. Menggembirakan. Sampai akhirnya, sentuhan Mas Ilham mengoyakkanku bagaikan gelombang pasang, merenggutku dari tonggak kewarasan, dan mengayunkanku ke bintang-bintang, melemparkanku jauh ke dalam gelombang hangat kebahagiaan.


Dengan lembut Mas Ilham melengkungkan tubuh di atasku saat gemetar itu perlahan-lahan mereda. Dia sudah begitu mendamba dan menyelinap turun di tubuhku, dengan lembut, ia mendesak tungkaiku membuka dengan dirinya.


Menyadari hal itu, mataku terbuka. "Oh, Mas," rintihku. "Aku...."


"Ssst...," bisiknya, mulutnya menekan di lekuk perutku. "Biarkan saja aku merasakanmu."


Dan ia melakukannya.


Di sekeliling kami, ruangan terasa hening kecuali detak pelan jantung kami dan embusan napas yang saling berbalas. Ketika ia merasakan bahwa aku sudah siap -- ketika ia tahu bahwa sentuhannya tak akan menenggelamkanku -- Mas Ilham menyapukan lidahnya dengan ringan di inti jiwaku. Tapi, aku tahu pasti, saat menghirup aroma manisku, kebutuhan dirinyalah yang memuncak, mendadak terkumpul panas dan berat di bagian bawah tubuhnya.


Tak mungkin bisa ia pungkiri, ia merasakan pusat gairahnya mulai berdenyut panas dan mendesak. Tanpa ampun, Mas Ilham menarik napas tajam dan memaksakan perhatiannya kembali kepadaku, membelai bagian itu hingga ia mendengar suaraku -- pekikan halus menyerah -- tercekat di tenggorokanku.


Saat kurasakan napasku semakin cepat, ia mengangkat kepalanya. "Sekarang, Sayang. Aku ingin berada di dalammu sekarang," suaranya secara mengherankan terdengar parau dan dalam.


"Ya--" aku merasa kata tersebut dikoyak dariku dalam sebuah isakan. Aku merasakan getaran itu mulai lagi, jauh di dalam perutku. Aku takut. Takut tak mampu menahan sakitnya, namun aku pun menginginkan kenikmatan itu.


Mas Ilham menyelinap masuk, dan seketika tanganku lagi-lagi tersentak lalu mencengkeram seprai. "Oh, Mas...," aku meringis, mataku terbuka lebar. Tatapan Mas Ilham mengunciku, matanya gelap oleh hasrat. Aku memanggil namanya -- atau berusaha untuk itu -- memohon sesuatu yang tak kumengerti, sementara mata Mas Ilham terus menatapku dengan matanya yang penuh hasrat namun cemerlang.

__ADS_1


"Zahra...." Mas Ilham menekan, perlahan dan hati-hati. Dan aku mulai merasakan sakit yang lebih di antara suara Mas Ilham yang mengagungkan namaku. Dan...


Akhirnya...


Sakiiiiiiit... sekali.


Sumpah demi apa pun, sakitnya tak terkira. Ada sekilas rasa nyeri yang tajam, serbuan intens saat ia berhasil merenggut kegadisanku. Tubuhku menjadi kaku, pinggulku yang sensua* terangkat sepenuhnya dari ranjang, mulutku membuka dalam jeritan tanpa suara. Tak mampu bertahan. Aku menitikkan air mata. Menanggung sakit itu untuknya, dia yang kucinta.


"Oh, Tuhan, Zahra," bisik Mas Ilham, suaranya kaya oleh rasa takjub. Kepalanya mendongak ke atas. Matanya terpejam erat, urat di lehernya menyembul dan licin oleh keringat. "Are you okay?" bisiknya parau, suaranya lemah, tubuhnya gemetar oleh apa yang terasa bagaikan upaya yang melampaui batas manusiawi.


Luar biasa.


"Aku-- aku baik-baik saja," aku berhasil bicara, merasakan priaku itu mendenyar dan berdenyut di pintu masuk rahimku.


Dengan senyum bahagianya, Mas Ilham mengangkat dirinya dan menekanku lagi dengan kasar. "Tahanlah, Sayang," pintanya. "Tahan rasa sakitmu untukku."


Aku hanya mengangguk, walau rasanya seakan-akan aku akan mati di dalam pelukannya. Akan kutahan sakit ini untukmu, Mas....


Dia menghunjamkan dirinya ke dalamku dalam gerakan-gerakan mulus. Siksaan hasrat itu menyeruak keluar dari dirinya, mencabik jiwanya, dan menumpahkannya padaku. Seluruh dirinya. Ia bergerak dalam ledakan penuh nafsu, cinta, dan rasa membutuhkan.


Sungguh, aku terbakar kobaran gairah yang menyala-nyala, terbakar bersama pria yang kucintai ini, dan merasakan ia menggigit kulit lembut di bahuku dan merasai tangan pria gagah itu mencengkeram kuat kedua lenganku. Aku mendesis di kegelapan, menahan sakit, dan suara napas Mas Ilham bercampur denganku, rendah dan parau, saat ia mendorong, mendesak, dan menumpahkan dirinya di dalam jiwaku.


Dan, pada akhirnya, dia roboh di atasku, menunggu tubuh dan jiwa kembali menyatu. Sedangkan aku -- kurasakan tubuhku lemah tak berdaya. Aku lunglai, dan mulai kehilangan kesadaranku.


"Terima kasih, Zahra. Aku sangat mencintaimu."

__ADS_1


__ADS_2