
Tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak. Meski aku sedikit pesimis, namun harapan itu mengirimkan sugesti positif bagi diriku. Seolah aku mengalami tanda-tanda kehamilan seperti pusing dan merasa tubuhku lemas pada keesokan paginya. Apalagi, di saat kami menyibukkan diri dengan tempat tinggal baru kami yang semalam sudah dibersihkan oleh jasa cleaning service, aku jadi terkesan membatasi diriku dari aktivitasku sebagai seorang ibu rumah tangga supaya aku tidak sampai kelelahan, sama seperti semalam dan tadi pagi saat aku membatasi Mas Ilham supaya ia olahraga ranjangnya pelan-pelan saja. Semalam, kukatakan kepadanya bahwa aku cukup lelah, sementara pagi ini, aku mesti hemat energi. Deal, pelan-pelan saja.
Eh?
Rumah yang akan kami sewa posisinya persis di samping rumahnya Mbak Fitria, hanya dibatasi pagar yang lumayan tinggi. Sewaktu kami datang, rumah itu masih terkunci, namun jendelanya terbuka, dan kucoba melihat ke dalam rumah. Ada sebuah televisi dan sofa di ruang depan yang kecil. Baru saja aku hendak mengendap-endap ke belakang rumah, terdengar suara seorang perempuan.
"Excusme."
Cepat-cepat aku membalik badan. Perempuan yang berdiri di hadapanku barangkali umurnya sekitar pertengahan empat puluhan, agak mungil, dengan rambut merah keriting dan bintik-bintik yang menutupi setiap bagian kulitnya yang terbuka. Dia saudari si pemilik rumah yang hendak menyerahkan kunci rumah itu kepada kami. Di dalam perabotannya lengkap, dan perempuan itu mengatakan bahwa kami boleh memakai perabotannya asal dijaga kebersihannya dan mesti disimpan kembali seperti sediakala saat kami meninggalkan rumah itu nanti.
Dapat dimengerti. Aku mengangguk, lalu menyambut kunci yang ia serahkan kepadaku seraya mengucapkan terima kasih dalam bahasa Inggris. Lalu, saat perempuan itu berpamitan pulang, Mbak Fitria datang dengan membawa seprai baru di tangannya. Ah, baik sekali dia. Dengan maksud baik pula ia menasihatiku bahwa kami boleh memakai perabotan di rumah itu, namun tidak dengan pakaiannya, dalam artian: jangan membuka lemari pakaian si pemilik rumah, apalagi mengeluarkan dan memakai benda-benda di dalam lemari pakaian itu. Maka itu ia memberikan seprai baru itu untuk kami.
"Akan kuberikan handuk juga kalau kalian tidak membawa handuk," katanya.
__ADS_1
Aku nyengir. Aku tidak membawa handuk karena kupikir kami akan menginap di hotel terus selama masa bulan madu ini, yang rencananya hanya satu minggu. "Tidak usah, Mbak," kataku. "Nanti temani aku belanja saja."
Ah, untuk hal satu ini Mas Ilham tidak memperhitungkannya. Dia membiarkan aku packing sendiri untuk pakaian kami berdua selama satu minggu. Dia tidak memberitahuku tentang niatnya untuk tinggal lama di sini dan menyewa rumah di sini.
"Baiklah," kata Mbak Fitria kemudian. "Maaf nggak bisa nemenin beberes. Baby Zifa lagi rewel."
Aku mengangguk, mengiyakan, dan setelah itu ia langsung berpamitan. Dan sekarang, aku mesti menata letak perabotan dapur. Mesti membongkar lemari penyimpanan perabotan-perabotan itu, mencucinya, dan menata letaknya di tempatnya masing-masing. Seperti ricecooker, kompor, panci, gelas, piring, sendok, dan lain-lainnya. Sementara, Mas Ilham bertugas untuk memastikan semua sambungan dan saluran listrik di rumah itu aman untuk kami gunakan.
Well, karena Mbak Fitria tidak bisa bepergian terlalu lama sebab khawatir kalau meninggalkan si bayi terlalu lama, kami hanya berkeliling di supermarket dan membeli apa-apa yang kami butuhkan saja, terutama untuk persediaan bahan makanan. Lagi-lagi, urusan jalan-jalan dalam rangka honeymoon ini kami undurkan: besok-besok saja. Gampang.
Sebelum kami pulang, Mas Ilham hendak ke toilet dulu katanya. Dia meminta kami menunggu di dekat toilet, jangan pergi ke mana pun katanya. "Dengarkan perintah suami," tekannya kepadaku.
Euw... dia parno. Kalau tidak kebelet pipis, dia tidak akan pernah mau membiarkan aku terlepas dari pengawasannya walau satu detik pun.
__ADS_1
Tapi... aku malah bersyukur, sepeninggalnya ke toilet, aku jadi punya pemikirian tentang sesuatu: aku ingin meminta tolong kepada Mbak Fitria untuk pura-pura mampir ke apotek dan membelikan testpack untukku. Sementara aku akan berusaha menahan Mas Ilham untuk tetap di mobil bersamaku. Aku ingin menguji perihal kemungkinan kehamilanku ini sendiri, diam-diam dari Mas Ilham. Dan hanya akan memberitahukan hasilnya kepada Mas Ilham jika hasil uji testpack itu positif.
Untungnya, tanpa banyak bertanya, Mbak Fitria yang tidak tahu menahu soal keguguranku waktu itu mengiyakan saja permintaanku. Malahan, dia begitu senang dan mendoakan semoga aku positif hamil. Dia akan membantuku untuk mendapatkan alat uji kehamilan itu tanpa ketahuan oleh Mas Ilham.
Kau tahu, sebenarnya aku sedikit waswas. Pasalnya, dokter menganjurkan supaya aku tidak hamil dulu dalam waktu tiga bulan. Dalam ilmu medis hal ini bertujuan supaya rahimku kembali normal dulu dan siap kembali untuk mengandung. Tapi, tiga bulan itu terlalu lama untuk sengaja ditunda. Dan setelah aku mencari-cari informasi di internet, banyak kok para ibu yang mengalami kasus sepertiku, keguguran pada masa janin masih sangat muda usia sembilan minggu, tanpa nifas, dan tahu-tahu hamil lagi. Banyak di antara mereka yang kehamilannya normal, tidak bermasalah sama sekali. Sebab itu, aku dan Mas Ilham tidak ingin menunda seperti yang dianjurkan oleh dokter. Kami memutuskan untuk ikhtiar saja. Bagaimana hasilnya, biarkan bagaimana yang Mahakuasa berkehendak. Baik buruknya kami akan menanggung risikonya bersama.
Agak nekat, ya? Tapi inilah bagian takdir yang mesti aku dan Mas Ilham jalani. Kata Mas Ilham, niat kami baik, kami pun selalu berdoa dan berharap yang baik-baik, jadi... semoga yang Mahakuasa pun menyertai kami dengan kebaikan.
Yeah, selain nekat, mungkin kami pun terkesan egois di mata orang lain. Terutama aku, mungkin ada yang memandangku sangat egois, bahkan diriku sendiri pun berpikir demikian. Aku egois. Seolah, kalau tidak cepat hamil atau segera mendapatkan pengganti janin yang telah gugur itu, aku akan lama terpuruk dan lama pula memendam rasa sakit plus pahitnya rasa kecewa karena patah hati. Walaupun sesungguhnya di dalam diri ini tiada henti untuk mencoba dan terus belajar ikhlas, meski sulit.
Pada akhirnya kembali lagi, aku dan Mas Ilham hanya berikhtiar, entah salah, entah benar. Entah egois ataukah tidak. Yang pasti, jika yang Mahakuasa berkehendak: menitipkan kembali janin ke dalam rahimku, maka kami akan bersyukur -- dengan berusaha menjaganya dengan baik sampai ia lahir, sampai ia tumbuh dan berkembang menjadi anak yang saleh dan salehah, dan menjadi khalifah bagi dirinya sendiri, keluarganya, dan keseluruhan umat yang bernaung dalam ruang lingkup dunianya kelak.
Aamiin....
__ADS_1