Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Cinta, Pengobat Luka.


__ADS_3

Mas Ilham bangkit, turun dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi. Aku kasihan sekali melihatnya. Ternyata, dari sosok luarnya yang kulihat begitu jantan, tegar, dan kuat, dia memiliki sisi sensitif dan kerapuhan yang luar biasa, yang pasti sangat sulit untuk ia atasi.


Selama beberapa menit, aku menunggu Mas Ilham dalam diam. Namun, akhirnya aku tak kuasa. Aku tidak tahan melihatnya menanggung lukanya itu sendiri. Dengan ragu, aku pun bangkit, turun dari tempat tidur untuk menghampirinya.


"Mas...," panggilku seraya mengetuk pintu kamar mandi, lalu aku pun membuka pintu yang ternyata tidak ia kunci.


Dengan memunggungiku, Mas Ilham menyeka air matanya, lalu ia berbalik. Wajah dan matanya merah. Tetapi, selayaknya lelaki biasa, dia berusaha menyunggingkan senyuman palsu, dan berusaha tegar.


"Sori," katanya.


Aku mengangguk, kubalas senyumannya seraya menghampiri dan langsung memeluknya. Bersandar di dada bidangnya yang mendekapku begitu erat.


"Aku minta maaf, Zahra. Aku kira... dukaku tidak lagi sebesar ini. Ternyata, rasa sakit karena kehilangan itu masih sangat dalam. Aku minta maaf. Tapi percayalah, Zahra, demi Allah, aku tidak bermaksud menyakitimu dengan perasaanku yang masih... entahlah. Tapi sungguh, aku bersumpah demi Allah, aku mencintaimu, tidak kurang dari cintaku kepada almarhumah Islamia. Cinta yang sama besarnya."


Sama besarnya. Tidak lebih besar?


Tapi aku tidak boleh cemburu. Dicintai oleh Mas Ilham sebesar dia mencintai almarhumah Islmia yang begitu sempurna, itu sudah cukup bagiku. Aku mesti bersyukur. Tidak apa-apa, Zahra. Tidak apa-apa. Toh, kau baru berada di hatinya. Dan kau tetaplah beruntung.


Tetapi, aku tak bisa memungkirinya, tadi aku hanya sedih dan menjadi melankolis, tapi sekarang, aku menangis.


"Kenapa?" tanya Mas Ilham. "Apa aku telah menyakiti hatimu, Zahra?"


Terpaksa kugelengkan kepalaku. "Aku... aku bahagia, Mas. Aku bahagia karena kamu... kamu mencintaiku... sama besarnya seperti...."


"Ya Allah, Zahra. Maaf. Aku... aku tidak bermaksud...."


"Tidak apa-apa, Mas. Aku mengerti, kok. Aku bersyukur--"


"Zahra... cintaku kepadamu, dan cintaku ke almarhumah itu memang sama besar. Tapi itu di waktu yang berbeda. Dia di masa lalu. Dan kamu, kamu sekarang. Kamu masa depanku."


Tapi tetap saja. Apalagi... kamu mencintainya hingga sekarang. Astaghfirullah hati... berhentilah untuk cemburu. Ini cemburu buta, cemburu yang tidak seharusnya. "Aku mengerti," kataku lagi seraya menyeka air mata.


"Perbandingan itu tidak penting, Zahra. Yang terpenting, aku mencintaimu sepenuhnya, saat ini, dan sampai kapan pun. Sampai kita menua bersama, bahkan sampai nanti kita mati."


Aku mengangguk-angguk. "Ya," kataku. Akhirnya aku mengalah dengan perdebatan di hatiku, dan tidak ingin membahas soal perbandingan ini lagi -- perbandingan yang lancang dirasakan oleh hati kecilku -- yang sulit untuk kukendalikan.


"Sudah, ya? Kita istirahat saja."


"Sebentar...."


"Ada apa? Masih ada yang ingin kamu tanyakan?"


"Em, tentang... almarhumah teman bisnis Mas Ilham...?"


"Ya." Mas Ilham mengangguk. "Dia... dia adalah almarhumah Islamia."


Sudah terjawab semua rasa penasaranku, dan aku pun balas mengangguk.


"Aku minta maaf, Zahra. Tapi aku tidak bermaksud untuk menutupi semua ini ataupun berlaku tidak jujur terhadapmu. Tapi kupikir karena... dia hanya bagian dari masa laluku, aku tidak perlu untuk...."


Lagi, aku mengangguk. "Aku paham, Mas. Tidak apa-apa, kok. Yang terpenting kamu sudah terbuka sekarang--"

__ADS_1


"Yeah, kamu juga sudah terbuka."


"Em, kuharap... sudah tidak ada lagi hal yang kita tutupi dari satu sama lain, ya?"


"Ya, Sayang. Seperti sekarang, bukan? Sudah terbuka semua dan tidak ada yang tertutup."


Nyesss...!


"Auwww...! Sakit...!" Mas Ilham memekik karena cubitanku. Praktis pelukan kami terlepas.


Salah siapa? Dia mengartikan lain pembahasan kami dan malah menyahutiku seperti itu, dengan jemarinya yang nakal menelusuri punggung telanjangku, dan sekarang dia mulai tertawa. Alamat kumatnya kambuh.


"Makanya... yang serius...," sungutku.


"Lo, Sayang? Apanya yang salah?"


"Penafsiranmu yang salah."


"Di mananya? Memang kita sudah sama-sama terbuka, bukan? Tidak ada yang tertutup?"


Aku mendelik. "Itu tu, maksud kamu tentang kita yang sekarang sama-sama polos, kan?"


"Siapa yang polos? Aku tidak. Maksudku, aku tidak sepolos itu."


Euw...!


"Terserah kamu saja, Mas."


Eh?


Uuuh... dia nakal. Lidahnya yang sensua* serta merta menggelitik di telinga. Pun jemarinya, dengan lincah bergerilya di dada.


"Mas...."


Ya ampun... mulai deh pura-pura tuli.


"Mas, bisa--"


"Apa?"


"Eummmmm...," aku mengeran* nikmat di bawah serangan ciuman plus jemarinya.


"Jangan katakan apa pun lagi, Zahra. Please... aku ingin diriku terbakar dalam hasrat cintamu."


Hmm... kasihan Mas Ilham, dia butuh pelarian dari masa lalu yang membelenggu hatinya. Yeah, sebenarnya tidak apa-apa. Asalkan bukan aku yang dia jadikan sebagai tempat pelarian. Tetapi....


"Sebentar, Mas. Aku... aku kebelet. Aku mau pipis dulu."


Ya salam... dia malah nyengir edan. Lalu...


"Eh? Kamu mau apa?"

__ADS_1


Mas Ilham mengangkat tubuhku dan mendudukkan aku di samping wastafel. "Aku ingin menyiksamu dalam kenikmatan."


"Maksudnya?"


Ih... tanpa menyahut, Mas Ilham merenggangkan kakiku lebar-lebar. Kemudian, dalam gerak cepat dia menyelinapkan diri, masuk ke dalam jiwaku dan menjadikan diri kami menyatu.


Edan!


"Mas, sebentar... aku mau pipis dulu."


"Tidak ada ampun bagimu, Sayang."


"Tapi aku mau--"


Dia mulai bergerak, dengan kedua tangan menahan di belakang pinggulku, Mas Ilham menyentakkan diri kuat-kuat kepadaku. Benar-benar edan. Bahkan, protesku pun ia abaikan. "Nikmati saja ini, Sayang." Ia mengeran* halus.


"Ya ampun! Kamu... kamu gila! Jangan--"


"Lepaskan saja, Sayang."


"Sinting...!"


"Well, tahan saja kalau kamu mampu."


"Oh, Mas...!"


"Apa? Hmm?" Mas Ilham terengah-engah.


"Eum, Mas... jangan... jangan begini...."


"Lepaskan, Zahra. Please... jangan memintaku untuk berhenti."


Uuuuuh... lelaki edaaaaaan...! Ngilu, tahu...!


Bagaimana rasanya menahan pipis, coba? Apalagi sambil bercinta? Kepingin meledak aku.


Dan... ukh! Aku tidak bisa menahannya. Mas Ilham pun berhenti bergerak. Tanpa melepaskan dirinya dariku, ia memelukku erat-erat. Menikmati, merasakan kehangatan yang mengalir dari dalam diriku dan membuatku bergidik di dalam pelukannya.


"Betapa hangatnya dirimu, Zahra," bisik Mas Ilham.


Oh... nano-nano, rame rasanya!


Kepingin marah, sebal, tapi juga kepingin tertawa sekaligus mesti manahan malu. Kelakuan Mas Ilham benar-benar konyol. Edan sekali!


Well, kucubit lagi perutnya dengan gemas. Tetapi, dengan sigap Mas Ilham meraih tanganku, lalu menikung tanganku ke belakang. Sambil menatapku lekat-lekat dia berkata, "Bukankah itu tadi nikmat, Zahra? Kehangatan yang sempurna."


Edan! Ujung-ujungnya kan jijik, bau....


Tapi Mas Ilham tak peduli. Yang ia tahu, dia ingin berbagi kenikmatan dan kehangatan bersamaku dengan cara apa pun. Sedalam dan segila apa pun.


Dan... dia pun mulai bergerak perlahan. "Terima kasih, kamu hadir membawa cinta untukku. Please... jadilah kekuatan bagiku, Zahra. Aku ingin bahagia bersamamu."

__ADS_1


"Ya, Mas."


Aku mengangguk, dalam derai air mata kebahagiaan.


__ADS_2