Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Bahagia Itu Sederhana


__ADS_3

Aku baru saja selesai mengenakan setelan piyamaku ketika Mas Ilham selesai mandi. Begitu keluar dari kamar mandi, ia tersenyum melihat gelas susuku di atas meja yang sudah berkurang setengah gelas, lalu ia mengambil piyamanya yang sudah kusiapkan di atas tempat tidur seraya mengucapkan terima kasih. Yeah, memang Mas Ilham tidak selalu mengucapkan kata terima kasih atas hal kecil yang kulakukan untuknya, tapi lumayan rajin. Jadi, senang rasanya ketika dia berterimakasih walau untuk hal sekecil itu, dan, tidak bosan juga sebab tidak keseringan diucapkan.


Dan sekarang, selagi Mas Ilham mengenakan pakaiannya, aku pun melepaskan gelungan handuk dari rambutku, lalu menyampirkan handuk itu ke tempatnya, barulah aku duduk di kursi meja riasku untuk menyisir rambut. Dan, di saat itulah Mas Ilham yang tengah mengancingkan kemejanya duduk di lantai, di sisi kananku.


"Mau apa?" tanyaku. "Kok duduknya di situ?"


Mas Ilham hanya nyengir. Walau tanpa dijawab aku tahu jawabannya. Kemudian, Mas Ilham sudah menjulurkan tangannya dan mengusap-usap perutku. "Sehat-sehat, ya, anaknya Abi. Abi sangat menyayangimu, sebesar rasa sayang Abi pada Umi."


Jiaaaaah... namaku juga disebut. Aku jadi mesem-mesem dibuatnya. "Terima kasih, Abi...."


Ya ampun... betapa bahagianya perasaan Mas Ilham saat ini. Apalagi nanti setelah anak kami lahir. Dia tidak hanya akan menjadi suami yang sempurna, tapi juga akan menjadi seorang ayah yang sempurna untuk anak-anak kami.

__ADS_1


"Hayo... cepat sisir rambutnya biar cepat istirahat. Malah senyum-senyum. Umi... Umi."


Astaga... senyumku malah semakin jadi. "Gimana nggak senyum-senyum, Mas? Kamunya manis-manisan terus. Akunya jadi happy. Dan aku tahu itu memang tujuanmu. Terima kasih."


Mas Ilham pun mengangguk dengan seulas senyuman kecil. Dan beberapa saat kemudian, aku sudah selesai menyisir rambutku, aku segera menghabiskan sisa susu di gelasku dan menaruh kembali gelas itu ke atas meja, lalu aku memutar ke samping. Persis di depan Mas Ilham, kubuka interval kakiku di antara wajahnya. Tak pelak, dia cekikikan dan nyengir kuda, plus maju lebih rapat ke perutku.


"Uminya sudah selesai sisir rambut, Abi. Yuk?" kataku.


Merasa gemas dan mengartikan lain -- meski hanya bercanda -- Mas Ilham menyingkap atasan piyamaku lalu menciumi perutku. "Kamu bobo, ya, Sayang. Abi mau meladeni Umi dulu."


"Memangnya ngapain? Kamu tidak lihat aku sedang menghibur anakku? Dia pasti happy di dalam sini karena kegelian."

__ADS_1


Bah! Aku yang geli, Mas....


"Eh, eh, itu, kamu mau ngapain sekarang?"


"Ssst... waktunya sahur, Zahra."


"Oalah... kok sahurnya pakai aku...?"


Dasar suami edan! Bisa-bisanya dia langsung melahapku dengan sebegitu buasnya.


"Bukan hanya anakku saja yang butuh dihibur, istriku juga butuh. Iya, kan?" Lalu Mas Ilham berbisik mesra di telinga, "Di luar hujan lebat sedang melanda. Please... aku membutuhkan kehangatanmu, Zahra. I need you so much."

__ADS_1


Hmm... hayuklah, pagi-pagi diajak suami beribadah dan mencari pahala. Oke, demi menyenangkan hatinya. Semangat....


Enak, kan, punya suami kekar? Kebutuhannya ajib! Membuat kemesraan di antara kami selalu terjaga.


__ADS_2