Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Canda Dalam Candu


__ADS_3

Aku terkikik geli. Terong ungu yang nampak licin, panjang, dan mengilap itu masih saja membuat otakku konslet. Ditambah lagi melihat kelakuan konyol Mas Ilham yang menanggapi reaksiku, edannya malah semakin jadi.


"Pegang yang erat, Sayang," bisiknya yang tahu-tahu berdiri rapat di belakangku.


Aku sedang berada di dapur, tengah memotong-motong terong untuk menu makan siang -- dengan pisau di tangan kananku, sedang tangan kiriku mencengkeram erat batang padat berwarna ungu itu. Meski aku tidak bisa menahan tawa dan rona malu yang menghiasi wajahku, aku berusaha keras untuk tidak merespons celotehan gila yang dicetuskan oleh Mas Ilham.


Namun bukan Mas Ilham namanya kalau ia tak semakin konyol. Ia mengambil sebatang terong lain dan mencengkeramnya erat-erat. Lalu, dengan kegesrekan otaknya, ia menelusurkan permukaan bulat pada ujung benda itu ke wajahku hingga berhenti di bibirku. Kepalang dia edan, maka kutanggapi ia dengan keedanan yang sama. "Emmmmmuach!" kukecup si licin ungu itu dengan mesra.


"Ukh...! Mau juga dong, Sayang...."


Iyuuuuuh... aku semakin terbahak. Ya ampun, aku ikut edan bersamanya.


"Sudah dong bercandanya...," rengekku. "Aku mau masak dulu, Mas. Ini sudah siang...."


Sekali lagi, bukan Mas Ilham namanya kalau dia tidak bercanda sampai dia merasa puas. Dengan jahilnya, dia menelusurkan ujung terong ungu itu ke punggungku hingga turun ke bagian belakang pahaku, lalu ia menekankannya agak kuat di sana.


"Kita belum pernah bercinta dari belakang, bukan?" bisik Mas Ilham dengan nada super sensual, lalu menggoda hasratku dengan lidah nakalnya yang menggelitik mesra di telinga. "Sayang, coba, yuk?"


Uuuh... tangannya yang nakal itu bergerilya -- mengelus bagian tubuhku yang bohay itu.


Sambil terkikik geli, aku menggeleng pelan. "Nanti, ya, Mas... aku masak dulu. Kalau nggak masak, kita mau makan apa? Kalau tidak makan, nanti tidak bertenaga. Bisa lemas, kan?"


"Kalau bercinta dulu?"


Lagi, aku menggeleng pelan. "Tenagaku bisa habis, Mas. Nanti aku lemas. Nggak bisa masak, dong? Kita mau makan apa? Kalau tidak makan nanti...?"


"Lemasnya semakin jadi."


"Nah, itu kamu tahu."


"Pesan online saja. Gampang."


"Terus, bahan makanan yang ada? Bagaimana?"


"Apanya yang bagaimana?" Mas Ilham menyelipkan jemarinya di bawah daguku, memiringkan wajah, dan mencumbuku sesaat.

__ADS_1


Huh!


Aku bergerak mundur dengan mata menyala lebar. Namun, Mas Ilham mengikutiku, menyudutkanku hinga membentur meja panjang penyekat antara dapur dan ruang makan.


"Mas...."


Dia tidak berhenti, malah mencondongkan tubuh ke arahku, mengurungku. "Apa, Sayang? Hmm?" Ia meraih tanganku, menekankan bibirnya ke telapak tanganku dan menyapukan lidahnya dengan ringan di kulitku.


"Aku mau masak dulu. Ingat, lo, tidak boleh mubazir. Orang tua kita memberikan semua ini dengan tulus. Masa tidak kita manfaatkan dengan baik?"


Yey! Suamiku tak bisa berkutik. Dalil-dalil yang sering ia sampaikan kepadaku mesti kulemparkan balik kepadanya.


"Iya, deh...! Kamu menang," ujarnya menyerah. "Kita makan dulu. Setelah itu baru...."


Hmm... dasar....


"Lah, itu kamu mau apa?" tanyaku pada Mas Ilham yang mengambil kelapa muda di sudut meja dapur. "Mau bikin es degan lagi?"


Dia hanya tersenyum tanpa mengiyakan pertanyaan yang memang sebenarnya tidak membutuhkan jawaban. "Biar kamu tidak punya alasan. Ini untuk mengisi energimu," katanya.


Sebenarnya aku sudah selesai menggoreng ikan, sudah kusimpan di bawah tudung saji, sudah memasak nasi di ricecooker yang sebentar lagi pasti akan matang, dan aku juga sudah menyiapkan lalapan. Hanya tinggal menumis terong saja, bahkan bumbu-bumbunya saja sudah siap. Yap, memang aku sengaja memotong terong itu paling akhir, sebabnya aku tahu pasti akan begini kejadiannya. Suamiku yang gesrek itu, yang sedari tadi menemaniku di dapur pasti akan gesrek kalau melihatku memegang terong ungu yang panjang dan mengilap itu. Dan, benar kejadian, bukan?


"Ih, jadi lemes gitu, ya, terongnya kalau sudah dimasukkan?" Mas Ilham terkekeh. "Kok jadi letoy?"


Hmm... lagaknya sok polos. Dia suka makan terong, pasti dia tahulah kalau terong akan lemes kalau sudah dicelupin... eh, maksudku kalau sudah dimasak.


Hayoloooh... jangan ikutan gesrek, ya!


"Jangankan terong, kamu aja lemes kalau udah dimasukin ke dalem."


Dia nyengir edan. Kumat lagi, kumat lagi. "O ya?" tanyanya. Dia kembali rapat di belakangku. Diraihnya tanganku dan menelusurkannya ke area sensitif itu. "Bagaimana?"


Ck! Dasar... edan!


"Apanya yang bagaimana?"

__ADS_1


"Masih tegang, kan?" bisiknya.


"Ya jelas, Mas. Kan belum dituruti maunya."


"Jadi?"


"Apa?"


"Masakanmu sudah selesai, bukan?" Matanya mengarah ke tudung saji. Lalu...


Busyet... dengan sebelah tangan terulur, Mas Ilham mematikan kompor.


"Kau milikku, Zahra. Aku menginginkanmu sekarang. Tanpa penolakan."


Hmm... aku menyerah. Kulepas spatula di tanganku berikut mangkuk untuk wadah tumis terongku. Aku mesti menghadapi yang satu ini dulu. Kalau tidak dituruti, kegesrekannya tak akan mereda. Yeah, aku mesti menaklukkannya.


"Well, I am yours. Lakukan semaumu."


Mas Ilham tersenyum -- supeeeeeer semringah, lalu, seketika ia menyentakku dengan keras ke dalam pelukannya, dan meremukkanku di dadanya. "Thanks, My Lady. Kamu benar-benar istri penurut dan berbakti kepada suami. Betapa aku mencintaimu. I love you, Zahra." Kemudian ia menciumku.


Ciuman itu bukanlah ciuman lembut yang membuaiku. Bukan. Melainkan, ciuman kasar. Mas Ilham memaksakan lidahnya menguasai kerongkonganku, dan menyisipkan satu tangan ke dalam rambutku, mencengkeramnya hingga kulit kepalaku serasa terbakar.


Yeah, kubiarkan diriku terangkat naik oleh gelombang pasang asmara, merasakan getaran gairah Mas Ilham, menempel pada tubuhnya, menekankan dada pada dada bidangnya, menikmati sentuhan tangannya yang menyelinap ke punggungku, sedang satu tangannya lagi menarik pinggulku dengan kuat ke tubuhnya.


Oh, Tuhan... dia selalu bisa membuatku tergoda. Ini adalah kegilaan. Sadar sepenuhnya, aku menciumnya balik. Aku menciumnya sebagaimana ia menciumku, dengan mendesak, rakus, dengan mulut dan lidahku, menyelinap masuk ke dalam kehangatannya, merasakan, menyentuh, dan membaur dengan serbuan sejuta rasa. Kubiarkan tanganku menyelinap ke balik kausnya, menelusuri punggungnya yang kencang dan kekar, merasakan ia bergidik di bawah sentuhanku. Energi sensual murni jelas mengalir di diriku. Ke dalam diriku.


Menyenangkan, ketika kurasakan Mas Ilham menyelipkan tangannya di antara tubuh kami dan bertahta di atas dada. Membuaiku dengan mesra. Di bawah serangan jemarinya, rambutku terurai lepas.


Lalu, dengan satu tangan, ia menyentak lepas lengan -- dress berkaret -- di bahu kiriku, memoloskan sebelah dadaku, lalu menundukkan kepala dan merasakannya dengan mulut, mengisa* lembut, nyaris memuja.


Ini sempurna. Sungguh sempurna.


Tetapi, dengan tiba-tiba, Mas Ilham menarik diri dariku.


"Aku lapar," katanya. "Makan dulu, ya, Sayang?"

__ADS_1


Euwww...! Dia cengengesan lalu menertawaiku. Dasar suami edan!


__ADS_2