Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Hmm....


__ADS_3

Sudah dua kantung besar sayur yang kami beli, termasuk jengkol muda, jengkol rebus, dan pete, juga aneka bumbu dapur semacam cabe, bawang, dan lain sebagainya, tak lupa jenis-jenis bumbu hangat seperti merica dan aneka kerabatnya. Semuanya sudah kami masukkan ke bagian belakang mobil.


Setelah membeli aneka sayuran dan bumbu-bumbu dapur, kami pun membeli sembako. Dimulai dari jenis-jenis tepung, gula, garam, teh, kopi, dan kerabatnya hingga ke bumbu-bumbu instan. Termasuk mie instan dan bihun-bihunan. Pun jenis-jenis keju dan cokelat. Mengingat enam hari dalam seminggu aku mesti mengajar, aku meminta pada Mas Ilham supaya kami menyetok semua itu dalam jumlah yang lumayan banyak, sebab aku tidak ingin selalu meluangkan waktuku dan membuat waktuku tersita berjam-jam di pasar pada hari minggu, yang di mana itu satu-satunya hari libur yang mesti kunikmati selain tanggal merah yang jarang adanya. Aku senang, Mas Ilham sangat mengerti akan hal itu. Kecuali untuk sayuran dan stok lauk yang mesti kubeli satu kali dalam seminggu, okelah, aku tidak keberatan meluangkan waktuku barang setengah hingga satu jam untuk ke pasar dan fokus pada area belakang saja, tidak mesti keliling dari satu toko ke toko lain seperti saat membeli sembako.


Setelah membeli semua sembako yang kucatat secara dadakan itu, aku pun meminta Mas Ilham supaya kembali ke parkiran untuk menaruh sembako-sembako itu ke dalam mobil, plus sekalian membeli sekarung beras, sementara aku berjalan sendiri ke area basah untuk membeli ikan dan ayam, dan aneka lauk lainnya sebagai stok mingguanku.


"Tapi nanti balik lagi, ya," kataku. "Susul aku ke belakang."


Mas Ilham mengangguk.


Dan, aku baru saja hendak melangkahkan kakiku ketika tiba-tiba Mas Ilham memanggil. "Apa?" tanyaku.


Dia nyengir edan. "Selain yang manis-manis sepertimu, aku juga suka sesuatu yang asin," katanya.


Euw...! Dia membuat otakku mengartikan lain. Dengan cengar-cengir, si pengantin baru itu berlalu begitu saja dari hadapanku yang merasa gemas.


Oke, Zahra. Dia hanya meminta ikan asin dan sejenisnya. Luruskan otakmu!


Tapi Mas Ilham membuatku gemas... kucabut nanti brewokmu, Mas....


Dengan mudah, aku bisa mendapatkan apa-apa saja yang ingin kubeli. Tak terkecuali sesuatu yang asin seperti yang direquest oleh Mas Ilham. Dan aku jadi ketularan cengar-cengir. Aku tahu pasti, yang paling dia sukai itu aku. Baik manisnya, ataupun asinnya. Iya, kan?


"Terima kasih," ucapku setelah membayar ikan asinku. Si ibu yang menjual ikan asin itu pun tersenyum. Sementara di sebelahnya, si pedagang ikan salai tengah mengeluhkan cerita hidupnya. Yang sempat kudengar, anak gadisnya kabur dari rumah lantaran tidak mau dijodohkan oleh si ayah. Tercubit rasanya hatiku, dan ada juga rasa syukur yang menyelinap ke dalam hati: untung aku tidak melakukan hal itu. Sebab, mungkin saja Umi akan lebih sedih dan lebih stres dari apa yang dialami oleh si ibu pedagang ikan salai itu.


Tetapi, sisi lain di hatiku pun ikut bersi tegang. Aku tidak boleh menebak-nebak, apalagi menilai bahwa apa yang dilakukan oleh anak si ibu pedagang ikan salai itu adalah hal yang salah plus buruk. Tidak. Sama sekali tidak boleh. Kutegur hatiku saat itu juga. Yap, karena belum tentu dia salah. Kau tidak tahu apa yang terjadi padanya. Kenapa dan dengan siapa dia dijodohkan.


Dan, naasnya, sewaktu aku berjalan plus berkutat dengan pemikiranku tanpa menoleh kanan kiri, tanganku disentak oleh seseorang.


Mas Imam?

__ADS_1


"Ikut aku," katanya kasar.


Jujur saja, ingin sekali aku berteriak supaya lelaki yang memaksaku ikut dengannya itu dihajar massa dan aku bisa berlari kabur dari sana. Tetapi aku tidak tega, dan sebagai gantinya, aku hanya mengancamnya, "Lepaskan aku, Mas! Kalau tidak, aku akan teriak!"


"Teriak saja!" tantangnya. "Teriak sampai semua orang menghakimiku. Aku mau lihat, apa kamu tega memperlakukanku seperti itu."


Berengsek!


"Gila kamu, ya! Lepas!"


Sedikit pun cengkeraman tangannya tidak melonggar. "Tidak akan sebelum kamu bisa kuajak bicara baik-baik," katanya seraya memerhatikan situasi di sekitar kami.


"Mas, aku ini sudah menikah. Tolong ikhlaskan aku," pintaku pelan. Aku mencoba bicara baik-baik padanya, berharap dia luluh dan mengerti.


Namun, pria di depanku ini nampaknya sudah dibutakan oleh cinta kami yang sudah berakhir kandas. Dia seakan tidak peduli dengan statusku yang sudah dinikahi oleh pria lain.


"Aku tidak bisa, Bil. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak bisa melepaskanmu untuk lelaki lain."


"Apa pun itu, Mas. Yang jelas aku sudah menikah. Tolong lepaskan tanganku."


Dia menggeleng-geleng. "Kamu terpaksa. Kamu tidak akan bahagia, Bil."


"Tahu apa kamu? Aku bahagia."


"Bohong!"


"Terserah! Aku tidak memintamu untuk percaya."


"Jangan keras kepala, Salsabila. Cintamu itu aku. Dan akulah kebahagiaanmu."

__ADS_1


Ya Tuhan. Cinta yang terlanjur kandas itu merubah tabiatnya menjadi seorang psikopat. Orang-orang di sekitar kami agaknya mulai memerhatikan pembicaraan kami yang nyaris bisik-bisik dan cengkeraman tangan Mas Imam di pergelangan tanganku.


Sabar, Zahra. Sabar. Kucoba untuk tidak bersikeras menarik tanganku, yang aku tahu itu hanya akan menyakiti diriku sendiri. Sambil menatap berani lelaki di depanku itu, aku berkata, "Aku tidak tahu bagaimana mesti menjelaskannya. Dan terserah kamu percaya atau tidak. Tapi yang pasti aku sekarang sudah menikah dan aku sudah bersuami. Tolong, pahami itu."


"Tapi kamu masih perawan. Aku tahu kamu tidak akan rela disentuh. Kamu tidak akan bersedia melakukannya dengan terpaksa, ya kan?"


What?


Ya salam... mestikah aku tertawa ngakak di depan wajahnya dan berkata bahwa aku sudah bercinta tiga kali dengan suamiku? Atau menunjukkan hasil visum kalau keperawananku sudah terkoyakkan oleh lelaki perkasa itu?


Dasar psikopat!


"Sayangnya kamu salah, Mas." Aku tersenyum. "Aku mencintai suamiku, dan aku dengan suka rela melayaninya. Aku sudah bukan lagi gadis perawan. Jadi, sekarang bisa, kan, kamu mengikhlaskan aku?"


Tapi...


Dia menggeleng-geleng tidak percaya. "Aku tahu kamu berbohong. Jangan memaksakan diri, Bil. Ikutlah bersamaku dan kita pergi dari sini."


"Tidak akan."


"Bila, aku mohon? Aku cinta--"


"Mas!" kali ini suaraku melengking dan semakin menyita perhatian orang-orang di sekitar kami. "Cukup, ya! Lepaskan aku!"


Tapi dia justru hendak menyeretku pergi. Karena marah, panik, dan kesal, aku pun meronta-ronta dan berteriak meminta pertolongan. Dan persis di saat orang-orang mulai berani mendekat, Mas Ilham pun datang.


"Lepaskan istri saya," kata Mas Ilham tenang, lalu ia meraih tanganku. "Tolong bersikap sopan, Bung. Silakan datang ke rumah kami bila ada yang ingin Anda bicarakan."


Tetapi Mas Imam tak mengindahkan perkataan suamiku. Dengan tatapan menantang dan mempererat cengkeraman tangannya, ia berkata, "Salsabila itu milikku!"

__ADS_1


Hmm... sungguh kau mencari masalah.


__ADS_2