
Mas Muslim agak sibuk pada keesokan paginya. Ada beberapa pekerjaan terjadwal yang tidak bisa ia tinggalkan. Jadi, ia baru sempat ke kantor polisi pada siang harinya. Sesuai kesepakatan kami, kasus tabrak lari yang menimpaku dan Mas Ilham segera dicabut laporannya.
Setelah makan siang dan salat zuhur, aku dan Mas Ilham menghabiskan waktu di halaman belakang. Sambil bersandar di sofa, kusempatkan diri untuk menghubungi Puspita. Sebelum menelepon, aku sudah mengirimkan pesan via whatsapp lebih dulu. Kuinformasikan kepadanya bahwa pihak kami sudah mencabut laporan itu, plus, aku menjelaskan kepadanya bahwa aku baru membaca surat darinya karena aku baru keluar dari rumah sakit dan Mas Ilham baru memberikan surat itu kepadaku lantaran tidak ingin proses pemulihanku selama di rumah sakit kemarin jadi terganggu. Aku meminta maaf, sekaligus meminta pengertiannya untuk hal-hal itu. Bahkan untuk keresahan hati yang ia rasakan akibat terseret dalam kasus ini. Meskipun, yah, itu bukanlah salahku, bukan salah Mas Ilham, ataupun salahnya Mas Muslim yang membuat laporan, aku merasa tetap wajib meminta maaf.
Untungnya, Puspita masih memiliki kelapangan dada dan kesabaran hati yang besar meski dia sampai tertekan dan stres. Dia sempat membalas whatsapp-ku, dia bersyukur dan lega kalau laporan itu sudah dicabut, dia pun berterimakasih lewat pesan whatsapp-nya.
__ADS_1
Setelah aku merasa lega karena Puspita membalas whatsapp-ku tanpa amarah atau ketidaksukaan, barulah aku meneleponnya. Dan aku langsung menanyakan bagaimana kabarnya, keadaannya, dan bagaimana dengan keadaan kandungannya. Katanya dia dalam keadaan baik, memang sempat ngedrop dan juga sempat dirawat di rumah sakit karena mengalami stres yang berlebih. Bukan hanya karena masalah tuduhan atas perbuatan kriminal yang diarahkan kepadanya, tetapi juga karena ia tidak diperbolehkan untuk melakukan perjalanan keluar kota. Sehingga, bila hal ini terus terjadi dan berlanjut, maka hal ini akan mempengaruhinya pekerjaannya di kantor barunya. Selain itu juga, tentu saja introgasi polisi atas dirinya membuatnya jadi stres berlipat. Sebab itu juga dia super lega bila terbebas dari tuduhan dan kembali hidup dengan bebas, dan ia tidak mesti melulu mendapatkan panggilan dari kantor polisi dan introgasi dengan pertanyaan yang ia rasa lebih ke arah intimidasi, daripada pertanyaan yang sewajarnya bertanya. Pertanyaannya terkesan menjurus ke perintah supaya ia mengaku dan mengiyakan, dan memaksanya untuk mengakui perbuatan yang dituduhkan kepadanya.
Ya, wajar kalau dia stres. Begitupula dengan pertanyaan introgasi itu, seperti itulah modelnya.
Setelah menyerocos panjang tentang keadaan dan kelegaannya, akhirnya Puspita pun tersadar dengan keadaanku pasca tabrak lari itu. Dia pun bertanya bagaimana dengan keadaanku yang sekarang.
__ADS_1
Lalu, di seberang sana, Puspita berdeham. "Ya, aku mengerti," katanya. "Tapi omong-omong, kamu beruntung punya orang-orang yang sebegitu peduli. Sampai-sampai, mereka menjaga betul perasaanmu, dan menghalangi orang-orang untuk menjengukmu di rumah sakit kemarin."
Aku yang minta, Pus. Karena aku terlalu cemen, aku payah untuk menghadapi orang-orang yang akan melontarkan kalimat-kalimat penuh duka terhadapku.
Tapi aku hanya bisa mengiyakan. Lalu, karena tidak ingin terlibat pembahasan yang lebih jauh, cepat-cepat aku beralibi bahwa ada pekerjaan yang hendak kukerjakan, segera.
__ADS_1
Entah Puspita menangkap signal tidak nyaman dari diriku ataukah tidak, tapi ia langsung mengiyakan dan segera mengucapkan salam. Sambungan telepon pun langsung terputus.
Ya Tuhan... tolong terus beri aku kekuatan. Tolong....