
"Sudah ke toiletnya, Sayang?"
Aku mengangguk. Biasa... namanya kaum perempuan, setelah menangis, pelariannya ke toilet. Hehe.
"Kita langsung pulang, ya? Ini obat dan vitaminnya sudah ada," kata Mas Ilham seraya menyerahkan plastik berisi obat-obatan itu ke tanganku. Kemudian, ia langsung menggandeng tanganku dan kami berjalan ke parkiran.
Di dalam mobil, Mas Ilham menghela napas dalam-dalam. Dan, dia mengatakan kalau dia tidak suka melihat wajahku yang diselubungi kemurungan.
"Aku juga tidak mau begini, Mas," sahutku lirih.
Mas Ilham berdeham pelan. "Begini deh, kenapa aku mesti ragu kalau jelas-jelas di malam pengantin kita... kamu itu masih perawan? Dan aku yang pertama kali menyentuhmu, Zahra. Jadi kenapa aku mesti meragukan kesucianmu dan meragukan anak ini? Tolong, Sayang, jangan berpikiran macam-macam. Jangan menangis. Jangan mengkhawatirkan apa pun, ya?"
"Aku cuma takut, Mas."
"Kamu perawan. Aku tahu itu."
"Ya bisa saja kamu berpikir kalau aku melakukan operasi."
"Ya Allah, Sayang. Apa kamu pikir aku sepicik itu? Aku tidak mungkin berpikir begitu, Sayang. Eh? Tapi kalau nanti setelah lahiran kamu mau operasi balik kayak perawan, boleh deh. Aku siap berjuang lagi."
Argh! Mas Ilham cengar-cengir. Gesreknya kumat.
"Kamu ini, ya...," rengekku. "Timing bercandanya tidak tepat...."
__ADS_1
Tapi, toh aku tertawa. Dia lucu, sih...!
"Begitu, dong...! Tertawa... kan cantik kalau murungnya hilang. Jangan sedih lagi, ya. Aku percaya padamu seratus persen. Tidak ada sedikit pun keraguanku terhadapmu."
Aku mengangguk lagi. "Ya, Mas," kataku. "Tapi... aku mau meminta satu hal, please?"
"Apa itu?"
"Emm...."
"Katakan saja."
"Itu, Mas, nanti... kalau ada yang bertanya berapa usia kandunganku, bilang saja satu bulan, ya? Aku mohon?"
Mas Ilham menggeleng, jelas dia tidak setuju. "Jangan dibiasakan berbohong dan menutup-nutupi sesuatu. Apalagi anak ini adalah anugerah bagi kita berdua. Ini rizki dari Allah, Sayang."
Jari telunjuk Mas Ilham menempel di bibirku. Memintaku untuk diam. "Ssst...," desisnya. "Biarkan saja bagaimana masyarakat akan berkomentar. Yang terpenting aku percaya padamu. Oke?"
"Masyaallah, Mas, kenapa kamu bisa sebegitu percaya kepadaku?"
Seperti biasanya, seraya mengedikkan bahu, senyum hangat dari bibir Mas Ilham lekas mengembang dengan sempurna. "Biar kuluruskan," ujarnya. "Kamu tahu, aku ini sama sepertimu. Aku kaum intelek yang mengerti teknologi. Bukan lelaki gaptek, apalagi lelaki yang berpikiran sempit yang akan langsung menuduh istriku telah berzina di belakangku hanya karena usia kehamilannya lebih tua dari usia pernikahanku. Aku bukan lelaki seperti itu, Zahra. Bisa jadi satu orang dokter salah perhitungan dan tidak mau menjelaskan secara detail, tapi kita kan punya teknologi. Kita bisa mencari informasi di internet yang penjelasannya tidak mungkin mengada-ada, mustahil hoax. Jadi, apa alasanku untuk meragu? Aku lelaki berakal. Dan aku memiliki tanggung jawab untuk menjadi seorang imam yang bijak untuk istriku. Paham?"
Ah, lega. Mas Ilham benar. Tentu saja, dia lelaki bijaksana. Dia bukan lelaki semacam tokoh novel yang langsung mengikrarkan talak di saat masalah datang menerpa. Lelaki berengsek yang menceraikan istrinya tanpa proses tabayyun dalam menghadapi masalah dalam rumah tangga.
__ADS_1
"Paham, tidak?"
"Iy--" kalimatku tidak jadi terucap lantaran Mas Ilham mencondongkan tubuh kepadaku. Nyaris menghimpit.
"Katakan iya, Zahra," bisik Mas Ilham di telingaku. "Kalau tidak, akan kuajak kamu bercinta sekarang juga. Hmm?"
Idiiiiiiih... geli. Aku sampai terbahak. "Apa, sih, kamu? Mau ngikutin trend tokoh casanova? Jangan nanggung, langsung bilang perkos*, bukannya bercinta."
"Mau bagaimana lagi? Kamu kan istriku," katanya.
Hmm... semakin rapat saja ia kepadaku. Dan sekarang... dia malah hendak mencium bibirku, tetapi...
"Wait, sebentar dulu, kamu benaran sudah paham, kan? Hmm?"
Aku tersenyum. "Iya, Mas. Aku paham," kataku. "Terima kasih karena kamu sudah sebegitu sabar menghadapiku. Kamu suami terbaik. I love you. Aku sangat mencintaimu."
"I love you too, Zahra. Dan, omong-omong... ehm." Mas Ilham cengar-cengir.
Apa, sih...? Jangan-jangan... dia mau...?
Eh?
Mas Ilham kembali berbisik mesra di telinga, "Sayangnya kamu sedang hamil. Kalau tidak... pasti akan langsung kurealisasikan keinginanmu itu, Zahra. Aku akan...."
__ADS_1
Huuuuuh...! Mas Ilham....
Gerah! Aku gerah!