
"Kenapa?" tanya Mas Ilham yang tahu-tahu sudah berdiri di dekatku.
Kusadari kerapuhan ini membuatku kembali meneteskan air mata. Bukan. Bukan aku cengeng atau tidak punya kekuatan untuk menghadapi masalah ini. Tapi aku benar-benar lelah menghadapi fitnah yang bertubi-tubi yang ditujukan kepadaku untuk mematahkan kepercayaan Mas Ilham terhadapku. Yah, walau aku tahu kalau usaha yang dilakukan oleh si penjahat itu akan berujung sia-sia. Sebab, aku memiliki hati Mas Ilham sepenuhnya. Dan lebih daripada itu, Mas Ilham adalah sosok lelaki yang sangat bertanggung jawab. Aku yakin, andaipun benar dia tidak percaya kalau aku bukan mengandung anaknya, dia tetap tidak akan melepaskan tanggung jawabnya sebagai suamiku. Dia akan tetap mempertahankan aku dalam pernikahan ini. Sama, kan, seperti yang dialami oleh almarhumah Islamia dulu? Mas Ilham tetap bersedia menikahinya walau dia sudah diperkosa dan hamil oleh lelaki lain. Apalagi terhadapku yang sekarang jelas-jelas sudah berstatus sebagai istrinya.
Tapi tidak, aku yakin dia benar-benar percaya padaku, dan percaya bahwa anak yang kukandung ini adalah anaknya. Darah dagingnya. Dia tidak berpura-pura, dan, tidak sedang berusaha memaksakan diri untuk percaya.
"Ini," kataku. Kuserahkan ponselku kepada Mas Ilham. Dia membaca pesan whatsapp itu dan setelah itu segera menutupnya.
Dengan entengnya, Mas Ilham mengantongi ponselku juga ponselnya ke saku celana. Lalu ia meraih tanganku dan menggandengku menuju kamar. "Sudah minum susu bumilnya, kan?" tanyanya.
Yap, jelas saja sudah, gelas susuku bahkan sudah kucuci. "Jangan menutupi sesuatu dariku, Mas," kataku. "Kamu merahasiakan sesuatu, kan?"
Mas Ilham hanya tersenyum. Dia terus saja menggandengku. Kami tengah menaiki tangga dengan perlahan. "Bukan merahasiakan, Sayang. Hanya demi tidak membuat pikiranmu terbeban. Hanya itu."
"Ada hubungannya dengan Mas Imam?"
"Tuh, kan. Kamu mulai kepingin lagi."
"Mas...," aku merengek.
__ADS_1
Dasar gesrek! Mas Ilham nyengir lebar. "Sori... aku salah. Maksudku kepikiran lagi."
"Bilang saja kalau kamu yang kepingin."
"Memang."
"Ih... kamu ini, ya...."
"Memangnya kamu nggak kepingin? Hmm?"
"Mas...."
"Yang serius...."
"Iya, ini serius. Aku kepingin."
"Argh! Menyebalkan!"
"Masa?"
__ADS_1
"Hmm... tolong dijawab, please...?"
"Iya, iya. Memang, benar. Tapi kamu jangan--"
"Ada apa? Apa Mas Imam mengatakan sesuatu?"
Mas Ilham mengangguk. "Lebih tepatnya menyampaikan sesuatu. Dia mengirimkan whatsapp."
"Apa? beritahu aku. Kan kamu bilang jangan suka bohong dan menutup-nutupi sesuatu, ya kan?"
Mas Ilham tidak menyahut. Sebaliknya, dia menyerahkan ponselnya ke tanganku saat kami sudah berada di dalam kamar, setelah ia mengajakku duduk rileks -- bersandar di kepala ranjang.
"Tapi janji dulu, kamu mesti bisa mengendalikan emosimu. Jangan sampai emosimu meluap, apalagi sampai membuatmu ngedrop, setres, dan lain sebagainya. Oke? Janji?"
Aku mengangguk. Aku paham. "Ya," kataku. "Aku janji."
Mas Ilham pun membiarkan aku membaca pesan itu.
》 Maaf kalau selama ini saya telah salah paham terhadap Anda. Tapi saat ini saya sudah tahu kalau tujuan Anda sangatlah mulia. Terima kasih karena Anda sudah menikahi Salsabila karena kehamilannya. Sumpah, andainya waktu itu dia bilang kepada saya kalau dia sedang hamil, saya pasti akan langsung menikahinya. Tapi, kalau bisa, kita tidak usah membahas semua yang sudah berlalu. Saya meminta maaf atas ketidaktahuan saya. Dan, saat ini, saya ingin memperbaiki segalanya. Maka dari itu saya mohon, tolong Anda ceraikan Salsabila. Saya akan bertanggung jawab padanya dan anak yang ia kandung. Saya akan menikahinya, dan membesarkan anak kami dalam keluarga yang utuh.
__ADS_1
Ya Tuhan, sesak napasku. Lelaki biadab! Apa maksudnya mengirimkan kalimat-kalimat ambigu seperti itu? Siasat baru untuk menghancurkan rumah tanggaku? Keterlaluan!