
"Nah, berhubung tanganmu sudah sembuh, sekarang giliranmu yang menyuapiku."
Euw...!
Praktis aku menggeleng. "Malu, Mas...," tolakku.
"Kenapa mesti malu?"
"Malulah... dilihat orang. Memangnya kita ABG?"
"Eh, justru kamu salah. Ungkapan kasih sayang itu tidak pandang usia, tahu...!"
Hmm... aku tak akan menang dalam debat "cara pandang" melawan Mas Ilham. Kuanggukkan kepalaku dan aku mulai menyendokkan es krim untuknya.
"Awas kena brewoknya, Mbak." Laila cekikikan.
Kami semua jadi menahan tawa karena celetukan gadis remaja itu, bahkan Mas Ilham seketika mengusap-usap rahangnya dengan telapak tangan. "Ini modal, lo, Dik. Tanpa ini Mbak Zahra nggak bakal kelepek-kelepek pada Mas Ilham."
Ya ampun, percaya dirinya luar biasa. Aku menggeleng-geleng lalu melanjutkan tugas kecilku: menyuapi calon suamiku yang mendadak manja.
"Terima kasih. Nanti kalau sudah jadi istriku, sering-sering manjakan aku, ya? Aku juga akan selalu memanjakanmu."
Uuuh... Mas Ilham, pandai sekali sih dia membuat topik sederhana menjadi obrolan yang teramat manis.
Lagi-lagi aku mengangguk sambil tersenyum. "Inshaallah, Mas."
__ADS_1
Ah... senyumku terlalu mengembang. Susah sekali menahan bibir dan semburat merah di wajahku ketika Mas Ilham bersikap manis seperti itu. Aku membayangkan hari-hariku kelak -- di masa-masa pengantin baru itu, pastilah aku selalu bahagia di setiap harinya. Setiap waktu yang kami lalui di masa kami yang sedang hangat-hangatnya.
Setelah dari kedai es krim, Mas Ilham langsung mengantar kami pulang. Dan itu menjadi detik-detik terakhir kami bisa saling memandangi satu sama lain sebelum hari pernikahan kami. Kami sudah sepakat, selama satu minggu ke depan kami tidak akan saling bertemu, bahkan tidak video call. Tapi ia berjanji bahwa ia akan sering meneleponku, setiap hari.
Sesampainya kami di rumah, Mas Ilham memintaku masuk, sementara ia ingin menghabiskan sedikit waktu dengan Abi yang kebetulan -- hari itu adalah jadwalnya di rumah bersama Umi.
"Yeah, mumpung Abi ada di rumah, kan? Jadwalnya bersama Umi. Dan itulah yang tidak kuinginkan. Aku ingin suamiku setiap hari pulang ke rumah yang sama dan pulang ke istri yang sama. Setiap hari, bukan berselang-seli seperti Abi."
Mas Ilham mengangguk paham dan menyunggingkan senyum terbaiknya. "Iya, Sayang. Aku akan selalu pulang ke rumah yang sama dan istri yang sama. Satu-satunya rumah dan satu-satunya istri yang kupunya. Kamu, dan hanya ke dalam pelukanmu."
Lagi-lagi aku tersenyum, dan kami berpandangan, saling menatap seolah itu bisa memenuhi kebutuhan akan pertemuan selama satu minggu ke depan. Dengan lembut, Mas Ilham menaruh telapak tangan kanannya di sisi kiri kepalaku, dan mengusapnya dengan sayang.
"Sampai jumpa di hari penikahan kita, Zahra. Aku sangat mencintaimu."
Aaah... jadi kepingin nangis. Haru. Aku suka sekali perlakuan sayangnya. Disayang Mas Ilham, perlakuan manis yang belum pernah kudapatkan dari siapa pun. Kini kusadari, untunglah dulu aku selalu bisa menjaga jarak dengan Mas Imam. Tak ingin terlalu rapat apalagi membiarkannya menyentuhku. Aku selalu bisa waspada untuk bisa menyingkir sebelum ia terlalu dekat denganku. Tetapi dengan Mas Ilham, walaupun sedekat ini, walaupun ia menyentuhkan tangannya ke kepalaku atau ke tanganku, tapi ia tak pernah menyentuh langsung ke kulitku. Mungkin tetap salah, mungkin tetap berdosa, tapi aku merasa nyaman, sebab ia melakukannya dengan sepenuh perasaan, dengan sayang, dan aku tetap merasa ia menghormatiku, meski mungkin saja tidak menurut orang lain. Tapi biarlah, aku Salsabila Azzahra, dan aku bukanlah -- siapa pun yang akan menilai buruk hal ini.
"Aku juga sangat mencintaimu," kataku. Aku menundukkan pandanganku dan menghela napas dalam-dalam. "Aku juga pasti sangat merindukanmu."
Mas Ilham mengangguk pelan. "Aku juga," katanya. "Tentu aku juga akan sangat merindukanmu. Tapi... di situlah indahnya. Kita akan melepas rindu itu di saat yang tepat. Di saat kita sudah menjadi pasangan suami istri yang halal. Iya, kan?"
Aku mengangguk.
"Yakinlah, semua akan indah pada waktunya, Zahra. Hanya sebentar lagi. Akan kubawa kamu pulang ke rumah kita."
Oh, dunia. Kalau sedang jatuh cinta, dunia seakan hanya milik berdua. Dan dua makhluk cantik di belakang kami tersenyam-senyum gigit jari.
__ADS_1
"Ayo turun, Mbak. Lama-lama melihat kalian berdua, bisa-bisa aku minta Joko melamar aku, lo."
Eh? Itu anak, ya... orang lagi romantis-romantisnya malah disela. Euw...! Kujitak nanti baru tahu rasa.
"Ya sudah. Sana, kalian masuk. Jangan lupa panggilkan Abi."
Aku patuh. Mau tidak mau kami mesti berpisah jua untuk sementara. Keluar dari mobil, aku dan si kembar langsung masuk ke dalam rumah dan memanggilkan Abi. Dengan pura-pura menggantikan Umi mengantarkan minumam ke teras depan, aku bisa melihat Mas Ilham sekali lagi, terakhir. Dan sewaktu berbalik, sebelum menghilang ke balik daun pintu, aku menoleh ke Mas Ilham dengan senyuman dan simbol love dari jemariku, persis yang ia lakukan sewaktu aku di rumah sakit. Mas Ilham praktis mengalihkan pandangannya -- untuk menyembunyikan senyum semringahnya dari pandangan Abi.
Yeah, akhirnya kami berpisah, menjalani hari satu minggu penuh dengan sendiri-sendiri. Hanya bisa mendengar suara via sambungan telepon, saling menyampaikan betapa rindunya kami terhadap satu sama lain, dan, walau berat tersiksa rindu, satu minggu itu pun terlewati dengan baik. Hari H sudah ada di depan mata.
Seperti biasa, hari itu -- kamis pagi, aku terbangun oleh ponselku yang berdering. Seperti satu minggu ini, Mas Ilham selalu meneleponku sebelum subuh.
"Assalamu'alaikum, Calon Istri."
Hihi. Aku masih saja tertawa mendengar salam dari Mas Ilham itu, yang sudah satu minggu ini ia mengucapkannya seperti itu. "Wa'alaikumussalam," jawabku. "Ini terakhir kali kamu menyebutku sebagai Calon Istri, ya."
"Em, aamiin. Inshaallah, Sayang. Hanya beberapa jam lagi. Bagaimana perasaanmu?" tanya Mas Ilham. Pagi ini ia terdengar gugup.
Uh, untung saja tidak ada orang lain di kamarku. "Sama sepertimu, Mas," kataku. "Aku juga gugup."
Bagaimana tidak gugup? Kami sepasang single yang sebentar lagi -- inshaallah akan segera halal. Bahagianya bukan kepalang, walaupun rasa gugup itu sampai detik ini tak kunjung hilang. Apalagi nanti malam, ya? Eh?
Haha!
Oh Tuhan... semua tentang pernikahan ini membuat duniaku begitu indah. Olala....
__ADS_1
Well, sebenarnya pagi itu kami tidak punya suatu apa pun yang mesti dibahas. Yang bersisa hanyalah kegugupan. Sebab itu, Mas Ilham mengajakku untuk langsung salat subuh. Azan baru saja berkumandang. Dalam salat ini, doaku masih sama: memohon kelancaran untuk hari ini. Mengharapkan ia benar-benar menjadi jodohku -- untuk dunia dan akhiratku. Satu cinta untuk selamanya.
Aamiin....