Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Keterbukaan


__ADS_3

Lega rasanya. Aku sudah selesai memasak, sudah makan siang, sudah beberes dapur, sudah melayani hasrat suamiku yang menggebu-gebu, sudah mandi, bersih-bersih plus tak lupa salat zuhur. Waktunya selonjoran....


Huuuuuh... kuembuskan napas dengan lega. Benar-benar lega. Kehidupan sebelum dan sesudah menikah yang kujalani itu amat sangat berbeda. Masa gadisku yang teramat santai dan sekarang dengan status baruku sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga, membuatku mesti belajar beradaptasi dan membiasakan diri. Untung saja aku memiliki suami yang tak banyak menuntut dan tak banyak maunya. Dikasih makan apa saja mau, tidak banyak kepingin ini itu sehingga aku tidak direpotkan dengan hal-hal yang demikian. Yap, keinginan Mas Ilham yang mesti wajib kuturuti tanpa penolakan -- cuma satu itu, bercinta dengannya -- kapan pun dan di mana pun yang dia mau. Cincaylah, aku sudah tak takut lagi diajak bercinta mau segila apa. Meski masih agak ngilu dan nyeri-nyeri sedikit, tapi aku sudah bisa berkompromi dengan rasa itu. Toh, lama-lama yang tersisa hanyalah rasa nikmat. Sebab, kulakukan itu dengan ikhlas, dan, rasa cinta yang tulus dari hatiku yang terdalam. Ecieee... I love you so much, Suami.


Eh?


Well, hampir jam setengah dua siang, rambutku sudah kukuncir tinggi dan aku hanya mengenakan setelan santai, atasan berlengan pendek dengan bahan kaus yang adem dan dipadupadankan dengan celana kulot yang serasi. Tak kusangka, Mas Ilham memaklumiku sampai sebegitunya sampai-sampai ternyata dia juga menyiapkan pakaian non hijab untukku -- untuk keseharianku di dalam rumah. Pesannya hanya satu: jangan keluar rumah atau berdiri di beranda kamar dengan pakaian seperti itu. Dan, cepat-cepat tutup aurat dengan jilbab panjang kalau ada tamu yang berkunjung, siapa pun tanpa terkecuali, baik tamu perempuan apalagi tamu lelaki. Siapa pun, sekalipun keluarga sendiri. Tentu saja, merah-merah di tengkuk leherku tak boleh dilihat oleh siapa pun, ya kan?


"Lo, katanya cuma satu syaratnya? Kok banyak?"


"Hmm... intinya... jaga auratmu dari pandangan orang lain. Paham?"


"Siap, Mas Ilham Sayang. Jangan khawatir, auratku hanya untukmu."


Dengan nyengir kuda, aku melenggang keluar dari kamar dengan penampilan baruku. Rasanya aku lebih memiliki kebebasan bersama Mas Ilham ketimbang saat aku di rumah dan ada Abi yang memandang tak suka di saat aku tak mengenakan hijabku, meski di dalam rumah, dan meski di depan dirinya sendiri, ayah kandungku. Dengan Mas Ilham, asalkan kami hanya berdua, tak memakai apa pun sepertinya tidak masalah. Apalagi di dalam kamar, itulah yang Mas Ilham inginkan.


"Ada yang kamu mau?" tanyaku pada Mas Ilham yang tengah bersantai di sofa teras belakang. "Camilan atau apa?"


Awalnya dia menggeleng, namun kemudian dia berubah pikiran. "Kalau boleh, tolong potongkan buah-buahan dingin. Bawakan ke sini. Please?"


"Baiklah. Tunggu, ya."


Aku pun lekas bergegas ke dapur, membuka lemari pendingin, mengambil buah-buahan dan memotong-motongnya. Setelahnya, dengan segelas air putih, kubawa semua yang ada di tanganku ke halaman belakang, kepada Mas Ilham yang tak bergeser sedikit pun dari posisinya.


"Masih ada yang lain?" tanyaku lagi.


"Tidak ada," sahutnya.

__ADS_1


"Baiklah. Kalau begitu aku mau--"


"Sini, dekat aku. Ada yang mau kubahas."


"Eh? Apa itu? Mau bahas apa, Mas?"


"Tentang... usaha-usahaku yang belum pernah kuceritakan. Kamu kan sudah menjadi istriku dan kurasa aku mesti menceritakan soal ini sekarang."


Aku mengangguk, meski tak sepenuhnya antusias karena aku kepinginnya istirahat dan selonjoran, tapi aku tetap duduk di dekat Mas Ilham untuk mendengarkan ceritanya.


"Kurang dekat, sambil kupeluk, dan kamu juga peluk aku."


Jiaaaaah... ada-ada saja Mas Ilham ini, ya....


"Kenapa mesti sambil pelukan? Aku maunya selonjoran. Kalau dekat-dekat, nanti kamu malah...."


"Tidak akan, Sayang. Aku cuma mau bercerita. Sini, tidak apa-apa sambil selonjoran."


Mas Ilham megambil bantal sofa dan menaruhnya di atas pangkuan, lalu menyuruhku untuk rabahan di atas pangkuannya.


Aku pun menurut, berbaring dan menaruh kepalaku di atas bantal di pangkuan Mas Ilham. "Mau cerita apa?" tanyaku. "Monggo."


Mas Ilham berdeham. "Begini," katanya memulai obrolan, "seperti yang kukatakan waktu itu, Abi meminjamkan modal kepadaku untuk bangun usaha. Jadi... yang kumaksud itu adalah usaha ternak. Bukan perkebunan bunga ini. Karena Abi sudah punya ternak ikan dan perkebunan sayur, jadi aku memilih untuk ternak sapi dan kambing, biar nggak saingan dengan Abi. Dan, emm... aku tidak perlu, kan, ya, menjelaskan proses-prosesnya dari sejak beli anak sapi, membuat kandang, dan lain-lainnya? Intinya usaha itu berkembang. Kambing-kambing yang sudah siap dijual, itu dijual ke pedagang sate, ke orang yang mau menyelenggarakan aqiqah, juga di hari menjelang kurban pada saat iduladha. Sementara sapi, itu prosesnya lebih lama. Sapi-sapi betina itu kalau sudah besar dan sudah siap bereproduksi, maka dikawinkan dengan yang jantan. Kalau yang baru lahir itu sapi betina juga, maka mesti dibesarkan lagi dan menunggu sampai siap berproduksi juga, terus melahirkan. Sedangkan yang jantan, kalau sudah siap untuk jadi hewan kurban, maka dijual pada saat menjelang lebaran iduladha. Kalau dalam skala besar dan tidak ada hambatan, dalam artian hewan-hewan itu sehat dan bobot tubuhnya berat, profitnya sangat menjanjikan. Aku bisa cepat mengembalikan pinjaman pada Abi, dan... punya tabungan sendiri. Uang tabungan itulah yang kupakai untuk bangun usaha perkebunan bunga ini."


Sampai di situ aku masih menyimak dengan santai. Sebab aku tahu, Mas Ilham bukan sosok yang ingin pamer keberhasilan apalagi menjelaskan proses-proses yang sebenarnya tidak penting untuk kuketahui, kecuali: ada maksud di bagian akhir cerita itu.


"Jadi, intinya yang mau kamu bahas denganku, itu apa? Masa kamu mau memberitahuku soal proses beternak dan profit yang kamu hasilkan? Bukan itu, kan, tujuanmu?"

__ADS_1


Mas Ilham mengangguk.


"Jangan ragu, Mas. Cerita saja. Lagipula, aku percaya, kok, kalau kamu tidak mungkin menyelewengkan penghasilan itu untuk hal yang tidak-tidak di belakangku."


Mas Ilham tersenyum. "Benar. Dan itu yang ingin kejelaskan sebenarnya. Tentang perkebunan ini." Lalu dia berdeham lagi. "Sebenarnya... ini lahan milik Abi. Dulu Abi suka membeli lahan-lahan kosong yang nyaris seperti hutan. Di mana, di zaman dulu, harga tanah tidak semahal sekarang, bukan? Tapi Abi menjual lahan ini kepadaku seperti harga yang dia beli dulu. Sama saja dia memberi sebenarnya. Karena aku ingin menggunakan lahan ini untuk bisnis perkebunan bunga. Emm...."


Sekarang aku yang berdeham. "Ada apa, Mas? Cerita saja kalau ada sesuatu yang penting untuk kamu jelaskan. Aku akan memahami semuanya dengan bijak."


Mas Ilham mengangguk lagi. "Ya," katanya. "Emm, sebenarnya, gagasan untuk berbisnis perkebunan bunga ini bukan ideku. Ada teman yang punya ide, dia siap mengembangkan idenya itu dimulai dari penanaman bibit, pemeliharaan, dan segalanya, sampai penjualan bibit, bunga dengan pot, juga buket bunga. Sementara aku, aku cuma mengadakan modal. Baik itu berupa uang untuk pembelian bibit dan segala hal yang dibutuhkan dalam pemeliharaan, juga lahannya. Perjanjiannya, kami akan berbagi hasil dari keuntungan bersih yang dihasilkan dari perkebunan ini. Tapi... masalahnya yang bersangkutan sekarang sudah meninggal."


"Oh," *esahku. "Innalillahiwainnailaihiraaji'un. Aku ikut berduka, Mas."


Dan, dalam hati aku jadi bertanya-tanya: apakah teman yang Mas Ilham maksud itu adalah Islamia? Calon istrinya yang sudah meninggal? Tapi aku tidak mencetuskan dugaanku itu. Bahkan, untuk menanyakan apa temannya itu laki-laki ataukah seorang perempuan, aku tidak sampai hati bertanya.


Mas Ilham mengangguk. "Jadi, yang ingin kubahas itu perihal pembagian profit itu. Aku... aku tidak enak kalau... semua profit itu kembali kepadaku. Aku merasa... ada yang berhak menerimanya. Yaitu anaknya."


Oh, sudah punya anak. Berarti bukan...?


"Ya walaupun tidak sebesar dalam perjanjian di awal itu. Tapi bagiku, anak itu berhak, sebab, kalau bukan karena ibunya, perkebunan ini tidak akan pernah ada, apalagi sukses, bahkan sekarang penghasilannya lebih besar. Aku merasa kalau aku zalim dan seolah memakan yang bukan hakku -- kalau aku tidak memberikan beberapa persen dari profit perkebunan ini kepada anak itu. Jadi... tidak apa-apa, kan, kalau aku tetap memberikan sebagian keuntungan perkebunan ini kepada anak itu?"


Aku mengangguk. Aku memahami, serta memaklumi kalau yang dimaksud Mas Ilham itu benar seorang teman perempuan. "Tidak apa-apa," kataku akhirnya. "Aku bisa maklum. Lagipula, aku tidak berhak melarang, bukan? Tapi terima kasih karena Mas Ilham sudah begitu terbuka kepadaku, termasuk dalam hal keuangan seperti ini. Aku merasa sangat dihargai. Terima kasih, ya, Mas."


"Ya, Sayang. Bagaimana pun juga aku wajib memberitahukan hal-hal semacam ini. Supaya ke depannya nanti kamu tahu dan hal ini tidak menimbulkan fitnah untuk keluarga kita. Dan... nanti, kapan-kapan, aku akan mengajakmu bertemu keluarganya. Ya... supaya kamu percaya. Kamu mau, kan?"


Aku mengangguk menyetujui. "Baiklah," kataku. "Aku mau kamu ajak ke sana."


Meski di dalam hatiku aku merasa ada hal yang ganjal -- hal yang belum kumengerti. Entah, apa itu?

__ADS_1


__ADS_2