
Yang kualami ini cukup berat, malah sangat berat kurasa. Aku mengalami kecelakaan dengan kondisi luka fisik yang parah, mengalami keguguran, dirawat plus mesti merayakan hari lebaran di rumah sakit dengan baju pasien. Halal bihalal sesama keluarga inti yang kebahagiannya menjadi tak sempurna. Dan PR yang paling berat bagiku adalah ketika aku mesti selalu berusaha menunjukkan bahwa aku kuat dan dalam keadaan baik. Aku berusaha makan mesti tak selera, aku mesti menahan tangis meski mata seringkali berkaca, dan aku mesti mengalihkan perhatianku dengan berbagai macam cara. Bukan satu-dua hari, tapi berhari-hari.
Awalnya, aku mencoba dengan menonton televisi, tapi tayangan apa yang bisa menarik perhatianku? Yang ada pikiranku kembali buyar. Makanan tentu tidak bisa dijadikan pelarian. Aku tidak mungkin menghabiskan begitu banyak makanan, akan ada kalanya kita merasa kenyang ataupun enek. Sama halnya dengan mengaji. Meski membaca Al-Qur'an itu berpahala, aku tidak bisa terus-terusan membacanya di sepanjang hari, di setiap menit yang kulalui. Begitu juga tentang pengetahuan umum, baik dari segi islami ataupun ilmu umum, aku bukan penikmat dan pembaca bagian ilmu yang demikian. Sementara untuk mengobrol, aku sedang takut, aku sedang tidak ingin berbicara, takut mengalirnya ke sana-sana juga.
Jadi, setelah hampir dua hari, sore itu -- mumpung ibu mertuaku sedang salat asar, aku mengeluh kepada Mas Ilham bahwa aku bosan.
"Jadi?" tanya Mas Ilham. "Mau apa? Mau dibelikan novel?"
Aku menggeleng. "Baca novel itu mesti dalam keadaan pikiran tenang. Biar bisa fokus membayangkan ceritanya."
"Jadi kamu maunya apa?"
"Ponselku."
"Nope. Kamu sendiri yang bilang kamu tidak mau berkomunikasi dulu dengan orang luar. Nanti ada yang menghubungimu, terus bahas-bahas soal... soal ini, bagaimana?"
__ADS_1
Aku merengut.
"Aku belikan tablet baru, mau?"
Eh? Aku sudah bisa tersenyum lepas. "Mau...," sahutku manja.
"Tapi janji, tidak boleh download aplikasi sosial media selain youtube."
Lo, kok? Otomatis manyun. Padahal aku sudah mengerti dan harusnya tidak bereaksi begitu.
Tidak ada pilihan, bukan? Jadi, ya sudah, deal. Mas Ilham pun langsung menghubungi Ikram, memintanya untuk membelikan tablet baru untukku.
Akhirnya, aku menghabiskan hari-hariku dengan berbagai game offline dan -- dalam pengawasan Mas Ilham. Dia akan rajin mengecek tablet baru itu dan memastikan bahwa tidak ada aplikasi sosial media yang ku-download. Bahkan aku juga tidak diperbolehkan untuk membuka google, apalagi untuk mencari tahu soal kecelakaan yang kami alami. Biar itu menjadi urusan polisi saja katanya.
Aku mengangguk karena sesungguhnya aku mengerti kekhawatiran Mas Ilham pada kondisi psikis dan mentalku, ia takut aku terus-terusan bersedih. Namun ternyata, bukan sekadar itu saja alasannya. Ada lagi: Mas Ilham menjelaskan hal itu sesaat sebelum kami pulang dari rumah sakit.
__ADS_1
Sedih, hancur, jengkel, kesal, sebal, dan segala rasa memuakkan menyelinap ke dalam hati tatkala aku tahu bahwa ternyata: di luar sana, gunjingan masyarakat terhadapku kembali hangat. Salsabila Azzahra ini digosipkan warga kena karma karena menyangkal mengandung janin di luar nikah, atau gosip satunya, bahwa jangan-jangan Salsabila Azzahra ini bersyukur atas kecelakaan yang menggugurkan janinnya. Jadi, tidak perlu digosipkan ini itu lagi tentang kehamilannya.
Tapi ini kecelakaan parah woy! Aku pun sayang pada janinku!
Kepingin aku berteriak seperti itu kepada siapa pun yang membuatku marah dan sakit hatiku semakin jadi.
Tetapi, kewarasan ini masih ada di dalam diri. Untuk apa aku berbuat demikian? Itu hanya akan menambah deretan panjang daftar gosip masyarakat atas diriku.
"Aku memberitahumu soal ini supaya kamu kuat, dan supaya kamu tidak terkejut nanti sewaktu mendengar berita ini setelah kita pulang. Bukan untuk membuat air matamu mengalir lagi. Tolong, Zahraku wanita yang tangguh, kan? Aku mohon... tersenyumlah, Zahra. Aku selalu di sini bersamamu. Kita bisa melewati badai ini bersama. Bisa, kan, Sayang?"
Selalu bisa. Tidak mungkin tidak bisa. Kuhapus air mataku dan menegakkan kepala. "Beri aku pelukan, tolong? Beri aku pelukan, Mas."
Mas Ilham tersenyum. "Apa pun untuk istriku, plus satu ciuman."
Dan kami tahu bahwa kami kuat. Hidup itu perjuangan, bukan?
__ADS_1
Perjuangan....