
Namun, kali ini tampaknya Mas Ilham tak memerhatikan. Ia sudah terbakar hasrat. Meskipun iya, tetap saja, sakit itu mesti kutanggung jua. Dengan satu lagi bisikan cinta, ia mendorong dirinya makin dalam. "Oh, Zahra. Aku mencintaimu. Em!" Dia menekan kuat.
Kutelan ludah dengan mata terpejam. Nikmat, tapi juga sakit.
Dia bertahan dalam posisi terbenam sempurna. "Siap?" tanyanya.
Sebenarnya tidak, aku belum sepenuhnya siap mengingat sakit dan perih itu masih terasa. Tapi, aku mengangguk tanpa suara, dan Mas Ilham menarik diri lalu mendorong masuk ke dalamku lagi. Itu terlalu banyak. Terlalu manis. Aku menggapai ke arahnya, ingin mencakar otot bahunya yang kencang tanpa daya.
"Ini menyenangkan, Sayang," gumamnya dengan seulas senyuman manis yang ceria. "Rasa manismu membuatku kecanduan."
Ah, Mas Ilham membuat wajahku kembali memerah. Aku bergidik merasakan kembali sensasi baru itu, sensasi tubuh Mas Ilham yang berat dan panas membakar dan merentangkan tubuhku. Memang benar, ini menyenangkan. Sempurna. Seakan aku telah menanti seumur hidupku.
Perlahan, ia menarik diri dengan gesekan teramat jelas di dinding rahimku, membuat jiwaku menjerit dari dalam. Dengan tangan memosisikan gairahnya, ia mendorong masuk kembali, menyelinap lebih dalam kali ini. Lagi, dan lagi, tubuh dengan tubuh, sedikit demi sedikit. Asing. Dan menakjubkan.
Namun aku segera menginginkan sesuatu yang lebih. Saat tubuhku sudah terbiasa dengannya, secara naluriah, kakiku melingkari pinggang Mas Ilham dan menarik diriku ke arahnya. "Please, lakukan lebih cepat."
Mas Ilham tersenyum. "Well, kau siap menanggungnya, Zahra? Akan kupenuhi permintaanmu."
Ya ampun, di saat seperti ini, Mas Ilham sedikit menakutkan. Aku merasa ngeri melihat senyumnya yang penuh arti.
__ADS_1
"Tuhan memberiku kekuatan melebihi apa yang kau dambakan," bisiknya, dia mendorong lembut kakiku turun dari pinggangnya, lalu menundukkan kepala dan menarik dirinya keluar dengan belaian hangat bak sutra di tubuhku. Kembali, dia menghunjamkan dirinya ke dalam, kali ini ia merentangkanku lebar dengan satu tangan, memaksakan sentuhannya pada inti gairah dan kenikmatanku.
Oh, itu dia. Ya. Begitu sempurna. Begitu dalam. Aku mengeran* dan mengangkat tubuhku kembali, menggelinjan* hebat di bawah hunjamannya. Lagi dan lagi, dia mendesak ke dalamku, napasnya tersengal, kepalanya mendongak, pinggulnya memompa penuh hasrat. Apa yang sebelumnya menyakitkan menjadi siksaan, menjadi... sesuatu yang lebih. Dengan membuta, tanganku mengepal kembali, mencengkeram-cengkeram seprai dengan gila dan melingkarkan kembali kakiku di pinggangnya.
Dengan tangan yang terkulai di atas kepala tanpa satu pun tempat berpegang, aku merasa diriku tanpa bobot, menggelepar dan terapung-apung dalam kelembutan ranjang pengantin kami saat ia di atasku, membayangi tubuhku, wajahnya sebuas dan sekeras hasratnya. Di bawah tubuhku, ranjang kokoh itu berguncang oleh kekuatan tekanan tubuh Mas Ilham.
Karena rasa pegal, aku melonggarkan kakiku di pinggulnya. Sebagai jawabannya, Mas Ilham mengangkat kakiku lebih tinggi, menaruhnya di atas pundaknya yang berotot. Lebih kencang dan lebih kuat, ia terus menekankan dirinya ke dalam kelembutan surgaku.
Sungguh, sebenarnya aku tak ingin mengeluh, aku suka kekuatannya -- yang selama ini kuimpikan. Namun, tenagaku rasanya sudah terkuras habis. Aku haus. Sementara, Mas Ilham malah memperdalam lagi gerakannya, dan aku terkesiap, berjuang untuk bergerak ke belakang. Namun, di luar dugaanku, Mas Ilham meletakkan tangannya di kedua bahuku, menekannya dalam-dalam di ranjang, memaksaku untuk tidak bergerak.
"Sudah kubilang aku bisa menjadi seperti apa pun yang kau minta. Jangan menyesal, Zahra."
Tetapi, itu semua terlalu menguasai, masih begitu asing bagiku. "Mas...," aku berbisik, saat ia mendesakkan diri di tubuhku. "Oh, Tuhan! Mas! Mas Ilham!"
Jelas tak ada sahutan. Hanya suara deritan ranjang dan irama kasar napas Mas Ilham yang menjawabku.
Mas Ilham melakukannya lagi dan lagi -- membelai, menghunjam, menggoda dengan hasrat -- intensitasnya terlalu besar untuk kutanggung. Aku merasa jiwaku terpisah dari badanku. Gerakan Mas Ilham yang berirama dan terus-menerus mendorong ke tingkat kesadaran -- tempat di dalam diriku -- yang tak kuketahui.
Tiba-tiba, tangan Mas Ilham meninggalkan bahuku, meluncur ke dada, menekan kuat dan membuatku kembali gemetar merasakan sensasinya. Lama setelah itu, tangannya berhenti dan beralih menyusuri lenganku sampai jemari kami bertautan. Saat itu aku menyadari bahwa mata Mas Ilham terpejam. Ia sedikit memiringkan kepalanya ke satu sisi, rahangnya terkatup erat saat ia bergerak di dalamku. Tubuh dengan tubuh, meluncur bak sutra di bawah cahaya kemilau. Tubuhku terangkat naik menemuinya, hunjaman demi hunjaman. Butiran-butiran keringat terbentuk di dahi Mas Ilham, mengalir turun ke pipi, dan menggenang di lembah bertulang keras di bagian bawah lehernya.
__ADS_1
Mungkin lelah, namun belum usai, Mas Ilham menurunkan kakiku dari pundaknya, membiarkannya meluncur di atas pahanya dan ia menelungkup di atas tubuhku, kedua lengannya yang kokoh menyelinap ke balik punggungku dan ia memaksakan hasratnya dalam-dalam di pusat tubuhku. Menarikku lagi dalam kenikmatan tanpa kenal lelah. Dan aku mulai terengah liar. "Mas...," jeritku terengah-engah. Aku bernapas di lehernya yang lembap.
"Sungguh, akan kulakukan apa pun untukmu, Zahra."
Ya Tuhan, aku merasakan kepalaku terkulai ke belakang. Seakan bagian paling ujung syarafku tersingkap, aku merasakan kelembapan kening Mas Ilham menyapu keningku.
"Eummmmmm...!" aku mendengar diriku sendiri menjerit saat gerakan spontan Mas Ilham melampaui kebutuhanku, menuju pelepasan yang begitu kuat sehingga aku mendengar jeritanku sendiri bergaung di seluruh ruangan.
Bukan. Tepatnya, di seluruh rumah, tidak diragukan lagi.
"Oh, Sayang...," bisiknya, ia mendesis keras. "Kamu milikku."
Mas Ilham melepaskan tangannya dari himpitan punggungku, ia jatuh sepenuhnya di atasku, memaksa bahuku terbenam ke dalam ranjang, dengan kasar mendesakkan dirinya berkali-kali sampai aku tak mampu berbuat apa-apa kecuali mengagungkan namanya. Sampai pada akhirnya, aku kembali meledak di dalam, meluap di sekitarnya, menariknya jauh ke dalam, ke dalam hati dan jiwaku.
"Oh, Zahra!" Mas Ilham berteriak. "Ya Tuhan...! Ssssh...," suaranya serak dan putus asa. Giginya terbelit di rambutku saat ia menggigit leherku. Pinggulnya menyentak di tubuhku tiga kali lagi, membuat kepala ranjang berderak menghantam dinding. Dia mencengkeramku lebih kencang, bergidik gemetar, mendorong, berdenyut di dalamku hinggga ia terkuras habis.
Setelahnya, untuk waktu yang lama, Mas Ilham memelukku. Meredam pernapasan hingga kembali stabil. Lalu, sambil tersenyum, perhatiannya tertuju ke arah bercak darah merah kehitaman di atas seprai, di sisi tubuh kami. Darah perawanku.
"Terima kasih atas kesucianmu yang terjaga, Zahra," ucapnya. "Terima kasih karena telah menjadikan aku lelaki yang beruntung. Aku sangat mencintaimu."
__ADS_1
Aku mengangguk dan bersyukur dalam hati bahwa ia menghargai kesucian yang kuserahkan kepadanya -- kepada dia yang berhak mendapatkannya.
Terima kasih karena sudah menghargai hal itu, Mas -- kesucianku, sekaligus kehormatanku. Aku juga sangat mencintaimu....