
"Ukh...!" sengal Mas Ilham seraya menekankan diri padaku kuat-kuat plus mendekap tubuhku erat-erat. "Trims, Sayang. Kamu terbaik," pujinya, kemudian ia melepaskan diri dariku lalu memandangiku dengan wajah cengengesan. "Senang deh aku punya istri penurut dan sangat berbakti seperti Zahraku ini. Manis dan cantik, pula. I Love you, Sayang."
Iyuuuh... gombaaaaal! Sebegitunya dia setelah hatinya disenangkan.
"Sana gih, ke kamar mandi. Biar aku yang goreng telur dadarnya," kata Mas Ilham kemudian masih dengan wajahnya yang cengengesan itu.
Aku pun mengambil jubahku yang tergeletak di lantai lalu cepat-cepat ke kamar mandi. Risi karena lengket. Kecuali kalau bercinta sebelum tidur, tidak masalah walau lengket selengket-lengketnya. Malah aku berharap, itulah yang akan menjadi benih cinta di antara kami.
Beberapa menit kemudian, setelah aku keluar dari kamar mandi, Mas Ilham sudah selesai menggoreng telur dadarnya, dia pun sudah mengambil nasi sepiring penuh, dalam porsi mustahil untuk dimakan oleh dirinya sendiri. Dan, aku tahu, itu berarti ia bermaksud mengajakku untuk sahur bersamanya.
Yeah, sesuai perkiraanku, ia pun mengajakku dengan cara halus: dengan bertanya yang sulit bagiku untuk mengatakan tidak.
"Kamu mau ikut sahur, kan, Sayang?" tanya Mas Ilham.
"Emm...," aku berpikir sejenak, lalu mengangguk, "ya," kataku.
"Mau puasa juga, kan? Puasanya karena Allah tapi, ya. Jangan karena tidak enak padaku." Dia tersenyum.
Halus, ya... halus sekali.
Tapi... nyatanya memang karena aku tidak enak pada Mas Ilham. Bukan. Bukan karena malu padanya. Melainkan, karena dalam pernikahan ini, aku sudah berjanji padanya untuk menjadi pribadi yang lebih baik, dan, menjadikan diriku sebagai ladang pahala untuknya. Tapi dalam hal meraih pahala-Nya, pasti -- tetap ikhlas lillahita'ala. Intinya begitu deh, ya.
"Iya, Mas, ikhlasnya karena Allah. Tapi dasarnya karena ajakan suami. Tidak masalah, kan?"
Mas Ilham tersenyum lagi -- dengan amat semringah. "Ya," katanya. "Semoga nanti lama-lama karena terbiasa, tanpa perlu diajak olehku."
Aku mengangguk. "Aamiin...."
"Sini, duduk dulu di pangkuanku. Aku mau mengobrol."
Aduuuuuh... dia kalau sudah seperti itu cara mengobrolnya, pasti serius. Pasti keluar semua dalil-dalil, dan, atau kalam-kalam cintanya. Kultum pagi ini, mah....
"Ada apa?" tanyaku pelan. Aku pun duduk di pangkuannya.
Mas Ilham menatapku -- teramat dalam sambil tersenyum manis, semanis teh melati yang ia seduh dan masih hangat di atas meja.
"Ada apa?" tanyaku lagi -- dengan takut.
Mas Ilham menunduk sejenak, meraih tanganku, lalu menciumnya. Setelah itu, ia menggenggam tanganku erat-erat, sementara satu tangannya lagi melingkar sempurna di pinggangku. "Aku mengerti," katanya. "Aku memahami kepribadianmu, bahkan aku menyanggupi untuk menjadi imam untukmu. Dengan menikahimu, berarti aku menerima segala apa pun yang ada pada dirimu. Tetapi, Sayang... Zahraku, istriku yang sangat kucintai, aku berkewajiban untuk merubah tabiatmu. Sekali lagi, ini kewajiban. Walau dengan perlahan, kewajiban itu tetaplah kewajiban. Sampai di sini kamu paham?"
__ADS_1
Aku mengangguk. Aku tahu ke mana arah pembicaraan ini.
"Ini aku bukan protes, ya... aku hanya ingin meluruskan, menjadikan istriku sebagai pribadi yang lebih baik -- sebaik-baiknya seorang muslimah. Jadi... tolong, meski di hatimu ada rasa takut, atau rasa curiga sekalipun yang tidak bisa kamu kendalikan, apalagi untuk kamu singkirkan, please, tetap jaga lisanmu dengan baik. Bertanyalah dengan cara yang baik, tanpa mesti bertanya dengan maksud menuding. Jika lawan bicaramu seseorang dengan tempramen yang kurang baik, nada dan caramu bertanya tadi bisa dianggap sebagai tuduhan, plus, sarat akan rasa curiga. Dan, itu bisa saja memancing keributan. Iya, kan? Mungkin tidak di dalam rumah tangga kita, karena kamu berhadapan denganku yang berusaha mengerti dirimu sepenuhnya. Tapi, kalau kamu berhadapan dengan orang lain? Bagaimana?"
Aku mengangguk lagi.
"Kamu paham, kan, Sayang?"
"Iya, Mas. Aku paham."
"Tidak tersinggung?"
"Tidak, kok. Memang aku yang salah."
"Bukan, kamu bukannya salah. Hanya caranya yang tidak tepat."
"Em, aku paham. Maaf, ya? Mudah-mudahan tidak akan kuulangi. Kecuali kalau aku keceplosan, ya. Tanpa sengaja. Hehe." Aku nyengir lebar.
Jangan protes... aku hanya manusia biasa, kawan. Bukan malaikat tanpa sayap.
"Aamiin. Alhamdulillah kalau begitu. Yuk, kita saling makan lagi?"
"Ampuuun, deh! Makan dulu...."
"Memangnya aku bilang apa tadi? Makan, kan?"
"Iya, tapi--"
"Jangan bantah aku, Sayang...."
"Iya, iya. Maaf."
"Ayo," katanya.
Dengan malas, aku pun bangkit dari pangkuannya, berdiri dan menunggu sesaat. Tetapi...
"Kenapa berdiri?" tanya Mas Ilham. "Katanya mau ikut sahur? Ayo, duduk."
Ya Tuhan... jahilnya punya suami. Dia sengaja mengerjaiku, dan sekarang malah terkekeh.
__ADS_1
"Jangan cemberut... nanti cepat keriput, lo. Sayang, kan, punya suami tampan tapi kamunya malah sudah keriput seperti nenek-nenek?"
Hmmmmm... kuhela napas dalam-dalam, mencoba mengatakan pada diri sendiri: betapa lucunya suamiku. Saking lucunya, pingin kujambak brewoknya.
"Ayo, buka mulut." Mas Ilham hendak menyuapiku begitu aku duduk di kursi di sebelahnya.
Aku menurut, membuka mulut dan menerima suapan itu. Yeah, meski hanya dengan telur dadar dan sambal instan, nikmat rasanya makan di keheningan waktu dini hari ini. Meski... rada khawatir sih aku. Aku tidak terbiasa puasa sunah. Puasa di awal ramadan saja biasanya lemas. Bagaimana dengan puasa sunah? Tidak bisa kupungkiri, betapa tipisnya imanku hingga takut dengan rasa lapar itu.
"Ehm, tadi kamu benaran curiga padaku, kan?"
Eh?
"Kamu mikir kalau aku macam-macam? Hmm?"
"Eng... nggak, kok. Aku...."
"Iya, kan? Jujur saja."
"Em, tapi tidak sepenuhnya seperti itu, Mas. Aku hanya... ya begitu, deh. Aku lihat kamu teleponan jam segini, di luar kamar lagi. Kan jadinya...."
Mas Ilham menggeleng-gelengkan kepala. "Parno? Gara-gara nasib temanmu kemarin? Mau waspada supaya tidak bernasib sama? Takut tertipu mentah-mentah olehku? Iya, Zahra?"
Aku mengangguk. Wajar, kan?
"Itu memang sifat alami manusia. Tetapi, terkadang, karena rasa paranoid itu juga, rumah tangga juga bisa hancur."
Yeah, aku tahu itu. Yang dikatakan oleh Mas Ilham itu benar. Tetapi, bagaimana, ya? Coba kutanya kalian, pernah tidak kalian merasa curiga dan waswas terhadap pasangan -- barang sekali saja selama kalian berumah tangga? Pernahkah kalian mengecek ponsel atau dompet suami kalian dengan diam-diam? Kalau pernah, kurasa seperti itulah sejatinya sifat asli seorang perempuan.
"Kepercayaan itu adalah pondasi utama dalam hubungan, meski unsur-unsur lainnya juga tidak kalah penting. Tapi, rusaknya kepercayaan, itu tidak akan membuatmu bahagia. Kamu akan selalu dihantui oleh rasa takut. Cobalah untuk selalu berprasangka baik. Kalaupun, naudzubillah, kepercayaanmu kukhianati, maka pergilah, Zahra. Jangan berusaha bertahan, sementara kamu sendiri tahu kalau rasa percayamu tidak akan pernah bisa kembali utuh. Itu akan menjadi hal yang sia-sia. Tapi memang benar, setiap orang berhak diberi kesempatan kedua, dan setiap orang berhak untuk memperbaiki kesalahan. Tapi... tergantung juga, siapa yang memberi kesempatan kedua itu. Kalau orangnya kamu, kurasa akan percuma." Mas Ilham terkekeh. "Niscaya, tidak akan ada lagi yang namanya keutuhan dalam rumah tangga itu kalau istrinya selalu paranoid."
Euw...! Nyindiiiiir... karena aku bukanlah seorang pemaaf, begitu? Yang bermusuhan dengan Abi selama belasan tahun?
"Aku janji aku akan merubah tabiatku. Tapi perlahan, ya?"
Mas Ilham mengangguk. "Terima kasih, Sayang," ucapnya seraya mengusap pipiku dengan buku jarinya. "Aku sangat mencintaimu."
"Em, ya, Mas." Aku mengangguk dan tersenyum manis. "Terima kasih untuk cinta tulus Mas Ilham. Tapi, omong-omong, lanjut makan, yuk? Kultumnya udahan, ya. Aku sudah kenyang kamu ceramahi. Hehe."
Peace... aku nyengir lebar. Maafkeun.
__ADS_1