
Untuk pertama kalinya malam itu kami langsung tidur tanpa bercinta terlebih dulu. Sebabnya perasaan Mas Ilham sedang terganggu, bahkan sepertinya dia jadi susah tidur dan bergerak-gerak gelisah di atas tempat tidur. Sedangkan aku, demi tidak mengusik perasaan Mas Ilham lebih dalam, akhirnya aku tidak mengatakan apa pun kecuali memintanya untuk diam dan memejamkan mata, sementara tanganku memeluk tubuhnya dengan solid. Entah dia bisa tidur atau tidak, tapi akhirnya dia pun diam dan tak lagi bergerak.
Beberapa jam setelahnya, di keheningan malam saat aku sudah terlelap, Mas Ilham terbangun, ia turun dari ranjang dan menunaikan salat malam. Sementara aku, aku terbangun beberapa saat kemudian, di saat Mas Ilham tengah termenung dengan tasbih di tangannya. Meski dalam cahaya temaram, aku bisa melihat bahwa ia tidak sedang khusuk dalam tasbihnya. Pikirannya sedang mengembara dalam suatu kepelikan yang menurutku aku bisa menebaknya.
"Mas?"
Ia agak kaget, lalu menoleh. "Ya, Sayang?" katanya. "Kamu terbangun?"
Tapi aku tidak menyahut, aku lebih memilih untuk turun dari ranjang dan berwudu, lalu ikut menunaikan salat malam. Setelahnya, selesai salat dan aku melepas lalu menyampirkan kembali mukenaku di tempatnya, aku pun menghampiri Mas Ilham yang sudah berpindah duduk di ujung tempat tidur.
__ADS_1
"Kamu sudah lama bangun?" tanyaku, lalu aku duduk di sampingnya.
Mas Ilham mengangguk. "Lumayan," katanya.
"Aku lihat, nampaknya kamu sedang memikirkan sesuatu yang berat. Kamu memikirkan...?"
Lagi. Dia mengangguk. "Yah," sahutnya, suaranya terdengar putus asa. "Mau tidak mau aku pun berpikir bahwa ini ada hubungannya dengan masa lalu. Dan kalau iya, berarti kamu dalam bahaya. Aku takutnya... teror ini akan berakhir dengan hal yang mengerikan, bukan sekadar fitnah. Aku mengkhawatirkanmu, Zahra."
Dengan gemetar, Mas Ilham menggenggam tanganku. "Aku akan selalu menjagamu. Aku janji. Tapi di saat aku tidak di dekatmu, berjanjilah kalau kamu tidak akan pernah sendirian. Termasuk saat kamu di sekolah, jangan ke mana-mana sebelum aku menjemputmu, dan kamu jangan menunggu di luar gerbang. Janji?"
__ADS_1
Aku tersenyum. Meski keadaan ini terasa begitu berat, tapi aku bahagia karena Mas Ilham sebegitu pedulinya terhadapku. "Aku janji, Mas. Jangan khawatir."
"Tidak bisa tidak khawatir, Zahra. Apalagi kamu sedang hamil. Ini bukan hanya sekadar keselamatanmu dari bahaya, tapi juga tentang psikismu. Aku takut ini akan mempengaruhi emosimu dan berdampak pada kandunganmu."
Aku tahu. Dan sesungguhnya, aku pun sama khawatirnya. Kutundukkan sejenak kepalaku kemudian berkata, "Aku berjanji, aku akan bisa mengendalikan diriku sendiri dan menjaga emosiku. Yah, walaupun kepribadianku ini tidak sebaik Mia, tapi aku pasti bisa sekuat dia. Seberat apa pun yang akan kuhadapi, aku janji, Mas, aku akan baik-baik saja. Aku tidak akan kehilangan kewarasanku selagi kamu selalu bersamaku." Lalu aku tersadar dan segera meralat kata-kataku. "Tidak begitu juga, sih. Ada atau tidak adanya kamu, aku akan berusaha bertahan untuk diriku sendiri, juga untuk anakku. Kan siapa tahu nanti kamu berubah kalau--"
"Hmm... apa?" tanyanya agak sewot. "Aku bukan lelaki bejat, Sayang. Aku tidak akan meninggalkanmu walau dalam keadaan apa pun. Apa pun yang terjadi."
Dan aku jadi terkikik. "Iya, iya, aku percaya," kataku. "Seperti dengannya dulu, kan? Kamu juga akan selalu bersamaku dalam keadaan apa pun."
__ADS_1
"Ya, Sayang. Pasti. Kita akan selalu bersama dalam keadaan apa pun."
Lalu dia memelukku. Tapi yang kuinginkan lebih dari sekadar berpelukan. Aku ingin yang lebih -- sesuatu yang bisa mengalihkan pikiran. Bercinta.