
Yeah, memang sempurna. Sama sempurnanya dengan kepercayaan Mas Ilham terhadapku. Sungguh tidak ada celahnya. Bahkan, ketika fitnah itu datang lagi di malam harinya, sepulang kami dari masjid, Mas Ilham sangat santai menanggapinya ketika ada seorang kurir rujak dengan merek ternama menunggu di depan rumah.
"Dengan Bu Salsabila?" katanya.
Dengan waspada aku mengangguk. Lalu sang kurir hendak menyerahkan pesanan makanan itu ke tanganku, praktis aku menoleh ke Mas Ilham hingga ia yang menerimanya. "Terima kasih, Mas," ucap Mas Ilham. "Ini tadi sudah dibayar, kan, ya?" tanyanya berpura-pura lupa dan seakan-akan dia sendiri yang memesan rujak itu.
Si kurir mengiyakan dan lekas meninggalkan pekarangan rumah kami. Di sisi lain, meski Mas Ilham setenang itu, perasaanku tetap saja jadi tak karuan.
"Kamu yang pesan, Leh?" tanya Umi.
Sekali lagi, Mas Ilham mesti berbohong demi menutupi sesuatu yang tidak beres yang berusaha memasuki dan mengacaukan bahtera rumah tangga kami. "Ya, Umi," sahut Mas Ilham.
"Jangan kebanyakan makannya, ya, Nduk. Nanti kamu sakit perut."
Sama, aku pun terpaksa ikut berperan dalam drama kebohongan itu. Kebohongan yang terpaksa diciptakan dan dilakoni oleh Mas Ilham.
Benar kata orang, sekalinya berbohong, akan ada banyak kebohongan lain yang tercipta demi menutupi kebohongan lainnya. Tapi kami seakan tidak punya pilihan. Demi menciptakan suasana yang tetap kondusif -- seakan semuanya baik-baik saja, dan supaya keluarga kami tidak perlu mengkhawatirkan keadaan rumah tangga kami yang tidak lepas dari gangguan, kebohongan itu alternatif yang tidak bisa kami hindari. Jadi ya sudahlah. Mau tidak mau, kami mesti berbohong lagi.
Biarlah hanya kami berdua yang tahu -- akan -- besar atau kecilnya badai yang datang menerpa cinta di antara kami.
__ADS_1
"Tolong pegang ini, Sayang," kata Mas Ilham seraya ia mengeluarkan secarik kertas surat di dalam paket delivery order itu dan bumbu rujaknya, lalu ia menyerahkan buah-buah yang sudah dipotong dan diwadahi plastik bening itu ke tanganku.
Kuperhatikan, Mas Ilham langsung menyimpan secarik kertas kecil itu ke saku baju kokonya, lalu ia membuka klip plastik bumbu rujak itu, dan...
Mas Ilham pura-pura tidak sengaja menjatuhkannya.
Ups!
Tumpah dan berceceran ke tanah.
"Kamu ini, Leh... mbok ya hati-hati...."
"Yo wis, Nduk. Nanti Umi bikinkan yang baru, ya."
"Eh? Tidak perlu, Umi. Biar nanti Bila bikin sendiri."
Umi mengangguk. Dan sedikit ada rasa tidak enak di hatiku. Lagi-lagi fitnah ini menciptakan drama baru. Tapi ya sudahlah. Kami pun segera masuk ke dalam rumah.
"Sayang?"
__ADS_1
"Emm?"
"Tunggu sebentar."
"Ada apa?"
Mas Ilham baru saja mengunci pintu, lalu berbalik. "Jangan lupa nanti buahnya dicuci sampai bersih dan se-steril mungkin. Kalau perlu cuci pakai air panas." Lalu ia berbisik, "Sebelum makan nanti jangan lupa baca bismillah. Jangan dicicip dulu sebelum aku yang duluan cicip. Paham?"
Aku mengangguk. Tapi di dalam hatiku masih ada penolakan. "Kenapa tidak langsung dibuang saja?"
"Jangan mubazir. Tidak enak juga kalau nanti Umi jadi curiga. Lagipula yang tadi itu benaran kurir kedai rujak itu, kok. Kurasa aman."
Hmm... kuhela napas dalam-dalam. "Ya, terserah kamu saja. Omong-omong, apa tulisan di kertas tadi? Boleh kulihat?"
Mas Ilham mengeluarkan kertas itu dari sakunya, lalu membacanya. Sambil tersenyum, dia menunjukkan tulisan itu kepadaku.
Sesuai yang kamu request tadi. Semoga si Dede tidak ileran, ya. Aku sayang kalian.
Hmm... masih saja berusaha menggoyahkan keyakinan Mas Ilham terhadapku. Sama sekali tidak akan mempan.
__ADS_1