
Setelah asar, Mas Ilham mengajakku ke perkebunan bunga untuk sekadar menikmati sore dengan bersantai di pondokan sambil menikmati segarnya kelapa hijau. Yap, sengaja. Dia khawatir kalau kami di dalam rumah terus, dia tidak akan bisa menahan diri untuk terus bermesraan denganku. Beda halnya kalau di luar rumah, dia mampu mengendalikan dirinya sendiri dari godaan syahwat yang saat ini begitu mudah menguasainya. Hanya dengan melihatku, keinginan untuk bercinta itu seketika menggebu. Seolah muncul pertanyaan di dalam benaknya: sudah halal, dan hanya berduaan. Jadi, untuk apa menahan diri?
"Menahan diri darimu itu sekarang sedang sulit-sulitnya," kata Mas Ilham.
Aku tersenyum, penuturannya yang jujur menggelitik hatiku. Aku pun setuju untuk menikmati sore dan menanti senja bersamanya di antara bunga-bunga yang indah, plus ditemani es kelapa muda. Tadi Mas Ilham sengaja menyisihkan beberapa butir kelapa hijau itu untuk kami berdua dan untuk beberapa orang pekerja kebun. Mas Ilham pun mengambil dua butir kelapa yang dirimbas kulitnya. Mas Ilham juga yang merimbas. Tangannya seperti telah terlatih. Dan, kelapa muda pun siap dinikmati, tak lupa ditambahkan es batu dan susu. Eum... yummi. Segar, say!
"Ehm, aku boleh tanya soal... kejadian tadi, Mas?" tanyaku.
Mas Ilham yang saat itu baru saja menyeruput daging kelapa muda yang begitu lembut mengangguk tanpa suara.
Aku pun berdeham lagi. "Tadi kamu... tidak diapa-apain, kan, di kantor polisi? Tidak sempat dijebloskan ke dalam sel?"
Hmm... dia malah menertawaiku. "Itu," katanya, "didikan sinetron, dijemput polisi, disuruh ganti baju tahanan, terus dikurung. Padahal ada proses-proses lain sebelum itu. Memangnya aku ngapain? Pengedar narkoba yang tertangkap basah dengan barang bukti? Atau maling yang terekam cctv?"
"Kepanjangan. Jawab saja tidak."
"Nah, itu kamu tahu."
"Maksudku tadi, sebelum kamu nyerocos panjang."
Dia hanya tersenyum, lalu menyeruput kembali es kelapa muda di hadapannya. "Imam melaporkan aku atas kasus penganiayaan. Mungkin dia pikir aku akan takut, atau tidak akan ada orang yang mau bersaksi kalau dia yang memulai perkara. Sedangkan aku, aku hanya mempertahankan hakku dan kehormatan istriku. Lagipula, tadi ada Kang Ridwan yang membantuku."
"Kang Ridwan siapa?" tanyaku.
Mas Ilham agak berpikir sejenak. "Kang Ridwan itu kalau dari hubungan darah, dia bukan siapa-siapa. Tapi kalau dari hubungan keluarga, bisa dianggap keluarga. Begini, ya, kujelaskan. Mas Muslim, dia punya adik perempuan. Namanya Aisyah. Aisyah itu punya suami. Suaminya punya adik perempuan juga. Si... Medina kalau tidak salah namanya. Nah, suami Medina ini yang lawyer. Kang Ridwan itu."
Aku manggut-manggut. "Lumayan jauh, ya, hubungannya. Dari ipar ke ipar."
__ADS_1
"Iya, tapi kita semua saling mengenal. Yang kemarin datang ke acara pernikahan kita itu, itu hitungannya rata-rata orang dalam. Nanti kukenalkan, ya. Setiap tahun itu ada open house yang digelar pada hari lebaran ke tiga. Semua kerabat dan sanak saudara berkumpul pada hari itu. Dan aku senang, tahun ini aku tidak lagi datang sebagai seorang single."
Mas Ilham tersenyum. Dia tidak bertanya kepadaku apakah aku mau ikut ataukah tidak. Dia mengajakku dan seakan itu wajib bagiku untuk ikut tanpa protes dan tanpa penolakan.
"Harus, ya, datang ke acara itu?" tanyaku takut-takut.
Mas Ilham mengangguk. "Bukan acaranya yang wajib, tapi menjaga tali silaturrahim antara keluarga dan sanak saudara, itu yang wajib. Itu agenda tahunan. Hanya sekali dalam setahun, dan pastinya sangat sayang untuk dilewatkan."
"Tapi menjaga tali silaturrahim tidak mesti dengan menghadiri acara kumpul-kumpul semacam itu, kan?"
Lagi, Mas Ilham menganguk. "Ya, benar. Tapi dalam acara itu kita tidak hanya bertemu dengan satu atau dua orang. Tapi ratusan. Lebih istimewa, bukan? Hanya dalam satu hari, tapi kita bisa bertemu dan mengakrabkan diri dengan ratusan orang. Di hari-hari biasa belum tentu kita bisa bertemu mengingat semua orang punya kesibukannya masing-masing. Apalagi mesti mengunjungi dari rumah ke rumah, bukankah itu akan lebih repot?"
"Iya, sih. Tapi... bukankah acara yang seperti itu lebih banyak mudharatnya?"
"Itu tergantung bagaimana kita membawa diri dan menyikapinya, Sayang."
Mas Ilham tersenyum, lalu menggenggam tanganku dengan lembut. "Yang penting Zahraku sama sekali tidak begitu. Zahraku tidak suka menggosip dan bukan tukang pamer. Hmm?"
Aku mengangguk, dan menunduk lesu.
"Aku tahu kamu pribadi yang tertutup, penyendiri, dan tidak suka bergaul. Tapi sudah menjadi kewajibanmu untuk mengikuti perintah suami selagi itu bukan untuk mendustakan Allah. Paham, Sayang?"
Aku mengangguk, aku tahu yang dikatakan Mas Ilham itu benar. Tetapi, berat rasanya untuk melakukan sesuatu yang bukan kebiasaan dalam hidupku selama ini.
"Sayang, kamu tahu, kan, kalau istri itu pakaian bagi suaminya? Jadi... kamu adalah pakaianku, perisai yang melindungiku dari godaan syahwat di luar sana. Sementara aku seorang muslim yang wajib menjalani fitrahku sebagai manusia, termasuk dalam menjalin dan menjaga tali silaturrahim sebagai sesama manusia, khususnya sesama muslim. Dan aku tahu, Zahraku perempuan cerdas untuk mengerti apa yang kusampaikan ini. Iya, kan?"
Ehm, halus bagaikan palu godam yang menohok hatiku. Kuhela napas dalam-dalam, kemudian kembali mengangguk.
__ADS_1
"Zahra?"
"Emm? Oh, ya. Ya, aku mengerti, Mas."
"Aku tahu."
"Em." Kusunggingkan senyum terbaik untuknya. "Inshaallah," kataku, "aku akan menjalankan kewajibanku sebagai istri yang baik untuk Mas Ilham."
Mas Ilham mengucap hamdalah, lalu balas tersenyum. "Masih mau mendengar kalam-kalam cintaku, Zahra? Atau mau melambaikan tangan ke kamera?"
Euw... senyum manis itu membuatku tak bisa menolak dan balas tersenyum kepadanya. "Iya, aku akan senantiasa mendengarkan kalam-kalam cintamu. Monggo."
Kusedot air kelapa mudaku yang sudah berkurang setengah ketika Mas Ilham berkata, "Aku ingin Zahraku menjadi pribadi yang tidak menutup diri dari hal-hal yang baik. Yang bersedia menjalin silaturrahim dengan semua keluarga dan sanak saudara kita, baik dari pihakku, atau dari pihakmu sendiri. Dan aku ingin Zahraku menjalankan fitrahnya sebagai seorang muslimah -- menjaga silaturrahim itu dan bukan memutusnya."
Deg!
Tiba-tiba perkataan Mas Ilham membuatku ngeri: apakah yang dia maksud itu keluarga kedua Abi? Tentang ibu tiri dan adik-adik tiriku yang tidak pernah sudi kutemui karena kehadiran mereka seperti air garam yang membuat lukaku semakin perih? Luka yang tak akan pernah sembuh.
Tapi ternyata tidak. Kurasa Mas Ilham mengerti benar akan hal itu. Selama aku tidak merugikan siapa pun dengan tidak mau bertemu dengan mereka, kenapa mesti memaksa? Bukankah lebih baik begini? Hatiku tidak akan semakin sakit dengan tidak adanya pertemuan itu. Justru jika aku bertemu mereka, hatiku akan terasa sangat sakit, dan itu bisa memicu sumpah serapah yang khawatir akan sulit kukendalikan.
Seraya mengontrol diri, aku bertanya, "Maksudnya apa, Mas?"
"Aku ingin kamu terbuka kepada lingkungan, Zahra. Seperti ikan yang berenang-renang di air laut. Membaur, tetapi jangan lebur. Seperti ikan yang hidup di air yang asin, bernapas dengan air asin, namun belahlah tubuhnya, ia tetap memiliki rasa yang tawar. Maka bergaullah. Aku ingin Zahraku menjalankan fitrahnya sebagai seorang muslimah. Menjadi pribadi yang terbuka. Bergaul dengan sesama, terutama saudari-saudarimu yang seiman. Percayalah, di saat nanti kita menghadapi masalah, akan ada banyak pihak yang menemani dan membantu kita melewati badai. Niscaya, kamu tidak akan pernah merasa sendirian lagi."
Aku pun mengangguk. "Inshaallah, Mas," kataku. "Aku akan ikut ke mana pun kamu mengajakku. Aku akan belajar berbaur seperti yang kamu mau."
Tiba-tiba saja seluruh beban di jiwaku menguap. Menguap entah ke mana. Seperti daun-daun kering yang luruh. Dia benar-benar Ilham dari Tuhan untukku, teman hidup yang menuntunku dalam kedamaian, ia merangkulku dan membimbingku menjadi Zahra dengan kepribadianku yang lebih baik.
__ADS_1
Terima kasih, ya Allah. Engkau telah mengirimkan suami sebaik dia untukku.