
Tuhan tidak akan memberikan ujian melebihi batas kemampuan hambanya.
Sering aku mendengar kalimat itu. Tapi dari dulu aku juga jadi sering bertanya, jika memang demikian, kenapa ada orang yang sampai depresi? Bahkan gila hingga perlu dirawat di rumah sakit jiwa? Misalnya seorang gadis yang mengalami pemerkosaan, atau seorang ibu yang anaknya tewas karena pembunuhan, atau seorang wanita yang diselingkuhi oleh kekasihnya, bahkan anak-anak yang tumbuh besar dalam keluarga broken home dan berakhir dengan perilakunya yang menyimpang? Bukankah itu beararti mereka tidak mampu melewati ujian yang menimpa mereka? Iya, kan? Lalu, bagaimana batas kemampuan yang dimaksud?
Benarkah Tuhan sendiri yang berfirman bahwa ia tidak akan menguji hambanya melebihi batas kemampuan hambanya itu? Ataukah itu hanya sebatas "bualan" umat manusia untuk menghibur manusia lainnya yang sedang dirundung masalah? Kepada mereka yang tertimpa musibah? Coba pikirkan.
Sebab kenyataan inilah aku tidak pernah mengucapkan kepada siapa pun kalimat penghibur itu. Sebab, kau tidak akan pernah tahu sebatas mana kekuatan seseorang. Cukup kuatkan saja ia tanpa mesti mengucapkan kalimat itu. Supaya nanti kalau-kalau dia gagal kuat, tidak ada yang menyalahkanmu dan menyebutmu berbohong karena ternyata Tuhan mengujinya melebihi batas kemampuannya.
Miris, bukan?
__ADS_1
Dan aku juga tidak ingin mendengar kalimat itu di saat aku sendiri yang tertimpa kemalangan: ketika aku kehilangan calon anakku. Aku keguguran.
Sedih. Bahkan sangat sedih. Malang yang bukan kepalang. Benar-benar berat ujian yang menimpaku itu. Bahkan, aku juga nyaris kehilangan nyawaku.
Yah, seperti yang kutakutkan: buntut dari fitnah yang tak pernah berhasil memutuskan cinta di antara aku dan Mas Ilham, akhirnya membuat si penjahat itu sampai kalap. Api cemburu membutakan mata hatinya hingga tega menargetkan nyawa kami sebagai akhir dari pelampiasan cintanya yang tak terbalas.
Kejadian malang itu terjadi pada suatu sore, hanya tiga hari sebelum hari lebaran. Karena aku tidak pernah sendirian, bahkan selain di sekolah, aku dan Mas Ilham tidak pernah terpisah, akhirnya Mas Ilham pun ikut celaka bersamaku. Waktu itu kami tengah menyusuri jalan di bawah langit sore, sekadar untuk membeli jajanan untuk berbuka puasa. Namun, sebelum sampai ke tempat tujuan, kami berhenti sejenak di pinggir jalan untuk membeli kembang tahu. Sayang malang datang tanpa memberitahu, aku bahkan belum sempat turun dari sepeda motor, tiba-tiba...
Sebuah mobil berkecepatan tinggi menghantam kami dari arah belakang. Aku terpental jauh, pun Mas Ilham, berikut gerobak si pedagang kembang tahu yang ikut rusak parah terkena hantaman sepeda motor Mas Ilham yang terlempar ke arahnya. Beserta Mas Ilham sendiri, yang juga terlempar sejauh sepeda motornya.
__ADS_1
"Zahra... Zahra...."
Masih dapat kudengar suara serak Mas Ilham ketika ia memanggilku. Di depan mataku, dengan luka parahnya, ia menyeret tubuhnya untuk mencapaiku.
Tapi aku sudah tidak berdaya, bahkan hanya untuk mengeluarkan suara. Kondisiku melemah. Sangat lemah. Bahkan kurasa, hari itu aku akan segera mati.
Yah, sedih memang. Sungguh peristiwa tragis dan mengerikan. Apa kau pernah menonton adegan kecelakaan di dalam film In Between? Kengerian yang terjadi dalam peristiwa yang kami alami ini kurang lebih seperti adegan kecelakaan kedua tokoh utama di film itu. Namun dalam ceritaku ini: kedua tokoh utamanya selamat. Tapi tidak dengan janinku. Aku kehilangannya.
Demi Tuhan, rasa sakitku berkali-kali lipat, tidak hanya di sekujur tubuhku, tapi di dalam hati -- jauuuuuh lebih sakit. Dalam kondisi yang megap-megap, ketakutan pun menyergap, perutku sakit, aku bisa merasakan cairan darah yang keluar dari setiap luka yang kualami. Dan yang membuatku paling sakit -- tidak sekadar fisikku, tapi juga hatiku, saat aku merasakan cairan hangat melewati *elangkanganku. Seakan-akan aku tahu apa yang akan terjadi, namun harapan itu tak ingin lepas dari diriku. Sekecil apa pun kemungkinannya, aku berharap janinku selamat.
__ADS_1
Namun harapan itu hanyalah sekadar harapan -- angan yang kosong. Karena... entah kenapa, dalam detik-detik di ujung kesadaranku, aku tahu, nyawa kecil itu sudah pergi meninggalkanku. Dan... aku ingin ikut bersamanya. Bersama anakku.